Travel Information :

Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts

Keraton Yogyakarta Hadiningrat : Menapaki Kearifan Budaya Yogyakarta

Keraton Yogyakarta Hadiningrat - TravelEsia - Keraton Yogyakarta Hadiningrat merupakan pembahasan TravelEsia Magazine Kali Ini.Sahabat TravelEsia Keraton Yogyakarta Hadiningrat merupakan kebudayaan lokal yang masih di jaga dan terus akan di jaga sebagai peninggalan sejarah dan kebudayaan indonesia yang menjadi salah satu dari sekian banyak kebudayaan indonesia yang masih terjaga ke arifannya.

Keraton Yogyakarta Hadiningrat

Keraton Yogyakarta Hadiningrat

Yang disebut Kraton  Yogya adalah tempat bersemayam ratu-ratu, berasal dari kata : ka + ratu + an = kraton. Juga disebut kadaton, yaitu ke + datu + an = kedaton, tempat datu-datu atau ratu-ratu. Bahasa Indonesianya adalah istana, jadi Keraton Yogyakarta Hadiningrat adalah sebuah istana, tetapi istana bukanlah kraton. Kraton ialah sebuah istana yang mengandung arti keagamaan, arti filsafat dan arti kulturil (kebudayaan).

Dan sesungguhnya Keraton Yogyakarta Hadiningrat penuh dengan arti-arti tersebut diatas. Arsitektur bangunan-bangunannya, letak bangsal-bangsalnya, ukiran-ukirannya, hiasannya, sampai pada warna gedung-gedungnyapun mempunyai arti. Pohon-pohon yang ditanam di dalamnya bukan sembarangan pohon. Semua yang terdapat disini seakan-akan memberi nasehat kepada kita untuk cinta dan menyerahkan diri kita kepada Tuhan yang Maha Esa, berlaku sederhana dan tekun, berhati-hati dalam tingkah laku kita sehari-hari dan lain-lain. 

Komplek Keraton Yogyakarta Hadiningrat terletak di tengah-tengah, tetapi daerah kraton membentang antara Sungai Code dan Sungai Winanga, dari utara ke selatan adalah dari Tugu sampai Krapyak. Namun kampung-kampung jelas memberi bukti kepada kita bahwa ada hubungannya antara penduduk kampung itu dengan tugasnya di kraton pada waktu dahulu, misalnya Gandekan = tempat tinggal gandek-gandek (kurir) dari Sri Sultan, Wirobrajan tempat tinggal prajurit kraton wirobrojo, Pasindenan tempat tinggal pasinden-pasinden (penyanyi-penyanyi) kraton.

Mengapa Anda Harus Kesana..??

Keraton Yogyakarta Hadiningrat
Keraton Yogyakarta Hadiningrat adalah sebuah kompleks besar yang dirancang dengan teliti sebagai cerminan kosmologi Jawa. Inilah contoh arsitektur tradisional Jawa yang tidak ada bandingannya. Dirancang dan dibangun secara bertahap hingga selesai tahun 1790.

Paviliun Kompleks Keraton Yogyakarta Hadiningrat dibangun menurut kepercayaan kuno dan masing-masing fitur kompleks seperti halaman hingga pohon memiliki arti simbolis khusus berkaitan dengan filsafat Jawa yang kompleks.

Keraton Yogyakarta Hadiningrat ini dibangun menghadap langsung ke arah utara Gunung Merapi. Di bagian Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia yang diyakini sebagai tempat tinggal Nyi Loro Kidul, Ratu Laut Selatan dan dianggap sebagai permaisuri mistis sultan. Jalan Malioboro awalnya digunakan sebagai rute upacara dan membentuk sebuah garis lurus yang ditarik dari istana ke Gunung Merapi.

Sebuah alun-alun menghadap istana dengan pohon beringin besar di tengahnya, sementara di belakang istana juga terdapat alun-alun serupa. Ketika sultan meninggal, maka akan diadakan arak-arakan mulai dari gerbang selatan menuju makam para raja di Imogiri.

Istana ini dirancang lebih dari sekedar tempat tinggal kerajaan tetapi juga untuk menjadi titik pusat dari kegiatan sultan. Saat ini, Keraton adalah bagian dari sejarah hidup dan tradisi masyarakat Jawa. Digunakan  selain sebagai rumah sultan juga untuk acara kebudayaan dan upacara penting Keraton Yogya.

Keraton Yogyakarta Hadiningrat
Sultan Hamengkubuwono X tetap menjadi penguasa dan pemilik gelar Sultan Yogya meskipun Yogya telah menjadi salah satu provinsi yang istimewa dalam Republik Indonesia. Sultan Yogya juga sekaligus merupakan gubernur provinsi Yogyakarta. Hingga kini sultan masih dianggap sebagai kepala budaya di Yogyakarta dan sangat dicintai oleh rakyatnya.

Meski dengan modernisasi yang dialami Yogyakarta namun Keraton Yogya tetap dihormati masyarakatnya yang mendalami mistisisme dan ilmu filsafat. Sore hari setelah keraton tertutup bagi pengunjung, para wanita dengan kostum tradisional Jawa terlihat sedang menyiram air dan bunga di pilar-pilar keraton dan menyalakan dupa untuk "membersihkan" keraton dari roh jahat.

Tidak Hanya Itu,Di sini Anda dapat berjalan-jalan di sekitar istana dan menelusuri setiap detail kecil di kompleks kerajaan. Saat Anda memasuki istana maka Anda akan menapakkan kaki ke tempat yang sejuk dan tenang, tempat yang jauh dari terlepas dari panas, keramaian, dan hirup pikuk dunia luar. Menikmati suasana damai sambil berjalan-jalan di sekitar istana.

http://4.bp.blogspot.com/-_I3pDWJ5u28/UuFVbEBE8YI/AAAAAAAAFHM/EbRofGJgLWI/s1600/jogja9.gifDi pintu masuk utama, Anda akan melihat sebuah penghalang besar atau baturana yang dirancang untuk mencegah roh jahat masuk. Hal ini diyakini bahwa roh jahat sulit untuk berbelok ke sudut dan lebih memilih untuk berjalan lurus.

Saat Anda pertama kali mendekati istana maka berjalan melalui sebuah paviliun atau pagelaran tempat kementerian sultan dan pasukannya berkumpul. Saat ini ruangan ini digunakan untuk pertunjukan musik dan teater pada acara-acara khusus seperti ulang tahun sultan.

Di belakang paviliun pertama terdapat Siti Hinggil atau 'Tanah yang dipertinggi’ untuk  penobatan raja. Anda dapat membayangkan langsung bagaimana kehidupan seorang calon sultan saat berdiri di sini dengan cemas menunggu untuk dinobatkan.

Sebagian besar paviliun atau "pendopo" adalah bangunan dengan ruang udara terbuka sampingnya, dihiasi oleh pilar-pilar berukir hiasan indah.

Keraton Yogyakarta Hadiningrat
Salah satu bangunan yang paling mengesankan di sini adalah Bangsal Kencono adalah 'paviliun bertahtakan emas'. Bangunan megah ini merupakan contoh kesenian Jawa yang mencerminkan keragaman agama dan budaya daerah. Atap paviliun yang dihiasi dengan pola Hindu merah, dengan kelopak teratai Budha berwarna emas di dasarnya, sedangkan pilar didekorasi dengan kaligrafi Arab hijau dan emas mengutip ayat dari Quran.

Pada sisi selatan dan timur halaman terdapat serangkaian kamar serba guna. Salah satu kamar-kamar ini digunakan untuk mempersiapkan teh untuk sultan setiap hari. Jika Anda beruntung mungkin Anda dapat melihat prosesi pagi hari saat para pelayan wanita setengah baya berjalan membawa teh di bawah payung kerajaan.

Paviliun lain digunakan sebagai pengadilan, di mana persidangan diselenggarakan.

Di mana-mana Anda akan melihat laki-laki dan perempuan mengenakan kostum tradisional sedang berjalan-jalan dan duduk yang merupakan rombongan pengadilan dan penjaga. Anda tidak akan menemukan penjaga militer di sini, karena Keraton diyakini dilindungi oleh kekuatan makhluk halus.

Sebelum Anda pergi, lihatlah kereta kerajaan yang dipajang di kandang Rotowijayan. Hiasan indah pada kereta ini adalah hadiah dari Belanda. Beberapa kereta memiliki fungsi khusus seperti Kyai Rotopraloyo sebagai kereta khusus untuk membawa peti mati sultan ke pemakaman kerajaan.

Akses masuk ke rumah untuk Sultan dan keluarganya adalah melalui pintu masuk yang terpisah, jauh dari pintu gerbang pengunjung.

Bagaimana Cara Saya Kesana ?

Keraton Yogyakarta Hadiningrat terletak di pusat kota Yogyakarta dan dapat dijangkau dengan mudah oleh taksi, becak, andong, ataupun bus.

Bagaimana Dengan Sejarahnya..??

Versi 1

Keraton Yogyakarta Hadiningrat pada awalnya merupakan sebuah pesanggrahan yang bernama "Pesanggrahan Garjitwati". Ini adalah sebuah tempat pesanggrahan kuno untuk peristirahatan pada saat iring-iringan yang membawa jenazah raja-raja Mataram.

Versi 2

Awal mula Keraton Yogyakarta Hadiningrat adalah sebuah mata air yang bernama "Umbul Pacethokan" yang terletak di hutan Beringan. Setelah Perjanjian Giyanti 1755, Sultan Hamenku Buwono I yang sebelumnya mendiami Pesanggrahan Ambar Ketawang membangun sebuah keraton di Umbul pacethokan sebagai pusat pemerintahan.

Sejarah Awal Keraton (Kerajaan Mataram) 

Keraton Yogyakarta Hadiningrat
Mataram didirikan oleh Ki Ageng Pamanahan. Tanah kekuasaan tersebut diberikan oleh Sultan Pajang pada tahun 1558 Masehi setelah Ki Ajeng Pamanahan berhasil mengalahkan musuhnya yaitu Aryo Penangsang.
Sebuah keraton di daerah Kota Gede dibangun pada tahun 1577 oleh Ki Ageng Pamanahan sebagai pusat pemerintahan hingga akhirnya beliau mangkat pada tahun 1584 sebagai pengikut Sultan Pajang.

Setelah Ki Ageng wafat, kekuasaan Mataram diteruskan oleh putera dai Ki Ageng Pamanahan yaitu Sutawijaya. Ternyata pengangkatan Sutawijaya sebagai penguasa baru Mataram adalah hal yang sangat fatal karena dia tidak mau tunduk kepada Sultan Pajang. Sutawijaya berniat menghancurkan Kasultanan Pajang untuk memperluas wilayah kekuasaan Mataram.

Akhirnya Sultan Pajang mengetahui niat tersebut dan memutuskan menyerang Mataram pada tahun 1587. Namun tak dapat disangka, pasukan Sultan Pajang yang berupaya menyerang Mataram ini terkena dampak letusan Gunung Merapi yang begitu besar pada saat itu, dan akhirnya menghancurkan seluruh pasukan Kesultanan Pajang. Berkat kejadian yang tidak diduga tersebut Sutawijaya & pasukan Mataram dapat selamat.

Satu tahun setelahnya, Mataram menjadi sebuah kerajaan & Sutawijaya menasbihkan dirinya sebagai Raja Mataram dengan gelar Panembahan Senopati, Senapati Ingalaga Sayidin Panatagama yang berarti Panglima Perang & Ulama Pengatur Kehidupan Beragama. Mulai saat itu Kerajaan Mataram berkembang pesat menjadi sebuah kerajaan yang besar & menjadi penguasa Pulau Jawa yang besar dan disegani.

Setelah mangkatnya Panembahan Senopati pada tahun 1601 Raja Mataram selanjutnya digantikan oleh  puteranya yang bernama Mas Jolang dikenal juga dengan gelar Panembahan Seda ing Krapyak. Setelah wafatnya pada tahun 1613, Mas Jolang digantikan lagi oleh anaknya yaitu Pangeran Arya Martapura & dilanjutkan oleh kakaknya yakni Raden Mas Rangsang yang juga lebih dikenal sebagai Prabu Pandita Hanyakrakusuma, dan bergelar Sultan Agung Senapati Ingalaga Abdurrahman.

Pada masa Kekuasaan Raden Mas Rangsang atau Sultan Agung inilah kerajaan Mataram berada pada puncak kejayaannya & berkembang dengan sangat pesat disegala bidang. Kerajaan Mataram semakin kuat dan makmur sampai akhirnya Sultan Agung dan digantikan oleh puteranya yaitu Amangkurat I pada tahun 1645.

JAM BUKA

Setiap hari mulai pukul 08.30 -13.00 WIB, kecuali hari Jum’at Kraton hanya buka sampai dengan pukul; 11.00 WIB

TIKET MASUK

Dewasa : Rp 2.000,00
+ Rp 1.000,00 (jika ingin memotre)
+ Rp 2.000,00 (jika ingin merekam)

FASILITAS :

- Alun-alun Utara dan Selatan
- Siti Hinggil
- Sasono Hinggil
- Gedong Jene
- Masjid Agung
- Bangsal Sri Manganti
- Bangsal Trajumas
- Bangsal Proboyeksa
- Bangsal Kencana
- Museum Kereta
- Museum HB. IX
- Museum Lukis
- Museum Kristal
- Museum Cangkir
- Seni Pertunjukan
- Perpustakaan/ Widya Budaya,dll
- Cenderamata/ Oleh-oleh Khas Jogja

KEGIATAN

• Pertunjukan Gamelan pada hari senin dan selasa pukul 10.00-12.00 WIB
• Pertunjukan Wayang Kulit pada hari sabtu pukul 09.00-13.00 WIB
• Pertunjukan Tarian pada hari minggu dan kamis pukul 19.00-12.00 WIB
• Pembacaan Puisi pada hari jum’at pukul 10.00-11.30 WIB
• Pertunjukan Wayang Golek pada hari rabu pukul 09.00-12.00 WIB

Know Before You Go...!!!!

  • -Jangan melakukan sesuatu yang tidak lazim ketika berada dalam area Kraton.
  • Jangan buang sampah sembarangan.
  • Dari Kraton Yogyakarta anda dapat meneruskan perjalanan wisata anda menuju Museum kereta, Taman Sari, Pasar burung Ngasem dll yang hanya berjarak sekitar satu kilometer (10 menit) dari Kraton.
  • Jika anda kecapekan, pergunakan jasa angkutan becak. 
Bagaimana Sahabat TravelEsia Apakah Anda tertarik Untuk Menapaki Kearifan Budaya Yogyakarta,Jika Anda Berkunjung ke Yogyakarta Sempatkanlah untuk mengunjungi Keraton Yogyakarta Hadiningrat sebagai destinasi wisata anda,Mari Kita Dukung Indonesia Untuk Menjadi Destinasi Wisata Dunia.
,


Museum Dirgantara : Mengenang Kembali Kejayaan Armada Langit Nusantara

Museum Dirgantara - Yogyakarta - Museum Dirgantara adalah salah satu museum di nusantara yang menyimpan beraneka ragam keunikan dan kenangan mengenai kejayaan armada langit di indonesia.Keberadaan Museum TNI AU atau lebih akrab di dengar dengan sebutan Museum Dirgantara didirikan atas gagasan dari pimpinan TNI AU untuk mengabadikan dan mendokumentasi segala kegiatan dan peristiwa bersejarah di lingkungan TNI AU. Museum ini diresmikan tanggal 4 April 1969 di Jalan Tanah Abang, Bukit, Jakarta oleh Panglima Angkatan Udara Laksamana Udara Rusmin Muryadin
museum dirgantara

Museum Dirgantara

Atau juga disebut dengan Museum Pusat TNI AU “Dirgantara Mandala”  merupakan salah satu museum yang memamerkan banyak jenis pesawat, baik sejak zaman penjajahan Belanda dan juga setelah kemerdekaan negara Indonesia.

Dengan melihat sejarah, maka hal ini dapat membuat kita semakin memahami perjuangan para pejuang bangsa untuk bisa mendapatkan kebebasan dari belenggu penjajahan yang pernah dilakukan oleh Belanda dan Jepang.Kali Ini TravelEsia Ingin mengajak anda semua untuk Mengenang Kembali Kejayaan Armada Langit Nusantara melalui museum dirgantara mandala

Mengapa Saya Harus Kesana ?

museum dirgantara
Museum Dirgantara Mandala  adalah museum terbesar dan terlengkap mengenai sejarah keberadaan TNI-AU di Indonesia. Museum Dirgantara Lokasi museum sendiri berada di atas area seluas + 5 hektar, dengan luas bangunan sekitar 7.600 m2. Sebelum berlokasi di daerah Wonocatur, Yogyakarta, Museum Pusat TNI-AU berada di Markas Komando Udara V, di Jalan Tanah Abang Bukit Jakarta. Museum tersebut diresmikan oleh Panglima Angkatan Udara Laksamana Roesmin Noerjadin, pada tanggal 4 April 1969.

Koleksi Museum Dirgantara Mandala memamerkan benda-benda koleksi sejarah, antara lain koleksi meliputi beragam foto, panji-panji, diorama, pakaian dinas, pesawat terbang, senjata, prasasti, patung, lukisan, tanda kehormatan serta koleksi buku. Pesawat yang menjadi koleksi museum ini diantaranya adalah pesawat terbang dari bahan aluminium hasil produksi pertama yang dibuat tahun 1948 di Maospati, Madiun oleh Nurtanio dan replika Pesawat Dakota VT-CLA milik perusahaan penerbangan India yang ditembak jatuh di daerah Ngotho, Bantul oleh Belanda ketika hendak mendarat di Maguwo Yogyakarta. kemerdekaan sampai saat ini. Selain itu bisa dilihat pula diorama dari satelit Palapa dan kapal ruang angkasa Challenger, yang mengorbitkan satelit tersebut. 

museum dirgantara
Mengunjungi Museum Dirgantara, wisatawan akan disambut oleh beberapa pesawat tempur dan pesawat angkut yang dipajang di halaman museum. Salah satu koleksi terbaru museum ini adalah pesawat tempur tipe A4-E Skyhawk yang dipajang di muka gedung museum. Hingga tahun 2003, TNI-AU telah mengoperasikan sebanyak 37 pesawat A4-E Skyhawk, sebelum akhirnya beberapa pesawat digantikan oleh pesawat Sukhoi tipe Su-27SK dan Su-30MK.

Memasuki gedung museum, pengunjung akan disambut oleh patung empat tokoh perintis TNI-AU, yaitu Marsekal Muda Anumerta Agustinus Adisutjipto, Marsekal Muda Anumerta Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, Marsekal Muda Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma, dan Marsekal Muda Anumerta Iswahjudi. Para perintis TNI-AU ini telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional, dan diabadikan menjadi nama bandar udara di berbagai kota di tanah air.

Pada ruangan selanjutnya, pengunjung akan dikenalkan pada sejarah awal pembentukan angkatan udara di Indonesia. Di Ruang Kronologi I ini, Anda dapat melihat foto dan informasi yang berhubungan dengan pembentukan angkatan udara indonesia, semisal ‘Penerbangan Pertama Pesawat Merah Putih‘ pada 27 Oktober 1945 yang melakukan misi pembalasan atas serangan Belanda, berdirinya ‘Sekolah Penerbangan Pertama di Maguwo‘ pada 7 November 1945 yang dipimpin oleh A. Adisutjipto, berdirinya Tentara Rakyat Indonesia (TRI) Angkatan Udara pada 9 April 1946, serta berbagai perlawanan udara untuk melawan agresi militer Belanda lainnya. 

Museum Dirgantara
Di ruangan ini juga dipamerkan berbagai peralatan radio dan foto penumpasan berbagai pemberontakan di tanah air, seperti pemberontakan DI/TII, Penumpasan G 30 S/PKI, serta Operasi Seroja. Pada ruangan selanjutnya, dipajang berbagai jenis pakaian dinas yang biasa digunakan oleh para personel TNI-AU, meliputi pakaian tempur, pakaian dinas sehari-hari, hingga pakaian untuk tugas penerbangan.

Ruangan yang akan membuat Anda berdecak kagum adalah Ruangan Alutsista atau Alat Utama Sistem Senjata yang pernah digunakan oleh TNI-AU. Alutsista ini meliputi pesawat tempur dan pesawat angkut, model mesin-mesin pesawat, radar pemantau wilayah udara, serta senjata jarak jauh seperti rudal. Koleksi pesawat di ruangan ini mencapai puluhan, mulai dari pesawat buatan Amerika, Eropa, hingga buatan dalam negeri. 

Salah satu pesawat pemburu taktis yang cukup terkenal adalah pesawat P-51 Mustang buatan Amerika Serikat. Dalam sejarahnya, pesawat ini telah digunakan dalam berbagai operasi menjaga keutuhan negara, terutama dalam penumpasan pemberontakan DI/TII, Permesta, dan G 30 S/PKI, serta ikut andil dalam Operasi Trikora dan Operasi Dwikora. Pesawat lainnya yang tak kalah menarik adalah pesawat buatan Inggris, namanya Vampire tipe DH-115. Pesawat ini merupakan pesawat jet pertama yang diterbangkan di Indonesia pada tahun 1956 oleh Letnan Udara I Leo Wattimena.

Koleksi lainnya yang sangat penting dalam sejarah TNI-AU adalah replika pesawat C-47 Dakota dengan nomor registrasi VT-CLA yang ditembak jatuh di daerah Ngoto, Bantul, oleh Belanda ketika hendak mendarat di Maguwo Yogyakarta pada 29 Juli 1947. 

Pesawat ini semula berangkat dari Singapura dengan misi kemanusiaan, yaitu mengangkut bantuan obat-obatan. Penerbangan tersebut sebetulnya telah diumumkan dan disetujui oleh kedua belah-pihak (Belanda-Indonesia). Namun, oleh Belanda pesawat tersebut kemudian ditembak jatuh dan menewaskan para pionir Angkatan Udara, antara lain Komodor Muda Udara Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, serta Opsir Muda Udara I Adisumarmo Wirjokoesoemo.

Bagaimana Cara Saya Kesana ?

Museum Dirgantara
Museum Dirgantara berada di sebelah timur Jalan Lingkar Timur (Ring Road Timur) Yogyakarta, tepatnya di sebelah timur Jembatan Layang Janti. Jarak Museum Dirgantara Mandala dari pusat kota Yogyakarta sekitar 10 kilometer, sementara dari Bandara Adisutjipto sekitar 5 kilometer. Wisatawan yang ingin mengunjungi museum ini dapat menggunakan bus kota jalur 7 (biaya Rp 2.500 per orang), kemudian turun di SD Angkasa. Dari SD ini wisatawan cukup berjalan kaki sejauh + 200 meter untuk sampai di lokasi museum.

Jika menggunakan jasa bus Transjogja, ambillah rute 1 A atau 1 B (dengan biaya Rp 3.000,00 per orang), kemudian turun di halte Janti di bawah jembatan. Dari halte ini Anda dapat berjalan kaki sejauh 500 meter, atau menggunakan jasa becak.
 
Cara menuju Museum Dirgantara Mandala Yogyakarta:
1.    Dari Bandara adisucipto menuju
Museum Dirgantara Mandala Yogyakarta: keluar melalui pintu bawah tanah lalu jalan naik becak (Rp.5000) atau jalan kaki sekitar 2,5 km
2.    Dari terminal giwangan menuju
Museum Dirgantara Mandala Yogyakarta: naik bus jurusan Yogya-Solo turun di depan museum (Rp.3000)
3.    Dari terminal Jombor menuju Museum Dirgantara Mandala Yogyakarta: Naik bus jurusan Yogya-Prambanan turun di depan museum (Rp.3000)
4.    Dari stasiun lempuyangan menuju Museum Dirgantara Mandala Yogyakarta: naik bus trans Jogja turun di halte Janti lalu jalan kaki sekitar 200m ke arah Timur
5.    Dari stasiun tugu menuju Museum Dirgantara Mandala Yogyakarta: naik bus trans Jogja turun di halte Janti lalu jalan kaki sekitar 200m ke arah Timur

Bagaimana Dengan Akomodasinya ?

Museum Dirgantara
Museum Dirgantara buka tiap hari Minggu hingga Kamis pukul 08.00—13.00 WIB dan hari Jumat sampai Sabtu pukul 08.00—12.00 WIB. Sedangkan pada hari Senin dan libur nasional tutup.Wisatawan yang berkunjung ke Museum Dirgantara akan dipungut biaya sebesar Rp 3.000,00 per orang.

Saat ini Museum Dirgantara telah dilengkapi berbagai fasilitas, seperti perpustakaan, auditorium, mushola, serta toilet. Bagi Anda yang membawa kendaraan pribadi dapat memarkir kendaraan di area parkir museum. Di sekitaran lahan parkir, juga telah tersedia kios suvenir serta kios makanan.

Know Before You Go...!!!!

  • Museum Dirgantara Mandala dibuka untuk umum pada setiap hari pukul 08.30 – 14.30. Fasilitas pendukung yang terdapat di museum Dirgantara Mandala adalah perpustakaan, auditorium, tempat parkir, musholla dan toilet.
  • Wisatawan yang berkunjung ke Museum Dirgantara akan dipungut biaya sebesar Rp 3.000,00 per orang.
  • Di Museum Dirgantara Mandala Bahkan ada "STUDIO FOTO" yang bisa membuat Sahabat TravelEsia menjadi seorang " PENERBANG " 
Jadi bagaimana Sahabat TravelEsia Apakah Anda tertarik Untuk Mengenang Kembali Kejayaan Armada Langit Nusantara,Jika Anda Berkunjung ke Yogyakarta Sempatkanlah untuk mengunjungi Museum Dirgantara Mandala sebagai destinasi wisata anda,Mari Kita Dukung Indonesia Untuk Menjadi Destinasi Wisata Dunia
,


Gua Pindul : Menjelajahi Sungai Bawah Tanah Gunung Kidul

Gua Pindul - Sahabat TravelEsia Keindahan alam di indonesia selalu menjadi Tujuan Wisata Terfavorit Bagi Para turis mancananegara,mengapa tidak,Indonesia memiliki segala keunikan dan keindahan yang tidak di dapatkan di belahan negara manapun.Kali Ini Sahabat TravelEsia Pada kesempatan ini Ingin Mengajak Sahabat TravelEsia Untuk menjelajahi sungai bawah tanah di wilayah gunung kidul
Gua Pindul

Gua Pindul

merupakan sebuah wisata baru yang terletak di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Lebih tepatnya terletak di dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, yang termasuk dalam Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul. Area goa ini memiliki 7 goa yang semuanya dialiri oleh sebuah sungai. Panjang sungai bawah tanah di dalam goa tersebut yaitu sekitar 300 meter dengan lebar 5 meter.

Menyusuri sungai menggunakan perahu karet merupakan hal yang biasa, namun jika sungai itu mengalir di dalam gua tentu saja akan menjadi petualangan yang mengasyikkan sekaligus menegangkan. Gua Pindul, salah satu gua yang merupakan rangkaian dari 7 gua dengan aliran sungai bawah tanah yang ada di Desa Bejiharjo, Karangmojo, menawarkan sensasi petualangan tersebut. Selama kurang lebih 45 - 60 menit wisatawan akan diajak menyusuri sungai di gelapnya perut bumi sepanjang 300 m menggunakan ban pelampung. Petualangan yang memadukan aktivitas body rafting dan caving ini dikenal dengan istilah cave tubing.

Mengapa Saya Harus Kesana ?

Gua Pindul
Tidak banyak gua dengan sungai bawah tanah di dunia. Indonesia beruntung memiliki Gua Pindul di Gunungkidul. Banyak yang bilang, pesonanya membuat gua ini disebut seksi.Banyak yang menyebut Gua Pindul sebagai gua seksi. Di dunia hanya ada empat, salah satunya adalah Gua Pindul. Menyusuri gua biasanya berjalan kaki, namun di Gua Pindul kita harus menggunakan pelampung.

Objek wisata yang diresmikan pada 10 Oktober 2010 ini terletak di Dusun Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul. Untuk menuju lokasi, setelah masuk Desa Bejiharjo, perjalanan dilanjutkan lurus mengikuti garis putih aspal. Lokasi sekretariat Gua Pindul berada di ujung jalan. Termasuk dalam paket wisata Dewa Bejo (Desa Wisata Bejiharjo).

Gua Pindul
Cara menikmati keindahan stalagtit dan stalagmit di Gua Pindul dengan menyusuri arus sungai bawah tanah. Dengan menumpang pada ban karet yang dihanyutkan. Aktivitas ini biasa disebut cave tubing. Aliran sungai berasal dari mata air Gedong Tujuh, yang tidak pernah kering meskipun musim kemarau.

Tidak diperlukan persiapan khusus untuk melakukan cave tubing di Gua Pindul. Peralatan yang dibutuhkan hanyalah ban pelampung, life vest, serta head lamp yang semuanya sudah disediakan oleh pengelola. Aliran sungai yang sangat tenang menjadikan aktivitas ini aman dilakukan oleh siapapun, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Waktu terbaik untuk cave tubing di Gua Pindul adalah pagi hari sekitar pukul 09.00 atau 10.00 WIB.

Selain karena airnya tidak terlalu dingin, jika cuaca sedang cerah pada jam-jam tersebut akan muncul cahaya surga yang berasal dari sinar matahari yang menerobos masuk melewati celah besar di atap gua. Sambil merasakan dinginnya air sungai yang membelai tubuh di tengah gua yang minim pencahayaan, seorang pemandu bercerita tentang asal-usul penamaan Gua Pindul.

Menurut legenda yang dipercayai masyarakat dan dikisahkan turun temurun, nama Gua Pindul dan gua-gua lain yang ada di Bejiharjo tak bisa dipisahkan dari cerita pengembaraan Joko Singlulung mencari ayahnya. Setelah menjelajahi hutan lebat, gunung, dan sungai, Joko Singlulung pun memasuki gua-gua yang ada di Bejiharjo. Saat masuk ke salah satu gua mendadak Joko Singlulung terbentur batu, sehingga gua tersebut dinamakan Gua Pindul yang berasal dari kata pipi gebendul.

Sebelum memasuki goa Bribin ini, kita harus memasuki dahulu mulut goa yang kedalaman mulut goa ini sekitar 170 meter di atas permukaan laut. Andapun harus merangkak sekitar 300 meter sebelum akhirnya dapat berdiri melihat aliran sungai bawah tanah yang demikian menakjubkan. Didalam goa ini pun kita dapat menyaksikan keindahan stalagtit dan stalagmit yang bergelantungan di sekitarnya. 

Bagaimana Cara Saya Kesana ?

Dari Jogja Naik Bus –> Terminal Giwangan –> Naik Bus Jogja Wonosari –> Bilang sama kondektur turun perempatan Grogol –Dari Grogol naek Ojek minta antar ke sekretariat Dewa Bejo (Goa Pindul

Gua Pindul
Bila anda dari Jogja, Lokasi Gua Pindul ini sangat mudah untuk dicapai.. dari Jogja anda masuk jalan Wonosari, lurus aja mengiktui jalan, nanti anda akan melewati Bukit Bintang, Rest Area Bunder, Gerbang masuk Kota Wonosari. setelah gerbang masuk tersebut teman2 akan menemui Tugu Bank BPD, lalu teman ikuti jalan yg ke kiri.setelah itu lurus aja sampai ketemu perempatan lampu merah.. perempatan lampu merah masih lurus sampai ketemu perempatan tanpa lampu merah, di perempatan itu belok kiri dan lurus aja ikuti jalan utama sampai 4 km anda sudah sampai di daerah wisata Gua Pindul

Sebelum memasuki goa Bribin ini, kita harus memasuki dahulu mulut goa yang kedalaman mulut goa ini sekitar 170 meter di atas permukaan laut. Andapun harus merangkak sekitar 300 meter sebelum akhirnya dapat berdiri melihat aliran sungai bawah tanah yang demikian menakjubkan. Didalam goa ini pun kita dapat menyaksikan keindahan stalagtit dan stalagmit yang bergelantungan di sekitarnya.   

Bagaimana Dengan Akomodasinya ?

Menjelajahi Gua Pindul tergolong aman dan bisa dilakukan siapa saja. Sebelum terjun ke air, traveler perlu mendaftar dan membayar Rp 30.000 per orang. Saat ini, wisata cave tubing Gua Pindul dipegang oleh masyarakat setempat.

Gua Pindul
Satu pemandu bertanggungjawab terhadap 5-10 orang peserta. Ban dan pelampung dibagikan, kemudian Anda akan memulai petualangan dekat bibir gua. Di dalam gua pemandu akan menerangkan berbagai fakta geografis dan keunikan Gua Pindul. Salah satunya, stalaktit terbesar ke-4 sedunia

Wisata yang ditawarkan yaitu batuan staglamit yang masih alami, sungai yang jernih dan wisata spiritual. Untuk menikmati Gua Pindul Anda cukup merogoh kocek sekitar Rp25.000 untuk sekali perjalanan, Disana Anda akan diajak melewati tiga zona dalam gua: zona tenang, remang, dan gelap. Tak perlu khawatir karena ada pemandu yang akan memandu perjalanan Anda. Anda cukup duduk di atas pelampung ban dengan posisi tangan bergandengan untuk keamanan. Nah, cukup menarik bukan

Know Before You Go...!!!!

  • Sangat bijak bila Anda selalu menyediakan air untuk diminum dalam kemasan yang mudah dibawa.
  • Krim pelindung atau tabir surya hendaknya selalu dibawa dan dipakai sesuai kebutuhan karena di daerah ini udara sangat panas walau angin berhembus cukup menyegarkan.
  • Anda perlu juga membawa pelindung anti nyamuk.
  • Jelasnya di sini tak cukup sinyal handphone Anda untuk aktif, tak pula terjangkau jaringan televisi, serta tidak ada pula pedagang kaki lima. Semua itu telah menjadikannya Plengkung sebagai kawasan paling ideal untuk Anda yang ingin berselancar dan benar-benar menjauh sejenak dari peradaban kota
Jadi bagaimana Sahabat TravelEsia Apakah Anda tertarik Untuk Menjelajahi Sungai Bawah Tanah Gunung Kidul.Jika Anda Berkunjung ke Yogyakarta,Sempatkanlah Untuk Mengunjungi Gua Pindul.Mari Dukung Indonesia Untuk Menjadi Destinasi Wisata Dunia
,


Pantai Sundak, Perkelahian Asu dan Landak yang Menuai Berkah



Pantai Sundak - Pantai Sundak tak hanya memiliki pemandangan alam yang mengasyikkan, tetapi juga menyimpan cerita. Nama Sundak ternyata mengalami evolusi yang bukti-buktinya bisa dilacak secara geologis.

Agar tahu bagaimana evolusinya, maka pengunjung mesti tahu dulu kondisi pinggiran Pantai Sundak dulu dan kini. Di bagian pinggir barat pantai ketika TravelEsia berkunjung terdapat masjid dan ruang kosong yang sekarang dimanfaatkan sebagai tempat parkir. Sementara di sebelah timur terdapat gua yang terbentuk dari batu karang berketinggian kurang lebih 12 meter. Memasuki gua, akan dijumpai sumur alami tempat penduduk mendapatkan air tawar.

Pantai Sundak

Wilayah yang diuraikan di atas sebelum tahun 1930 masih terendam lautan. Konon, air sampai ke wilayah yang kini dibangun masjid, batu karang yang membentuk gua pun masih terendam air. Seiring proses geologi di pantai selatan, permukaan laut menyusut dan air lebih menjorok ke laut. Batu karang dan wilayah di dekat masjid akhirnya menjadi daratan baru yang kemudian dimanfaatkan penduduk pantai untuk aktivitas ekonominya hingga saat ini.

Ada fenomena alam unik akibat aktivitas tersebut yang akhirnya menjadi titik tolak penamaan pantai ini. Jika musim hujan tiba, banyak air dari daratan yang mengalir menuju lautan. Akibatnya, dataran di sebelah timur pantai membelah sehingga membentuk bentukan seperti sungai. Air yang mengalir seperti mbedah (membelah) pasir. Bila kemarau datang, belahan itu menghilang dan seiring dengannya air laut datang membawa pasir. Fenomena alam inilah yang menyebabkan nama pantai menjadi Wedibedah (pasir yang terbelah). Saat TravelEsia datang wedi tengah tidak terbelah.

Perubahan nama berlangsung beberapa puluh tahun kemudian. Sekitar tahun 1976, ada sebuah kejadian menarik. Suatu siang, seekor anjing sedang berlarian di daerah pantai dan memasuki gua karang bertemu dengan seekor landak laut. Karena lapar, si anjing bermaksud memakan landak laut itu tetapi si landak menghindar. Terjadilah sebuah perkelahian yang akhirnya dimenangkan si anjing dengan berhasil memakan setengah tubuh landak laut dan keluar gua dengan rasa bangga. Perbuatan si anjing diketahui pemiliknya, bernama Arjasangku, yang melihat setengah tubuh landak laut di mulut anjing. Mengecek ke dalam gua, ternyata pemilik menemukan setengah tubuh landak laut yang tersisa. Nah, sejak itu, nama Wedibedah berubah menjadi Sundak, singkatan dari asu (anjing) dan landak.

Tak dinyana, perkelahian itu membawa berkah bagi penduduk setempat. Setelah selama puluhan tahun kekurangan air, akhirnya penduduk menemukan mata air. Awalnya, si pemilik anjing heran karena anjingnya keluar gua dengan basah kuyup. Hipotesanya, di gua tersebut terdapat air dan anjingnya sempat tercebur ketika mengejar landak. Setelah mencoba menyelidiki dengan beberapa warga, ternyata perkiraan tersebut benar. Jadilah kini, air dalam gua dimanfaatkan untuk keperluan hidup penduduk. Dari dalam gua, kini dipasang pipa untuk menghubungkan dengan penduduk. Temuan mata air ini mengobati kekecewaan penduduk karena sumur yang dibangun sebelumnya tergenang air laut.

Nah, bila kondisi tahun 1930 saja seperti yang dikatakan di atas, dapat diperkirakan kondisi ratusan tahun sebelumnya. Tentu sangat banyak organisme laut yang memanfaatkan bagian bawah karang yang kini menjadi gua dan wilayah yang kini menjadi daratan. Karenanya, banyak arkeolog percaya bahwa sebagai konsekuensi dari proses geologis yang ada, banyak organisme laut yang tertinggal dan kini tertimbun menjadi fosil. Soal fosil apa yang ditemukan, memang hingga kini belum banyak penelitian yang mengungkapkan.
Selain menawarkan saksi bisu sejarahnya, Sundak juga menawarkan suasana malam yang menyenangkan. Anda bisa menikmati angin malam dan bulan sambil memesan ikan mentah untuk dibakar beramai-ramai bersama teman. Dengan membayar beberapa ribu, Anda dapat membeli kayu untuk bahan bakar. Kalau malas, pesan saja yang matang sehingga siap santap.

Yang jelas, tak perlu bingung mencari tempat menginap. Pengunjung bisa tidur di mana saja, mendirikan tenda, atau tidur saja di bangku warung yang kalau malam tak terpakai. Kegelapan tak perlu diributkan, bukankah membosankan jika hidup terus terang benderang?

Kalau mau, berinteraksi dengan penduduk bisa menjadi suatu pencerahan. Anda bisa mengetahui bagaimana penduduk hidup, kebudayaan mereka, dan tentu saja orang baru yang mungkin saja mampu mengubah pandangan hidup anda. Menemui Mbah Tugiman yang biasa berjaga di tempat parkir atau Mbah Arjasangku bisa jadi pilihan. Mereka merupakan salah satu sesepuh di Pantai Sundak. Bercakap dengan mereka membuat anda tidak sekedar menyaksikan bukti sejarah tetapi juga mendapat cerita dari orang yang menyaksikan bagaimana sejarah terukir. Datanglah, semua yang di sana sudah menunggu! (TravelEsia.COM)

Naskah: Yunanto Wiji Utomo
Photo & Artistik: Sutrisno
Copyright © 2012 TravelEsia.COM

,


PANTAI INDRAYANTI : Pantai Bersih dengan Restoran Cafe

Matahari belum tinggi saat TravelEsia tiba di Pantai Indrayanti. Dua ekor siput laut bergerak pelan di sebuah ceruk karang, tak peduli dengan ombak yang menghempas. Segerombol remaja asyik bercengkerama sambil sesekali bergaya untuk diambil gambarnya. Di sebelah barat nampak 3 orang sedang berlarian mengejar ombak, sebagian lainnya bersantai di tengah gazebo sembari menikmati segarnya kelapa muda yang dihidangkan langsung bersama buahnya. Beberapa penginapan yang dikonsep back to nature berdiri dengan gagah di bawah bukit, sedangkan rumah panggung dan gubug yang menyerupai honai (rumah adat Papua) berdiri di dekat pantai. Jet ski kuning teronggok di sudut restoran.

Terletak di sebelah timur Pantai Sundak, pantai yang dibatasi bukit karang ini merupakan salah satu pantai yang menyajikan pemandangan berbeda dibandingkan pantai-pantai lain yang ada di Gunungkidul. Tidak hanya berhiaskan pasir putih, bukit karang, dan air biru jernih yang seolah memanggil-manggil wisatawan untuk menceburkan diri ke dalamnya, Pantai Indrayanti juga dilengkapi restoran dan cafe serta deretan penginapan yang akan memanjakan wisatawan. 

Beragam menu mulai dari hidangan laut hingga nasi goreng bisa di pesan di restoran yang menghadap ke pantai ini. Pada malam hari, gazebo-gazebo yang ada di bibir pantai akan terlihat cantik karena diterangi kerlip sinar lampu. Menikmati makan malam di cafe ini ditemani desau angin dan alunan debur ombak akan menjadi pengalaman romantis yang tak terlupa.

Penyebutan nama Pantai Indrayanti sebelumnya menuai banyak kontraversi. Indrayanti bukanlah nama pantai, melainkan nama pemilik cafe dan restoran. Berhubung nama Indrayanti yang terpampang di papan nama cafe dan restoran pantai, akhirnya masyarakat menyebut pantai ini dengan nama Pantai Indrayanti. Sedangkan pemerintah menamai pantai ini dengan nama Pantai Pulang Syawal. Namun nama Indrayanti jauh lebih populer dan lebih sering disebut daripada Pulang Syawal. Keterlibatan pihak swasta dalam pengelolaan Pantai Indrayanti rupanya turut membawa dampak positif. 

Berbeda dengan pantai-pantai lain yang agak kotor, sepanjang garis pantai Indrayanti terlihat bersih dan bebas dari sampah. Hal ini dikarenakan pengelola tak segan-segan menjatuhkan denda sebesar Rp. 10.000 untuk tiap sampah yang dibuang oleh wisatawan secara sembarangan. Karena itu Indrayanti menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi.

Usai menikmati sepiring nasi goreng dan es kelapa muda di gazebo,TravelEsia beranjak menuju bukit di sisi timur. Berhubung tidak ada jalan, menerobos semak dan perdu sembari memanjat karang pun menjadi pilihan. Sesampainya di atas bukit pemandangan laut yang bebatasan dengan Samudra Hindia terhampar. Beberapa burung terbang sambil membawa ilalang untuk membangun sarang. Suara debur ombak dan desau angin berpadu menciptakan orkestra yang indah dan menenangkan. 

TravelEsia pun melayangkan pandangan ke arah barat. Beberapa pantai yang dipisahkan oleh bukit-bukit terlihat berjajar, gazebo dan rumah panggung terlihat kecil, sedangkan orang-orang laksana liliput. Saat senja menjelang, tempat ini akan menjadi spot yang bagus untuk menyaksikan mentari yang kembali ke peraduannya. Sayang TravelEsia harus bergegas pulang. Meski tidak sempat menyaksikan senja yang indah, pesona Pantai Indrayanti telah terpatri di hati.,


Parangtritis, Pantai Paling Terkenal di Yogyakarta

Pantai Parangtritis - Pantai Parangtritis terletak 27 km selatan Kota Jogja dan mudah dicapai dengan transportasi umum yang beroperasi hingga pk 17.00 maupun kendaraan pribadi. Sore menjelang matahari terbenam adalah saat terbaik untuk mengunjungi pantai paling terkenal di Yogyakarta ini. Namun bila Anda tiba lebih cepat, tak ada salahnya untuk naik ke Tebing Gembirawati di belakang pantai ini. Dari sana kita bisa melihat seluruh area Pantai Parangtritis, laut selatan, hingga ke batas cakrawala.

Pantai Parangtritis

Pssst, TravelEsia akan memberitahu sebuah rahasia. Belum banyak orang tahu bahwa di sebelah timur tebing ini tersembunyi sebuah reruntuhan candi. Berbeda dengan candi lainnya yang terletak di daerah pegunungan, Candi Gembirawati hanya beberapa ratus meter dari bibir Pantai Parangtritis. Untuk menuju candi ini, kita bisa melewati jalan menanjak dekat Hotel Queen of the South lalu masuk ke jalan setapak ke arah barat sekitar 100 meter. Sayup-sayup gemuruh ombak laut selatan yang ganas bisa terdengar dari candi ini.

Pantai Parangtritis sangat lekat dengan legenda Ratu Kidul. Banyak orang Jawa percaya bahwa Pantai Parangtritis adalah gerbang kerajaan gaib Ratu Kidul yang menguasai laut selatan. Hotel Queen of the South adalah sebuah resort mewah yang diberi nama sesuai legenda ini. Sayangnya resort ini sekarang sudah jarang buka padahal dulu memiliki pemandangan yang sanggup membuat kita menahan nafas.

Sunset yang Romantis di Pantai Parangtritis

Ketika matahari sudah condong ke barat dan cuaca cerah, tibalah saatnya untuk bersenang-senang. Meskipun pengunjung dilarang berenang, Pantai Parangtritis tidak kekurangan sarana untuk having fun. Di pinggir pantai ada persewaan ATV (All-terrain Vechile), tarifnya sekitar Rp. 50.000 - 100.000 per setengah jam. Masukkan persneling-nya lalu lepas kopling sambil menarik gas. Brrrrooom, motor segala medan beroda 4 ini akan melesat membawa Anda melintasi gundukan pasir pantai.

Baiklah, ATV mungkin hanya cocok untuk mereka yang berjiwa petualang. Pilihan lain adalah bendi. Menyusuri permukaan pasir yang mulus disapu ombak dengan kereta kuda beroda 2 ini tak kalah menyenangkan. Bendi akan membawa kita ke ujung timur Pantai Parangtritis tempat gugusan karang begitu indah sehingga sering dijadikan spot pemotretan foto pre-wedding. Senja yang remang-remang dan bayangan matahari berwarna keemasan di permukaan air semakin membangkitkan suasana romantis.

Pantai Parangtritis juga menawarkan kegembiraan bagi mereka yang berwisata bersama keluarga. Bermain layang-layang bersama si kecil juga tak kalah menyenangkan. Angin laut yang kencang sangat membantu membuat layang-layang terbang tinggi, bahkan bila Anda belum pernah bermain layang-layang sekalipun.

Masih enggan untuk pulang walau matahari sudah terbenam? Tak lama lagi beberapa penjual jagung bakar akan menggelar tikar di pinggir pantai, kita bisa nongkrong di sana hingga larut malam. Masih juga belum mau pulang? Jangan khawatir, di Pantai Parangtritis tersedia puluhan losmen dan penginapan dengan harga yang terjangkau.
Copyright © 2011 TravelEsia.COM,


LOTEK TETEG Lotek dan Gado-gado Porsi Seabreg

Lotek dan gado-gado yang sering disebut sebagai saladnya Indonesia menjadi sajian utama Warung Lotek Teteg. Warung yang terletak beberapa meter sebelah timur Stasiun Lempuyangan ini ramai dikunjungi orang-orang ketika TravelEsia tiba di sana. Tempatnya nyaman, teduh, dan luas. Tempat untuk menikmati makanan dibagi menjadi dua, lesehan dan tempat duduk. Masuk ke dalam, suasana akrab langsung terasa. Seorang penyanyi terlihat mendendangkan lagu daerah sehingga menciptakan perasaan nyaman tersendiri. Tak hanya lotek dan gado-gado, aneka macam juice dan minuman lainnya bisa kita nikmati di sini dengan harga berkisar dari Rp 2.000 - Rp 11.000.
Tak berapa lama setelah TravelEsia memesan makanan, pramusaji datang membawakan dua piring lotek dan gado-gado Kesan pertama saat melihat lotek dan gado-gado tersebut tentu saja kaget dan bingung karena ternyata porsinya sangat banyak. Selanjutnya muncul pertanyaan, mampukah TravelEsia menghabiskan semuanya? Ketika sesendok lotek masuk ke mulut, bumbu kacang langsung terasa di lidah. Bumbunya meresap sempurna di antara rebusan bayam dan kacang panjang yang menjadi isian khas dari lotek tersebut. Krupuknya kriuk-kriuk renyah, sangat pas dengan bumbu kacangnya. Pun begitu dengan loteknya. Bumbu kacang yang pekat menyatu dengan kesegaran sayur yang ada dalam gado-gado Teteg ini. Dan akhirnya, porsi besar itu tandas sudah. Benar-benar wareg!

Berkunjung ke dapur, TravelEsia melihat sebuah cobek berdiameter 80 cm. Sangat besar bila dibandingkan dengan ukuran cobek-cobek rumahan. Selain porsinya yang jumbo, cobek jumbo ini menjadi ciri khas dari Lotek Teteg. Menurut Bu Nur, generasi ke dua dari pemilik warung ini, sedari dulu cobek sebesar itulah yang digunakan untuk membuat bumbu kacang. Cobek besar ini mampu membuat bumbu kacang sebanyak 80 porsi di kala pagi. Bila sedang ramai pelanggan maka Bu Nur tak perlu repot-repot untuk membuat bumbu kacang lagi.

Ide untuk menggunakan cobek besar berasal dari Pak Untung, pendiri warung sekaligus bapak dari Bu Nur. Cobek besar ini dipakai supaya lebih praktis dan tidak menghilangkan cita rasa dari bumbu kacang. Hal itulah yang menjadikan bumbu kacang di warung ini sangat khas, tampilannya lebih pekat dan rasanya berbeda dari lotek di tempat lain. Oh ya, Warung Lotek Teteg sendiri sudah berdiri sejak 1968. Dulunya warung lotek ini bernama "Sederhana". Karena tempatnya yang berdekatan dengan teteg (pagar) rel kereta api maka pelanggan menyebutnya sebagai Warung Lotek Teteg.

Jam Buka: pk 09.00 - 16.30 WIB
(Data diperoleh Januari 2012)

,


BAKMI SHIBITSU - Ketika Bakmi Bisu Membuat Anda Kehilangan Kata

Jika anda adalah salah satu penggemar berat bakmi, ketika sedang berada di Yogyakarta cobalah untuk mampir mengunjungi warung makan bakmi Shibishu yang terletak di Jalan Raya Bantul No.106. Tempat ini dapat ditempuh sekitar lima menit dari Malioboro, tepatnya 500 meter selatan Pojok Beteng Kulon. Jangan terkecoh oleh namanya yang agak berbau Jepang, bakmi ini dimiliki oleh orang Yogya asli dan sudah beroperasi sejak 25 tahun lalu.Warung makan ini adalah yang paling banyak dikunjungi dibandingkan warung-warung makan lain yang ada di sekitarnya.

Selain keramaiannya tersebut pada awalnya saya cukup bingung dengan apa yang akan saya temui di warung makan ini. Tempat ini terkenal dengan nama 'bakmi bisu'. Ada beberapa pikiran iseng saya berkenaan dengan istilah tersebut. Pertama, bakmi tersebut saking enaknya sehingga ketika mencobanya, kita akan membisu alias tidak bisa berkata-kata. Pikiran yang kedua, yang menjajakan bakmi ini alias si penjual adalah orang yang tuna wicara atau bisu. Saat memesan satu porsi bakmi goreng kepada seorang wanita paruh baya yang sedang meracik bumbu saya mengira tebakan iseng saya yang kedua sudah gugur, karena si ibu tersebut ternyata bisa bicara. Tapi kemudian pada akhirnya saya mengetahui satu dari dua tebakan saya ada yang benar, begini cerita lengkapnya.

Selain memesan bakmi goreng, saya juga memesan teh manis hangat sebagai pendamping makan. Saat menunggu pesanan tiba, perlahan saya mulai mengerti salah satu alasan kenapa tempat ini terkenal dengan nama bakmi bisu. Ternyata pelayan yang mendistribusikan pesanan ke para pelanggan adalah seorang wanita tuna wicara (bisu). Ada satu orang lagi yang membantu ibu peracik dan pemasak bakmi yang sepanjang pengamatan saya juga 'membisu' atau tidak bicara sepanjang melakukan pekerjaannya sebagai pengipas bara api di anglo.

Cukup lama pesanan saya tiba. Bisa dimaklumi karena warung ini hanya menggunakan sebuah anglo berbahan bakar arang untuk memasak semua pesanan pelanggannya. Sambil menunggu pesanan bakmi, suguhan yang datang terlebih dahulu adalah teh manis hangat. Cukup berbeda dari tempat lain yang menyajikan teh hanya dengan menggunakan gelas. Di sini juga diberi tambahan sebuah teko kecil untuk jog jika air teh yang ada di gelas sudah habis. Selain berbeda dalam penyajian, teh ini juga berbeda dalam hal rasa jika dibandingkan dengan teh di tempat lain. Sruputan pertama ketika mencecap teh ini meninggalkan sensasi tersendiri. 

Jika boleh meminjam tag line sebuah produk teh, ini adalah sensasi wasgitel (wangi, sepet, legi, dan kentel). Aroma yang keluar dari panasnya kopi menimbulkan wangi aroma teh yang khas. Warna teh yang coklat kehitaman menunjukkan kekentalan dan rasa sepet yang membekas di ujung lidah. Kemudian dilengkapi dengan manis yang elegan dari gula batu yang dicelupkan ke dalam teh. Sudah lama saya tidak merasakan teh yang seperti ini. Terakhir, saya mencicipi teh yang enak beberapa tahun yang lalu ketika melakukan penelitian sosial budaya di daerah Tegal Utara.

Setelah hampir 20 menit menunggu akhirnya pesanan bakmi goreng saya diantar oleh si wanita bisu. Tampilan bakmi goreng ini sekilas hampir sama dengan bakmi di tempat lain, hanya saja warnanya lebih terang sedikit mungkin karena tidak terlalu banyak menggunakan kecap. Bakmi ini terbuat dari dua jenis mi, yakni mi kuning dan bihun. Kemudian dilengkapi dengan potongan-potongan kecil daging ayam dan seledri. Suapan pertama ketika mencoba bakmi bisu ini membuat saya hampir kehilangan kata. Bumbu yang menyelimuti bakmi ini amat terasa tebal dan meresap ke dalam mi. Sekilas rasa mi ini seperti agak berlebihan bumbu, namun itu semua hilang ketika disusul oleh suapan-suapan selanjutnya.

Di meja penyajian juga disediakan cabe rawit yang sangat nikmat jika diceplus berbarengan dengan mi. Hal yang tidak terlupakan dari makan di bakmi bisu ini adalah ketika setelah selesai makan mi dilanjutkan dengan teh panas wasgitel. Dua hal ini-mi dan teh- seakan saling melengkapi dengan kelebihannya masing-masing untuk menjadikan pengalaman wisata kuliner yang sulit dilupakan bagi anda. Pada akhirnya, saya cukup senang karena dua tebakan saya di awal tulisan ada yang benar. Bakmi Shibishu membuat saya kehilangan kata dan membisu untuk sesaat karena kelezatannya

BAKMI SHIBITSU

Alamat: Jalan Raya Bantul No. 111 Yogyakarta

Koordinat GPS: S7°49'17.9" E110°21'19.1",


PECEL BAYWATCH - Menyantap Pecel Kembang Turi Racikan Mbah Warno "Anderson"

Semula saya sempat bingung dengan julukan Pecel Baywatch yang disandang oleh pecel Mbah Warno. Terlintaslah imajinasi nakal tentang sosok penjual pecel yang mengenakan bikini seperti Mbak Pamela Anderson atau setidaknya warung ini berada di pinggir pantai.

Ternyata salah semua. Beginilah cerita lengkapnya.
Warung Mbah Warno terletak di daerah Kasongan, tepatnya berada di jalan menuju Gunung Sempu. Warung yang sudah berdiri sejak 35 tahun lalu ini sangat sederhana. Papan nama warung pecel Mbah Warno ini hanya berukuran 30 x 20 cm2 yang pasti terlewat jika tak benar-benar memerhatikannya. Interior warung diisi oleh perabot yang fungsional dan apa adanya. Hanya terdapat beberapa meja dan kursi kayu serta satu dipan bambu. Di belakang meja tempat meletakkan dagangannya, terdapat dapur berisikan beberapa anglo yang selalu mengepulkan asap. Sebuah posisi yang tak disengaja sebenarnya, sebab dapur dalam konsep Jawa biasanya terletak di bagian belakang. Mbah Warno meletakkan dapur di bagian depan warung pasca gempa Mei 2006 yang meruntuhkan bangunan rumahnya. "Belum punya uang untuk membangun dapur baru", ujarnya.

Mbah Warno menjajakan menu utama pecel dengan beragam lauk sebagai pengiringnya. Mulai dari lele dan belut goreng kering, tahu bacem, mangut belut (belut bersantan yang dibumbui cabai), hingga bakmi goreng. TravelEsia memesan semuanya agar dapat merasakan aneka rasa masakan Mbah Warno ini.
Sambil menunggu, pikiran saya melayang menelusuri asal-usul pecel yang sama tidak jelasnya dengan soto. Banyak daerah di Jawa memiliki pecel dengan ciri khasnya masing-masing, misalnya Pecel Madiun, Pecel Blitar, Pecel Madura, Pecel Slawi dan lain-lain.

Namun setidaknya, seorang sejarawan Belanda bernama H.J Graaf pernah mengungkapkan bahwa ketika Ki Ageng Pemanahan melaksanakan titah Sultan Hadiwijaya untuk hijrah ke hutan yang disebut Alas Mentaok (sekarang Kotagede), rombongan beliau disambut masyarakat di pinggir Sungai Opak dan dijamu dengan berbagai jenis masakan, termasuk pecel.

Lamunan saya terputus saat pecel dan beberapa makanan pengiring tiba di meja. Seporsi pecel, lele goreng, dan tahu bacem seolah menantang untuk secepatnya dinikmati. Terdapat empat jenis sayuran dalam hidangan berlumur bumbu kacang ini yakni daun bayam, daun pepaya, kembang turi (Sesbania grandiflora), dan kecambah / taoge. Kita akan disergap rasa manis dari bumbu kacang yang menggelitik lidah. Saat menguyah kembang turi yang agak getir, rasa manis tadi berpadu sehingga menghasilkan kelezatan yang sulit diungkapkan.

Pecel dengan kembang turi merupakan ciri khas pecel "ndeso". Jaman sekarang sudah sulit untuk menemukan penjual pecel seperti ini. Konon kembang turi memiliki khasiat meringankan panas dalam dan sakit kepala ringan. Jadi tidak heran bila orang Jawa, India, dan Suriname (masih keturunan Jawa juga sih, hehehe) sering menyantap kembang turi muda sebagai sayuran.

Pecel akan bertambah nikmat jika ditambah dengan lele goreng atau tahu bacem. Lele goreng di tempat ini dimasak hingga kering sehingga crispy ketika digigit. Sedangkan tahu bacem yang berukuran cukup besar dapat dinikmati sebagai cemilan bersama cabai rawit. Selain itu juga terdapat hidangan lain seperti belut goreng dengan dua variasinya. Pertama, belut goreng kering yang berukuran kecil dan belut goreng basah yang lebih besar. Ada juga bakmi goreng dan mangut belut bagi anda yang menggemari makanan pedas. Asap dari anglo menambah sensasi rasa dari hidangan di warung ini.

Entah karena kenyang atau efek kembang turi, selesai makan kepala saya terasa lebih cerdas dari biasanya. Sambil ngobrol ringan dengan Mbah Warno dan asistennya, saya jadi paham kenapa pecel di tempat ini dijuluki Pecel Baywatch. Hal itu karena Mbah Warno dan asistennya selalu mengenakan sejenis baju yang disebut kaus kutang. Pakaian yang sangat nyaman untuk dikenakan di tengah udara pedesaan Kasongan Bantul yang kering dan panas.

Walau penjual pecel ada dimana-mana, Pecel Baywatch tetap menawarkan sesuatu yang lain bagi anda. Sebuah kombinasi kelezatan makanan, suasana pedesaan yang kental, dan keramahan Mbah Warno "Anderson",


Soto Sulung Stasiun Tugu : Soto Madura Paling Legendaris di Jogja







Siapa yang tidak tahu soto sulung? Soto khas Madura ini berisi daging sapi atau jeroan sapi seperti babat, usus, paru-paru dan hati dengan kuah yang pekat. Soto ini juga dipermanis dengan potongan telur rebus yang membuat isiannya makin wah. Adalah Soto Sulung Stasiun Tugu yang membawa keistimewaan soto sulung dari Madura ke Yogyakarta. Warung soto yang didirikan sejak tahun 1968 oleh Bapak (alm.) Marjuddin, kini sudah memiliki beberapa cabang yang tersebar di penjuru Yogyakarta. Warung yang berlokasi di kios area parkir selatan Stasiun Tugu kini menjadi salah satu ikon kuliner di Yogyakarta dan selalu menjadi buruan bagi pecinta kuliner.

SOTO SULUNG STASIUN TUGU

Soto Sulung Stasiun Tugu menawarkan soto daging dan soto daging campur jeroan. Daging dan jeroan yang menjadi isian dari soto ini berbeda dengan soto-soto di tempat lain. Dengan dua kali pengolahan, dagingnya terasa empuk, tidak amis dan bumbu meresap sempurna. Jeroan yang jadi isian di soto campur tidak berbau dan empuk, kelezatannya sama dengan soto daging itu sendiri. Kuah sotonya yang pekat dan bumbunya yang kuat terasa, membuat soto sulung ini begitu lezat. Lidah kita akan dimanja dengan kuah hangatnya yang sangat menggiurkan. Dengan perasan jeruk nipis dan sambal yang dibuat encer, rasa dari soto ini akan lebih nikmat. Wuih.. nagih bener! Panas kuahnya dan keempukan dagingnya akan membuat lidah terus meminta tambah.


 Yang unik dari soto sulung ini adalah nasinya. Bukannya dihidangkan langsung di piring, nasi di sini dibungkus kecil-kecil dengan harga Rp 500/bungkus. Kita dengan bebas bisa tambah nasi tanpa perlu malu. Nasi dan segala cemilan di sini olahan sendiri loh. Daging, nasi, dan krupuknya dibuat terlebih dahulu di malam hari oleh masing-masing anggota keluarga yang bertugas, lalu paginya tinggal di kirim ke Soto Sulung Stasiun Tugu dan cabang-cabang yang lain.
"Banyak yang dulu kuliah di Yogya dan sekarang sudah punya cucu masih sering datang kemari," kata Pak Ridwan, putra Bapak Marjuddin yang kini mengelola Soto Sulung Stasiun Tugu. Di usianya yang sudah 43 tahun, warung soto ini meninggalkan berjuta kenangan yang membuat pelanggannya setia datang hanya untuk bernostalgia. Seperti Hendra, pemilik salah satu warung kopi di Yogya yang berbagi cerita bahwa Soto Sulung Stasiun Tugu ini adalah soto sulung paling enak di Yogyakarta dan sejak tahun 2000 dia menjadi pelanggan setia. "Bumbunya tajam dan enak. Lidah pun menjadi puas," pungkas Hendra.
Jam Buka: pk 09.00 - 21.00 WIB
Harga:
  • Soto Daging: Rp 9.000
  • Soto Campur: Rp 6.000

SOTO SULUNG STASIUN TUGU

Alamat: Parkiran Selatan Stasiun Tugu, Yogyakarta, Indonesia

Koordinat GPS: S7°47'22.8" E110°21'46.6"

(Data diperoleh Januari 2012)
,


GUDEG - Kuliner Jogja yang Paling Populer

Bila New York sering disebut sebagai "Big Apple" dan Jakarta sebagai "Big Durian", maka Jogja mungkin bisa disebut "Big Jackfruit" (=Nangka Raksasa) karena kuliner gudegnya yang begitu populer. Masakan lezat berbahan baku nangka muda ini seolah menjadi makanan wajib bagi siapa saja yang sedang berkunjung ke surga wisata di Pulau Jawa ini. Gori (nangka muda) yang bergetah dibersihkan sedemikian rupa kemudian dimasak dalam kuah santan bersama bumbu dan rempah-rempah selama berjam-jam. Setelah matang, gori menjadi empuk dan agak manis. 

Gudeg biasanya disajikan bersama sambal goreng krecek (kulit sapi) pedas, telur pindang, tahu dan tempe bacem, serta ayam opor atau ayam bacem. Sebagai sentuhan akhir, gudeg disiram areh gurih yang memberikan cita rasa khas yang tidak ada duanya. Nyam-nyam...

Gudeg Kering, Gudeg Basah, dan Gudeg Manggar

Mungkin bagi kebanyakan orang, gudeg adalah gudeg. Namun sebenarnya ada 3 jenis gudeg yang berbeda; gudeg basah, gudeg kering, dan gudeg manggar. Gudeg basah disajikan dengan kuah santan nyemek yang gurih dan banyak diburu untuk menu sarapan pagi. Gudeg jenis ini dapat ditemukan di sepanjang Jalan Kaliurang kawasan Barek, Gudeg Batas Kota (Jl. Adisucipto depan Saphir Square) atau mbok-mbok penjual gudeg di pasar-pasar tradisional.

Gudeg kering dimasak dalam waktu yang lebih lama hingga kuahnya mengering dan warnanya lebih kecoklatan. Rasanya juga lebih manis. Gudeg jenis ini bisa tahan hingga 24 jam atau bahkan lebih jika dimasukkan ke dalam lemari es sehingga banyak diburu orang sebagai oleh-oleh. Biasanya penjual mengemasnya dalam kardus, besek (kardus dari anyaman bambu) atau kendil tanah liat. Tidak perlu bingung kemana harus mencari karena sebagian besar warung gudeg seperti 

Gudeg @Yu-Narni (+62 274 867231; Jl. Palagan Tentara Pelajar 102), 
Gudeg Yu Djum (+62 274 515968; Jl. Kaliurang Km 4,5 Karang asem CT III/22), 
Gudeg Bu Ahmad (+62 274 520049; Jl. Kaliurang km 4,5), 
Gudeg Gudeg Bu Tjitro 1925 1925 (+62 274 564734; Jl. Janti 330), 

dan penjual gudeg di daerah Wijilan menjual oleh-oleh istimewa ini.
Selain gudeg nangka muda, Jogja juga memiliki gudeg manggar. Manggar alias bunga kelapa menghasilkan sensasi kelezatan tersendiri pada sajian kuliner ini. Bunganya terasa crunchy sementara tangkainya sekilas memiliki rasa mirip jamur tiram. Semakin terbatasnya persediaan manggar menyebabkan kuliner ini semakin susah ditemukan. Beberapa penjual terpaksa menutup warung dan hanya melayani pemesanan saja. Hanya beberapa tempat yang masih bertahan seperti beberapa kawasan di daerah Bantul dan Warung Makan Mbok Brewok (+62 274 445697; Jl. Parangtritis km.7).

Sentra Gudeg Wijilan dan Barek

Gudeg dapat ditemukan di hampir setiap sudut kota Jogja. Namun kawasan Wijilan dan Barek lah yang paling kondang sebagai sentra gudeg. Wijilan berada tidak jauh dari kompleks Kraton Yogyakarta dan dapat dicapai dengan 10 menit berjalan kaki atau dengan naik becak. Diawali oleh Bu Slamet yang mulai berjualan sejak tahun 1946, kini sekitar 17 warung berderet memenuhi sisi Jl. Wijilan. Anda bisa memilih gudeg sesuai dengan selera. Gudeg Yu Djum (Jl. Wijilan 31) misalnya, menyajikan gudeg kering dengan rasa manis khas masakan Jogja. Kreceknya diiris kecil kemudian dimasak menjadi sambal goreng kering berwarna kekuningan. Jika menginginkan gudeg yang tidak terlalu manis, Anda bisa bertandang ke Gudeg Bu Slamet (+62 274 380429; Jl. Wijilan 17). Rata-rata warung gudeg di Wijilan buka dari jam 5.30 pagi hingga jam 8 malam, kecuali Gudeg Bu Tarto (Jl. Wijilan 15) yang buka 24 jam.

Bila Anda kebetulan sedang berada di belahan utara Yogyakarta, cobalah datang ke Barek. Setiap subuh, penjual gudeg berderet di pinggir jalan di sebelah utara kawasan Kampus UGM. Ketika pagi mulai menjelang dan pedagang-pedagang ini mengemasi dagangannya, masih ada warung gudeg Bu Ahmad (+62 274 520049; Jl. Kaliurang km 4,5) yang kondang hingga kalangan artis dan pejabat, Yu Djum (+62 274 515968; Jl. Kaliurang Km 4,5 Karang asem CT III/22), Yu Narni (+62 274 589687; Jl. Kaliurang km 4,5 Karangasem CT III/19), atau Bu Tini yang buka hingga malam. Warung-warung ini juga memberikan kesempatan bagi Anda yang ingin melihat secara langsung proses memasak gudeg.

Dini Hari hingga Tengah Malam

Jogja adalah kota yang tak pernah tidur. Salah satu nafas yang terus membuatnya terjaga adalah gudeg. Penjualnya silih berganti menggelar dagangan dari dini hari hingga tengah malam. Kala fajar tiba dan matahari belum keluar dari cakrawala, Wijilan dan Barek sudah mulai menggeliat dengan aktivitas warga berburu gudeg untuk menu sarapan mereka. Para penjual di sentra gudeg ini akan terus setia melayani pelanggan hingga jam 8 atau 9 malam. Anda tiba-tiba ingin merasakan kelezatan gudeg saat tengah malam buta? Jangan khawatir, Gudeg Batas Kota (Jl. Adisucipto depan Saphir Square) yang mulai buka pada jam 10 malam siap menggoda lidah Anda dengan rasa gudeg yang istimewa. Atau Anda bisa mencoba sensasi menikmati gudeg

langsung di pawon (dapur) Gudeg Pawon (Jl. Janturan 36-38 Warungboto).
Harga (April 2011):

1 porsi gudeg: Rp 7.000 - Rp 35.000
1 paket gudeg kering untuk oleh-oleh: Rp 50.000 - Rp 150.000

Copyright © 2012 TravelEsia.COM,


WARUNG YS SIDO SEMI Warung Es Paling Jadoel Se-Kotagede

WARUNG YS SIDO SEMI
Alamat: Jl. Canteng, Kotagede, Yogyakarta Indonesia
Koordinat GPS
: S7°49'48.6" E110°23'56.5"

"Monggo," begitulah sapa Mas Agung, cucu dari Dalijan Mulyo Hartono, pendiri warung es yang YogYES singgahi. Terletak sekitar 10 meter dari Masjid Mataram Kota Gede, warung yang didirikan sejak tahun 1957 memberikan suasana tempoe doeloe dan kuliner yang membuat pengunjungnya setia untuk terus jajan di sini. Tata ruang di warung ini sangat khas. Dingklik dan lincak, meja kayu besar, stoples-stoples jadul, lukisan di dinding, aksara jawa di sablak yang bergantungan, serta jajaran botol Sar Saparila yang menjadi pemisah antara dapur dan tempat makan membuat warung ini terasa sangat antik. Melihat menu yang terpampang di bagian timur warung, waktu seakan berhenti. Di sana masih terlihat jelas daftar menu dengan ejaan lama campur ejaan yang disempurnakan dengan daftar harga menggunakan sen. Misalnya saja, ys soklat (es coklat) 1,5 sen. Ys sendiri dibaca es. Penempatan datar menu yang seperti itu yang membuat menu-menu di Sido Semi terlihat nyentrik.

Menu-menu itu tak banyak berubah. Masih bisa kita jumpai minuman yang menjadi andalan Sido Semi mBok Mul, es kacang ijo. Es yang terdiri dari campuran kacang ijo, ketan putih, santan, dengan siraman gula jawa memberikan rasa khusus. Yang spesial dari es kacang ijo ini adalah rasa jahenya yang membuat hangat tenggorokan. Ada pula es campur yang terdiri dari buah-buahan dan tape. Es campur ini dibagi menjadi dua varian, es buah dan es coklat. Es buah yang merupakan campuran dari nangka, nanas, camcau, kolang-kaling, cendol, dan tape yang ditambahi es serut dengan siraman sirup merah menjadikan rasa es ini lekat dengan kesegaran buah-buahan. Sedangkan es coklat, sedikit sama dengan isian es buah, tapi yang membuatnya sangat khas adalah rasa tape yang menggelitik tenggorokan.

Oh ya, deretan botol Sar Saparila yang menjadi sekat antara warung dan dapur membuat kita bisa melihat bagaimana Mbak Yul (cucu Mbah Mul) meracik minuman dan membuat es dengan mesin serut. Bila sedang ramai, kita tidak perlu menunggu lama. Isian dari es-es seperti kacang hijau, camcau, dan tape ketan sudah dipersiapkan sejak pagi sehingga membuat sajian lebih cepat. Mbak Yul tinggal mengambil bahan-bahan tersebut dari stoples-stoples jadul yang berderet-deret di sisi jendela. Mas Agung yang sibuk membuat bakso pun bisa dilihat. Ya, Selain es yang menjadi ciri khas dari Sido Semi mBok Mul, semangkuk bakso bisa kita nikmati di sini. Baksonya pun unik. Alih-alih menggunakan sum-sum sapi sebagai perasa, Bakso mBok Mul menggunakan empal. Dengan resep bakso original yang dibuat mbah Mul sejak jaman Soeharto mulai berkuasa, Bakso mBok Mul dan sambalnya mampu menggoyang lidah kita. Kuah baksonya yang enak membuat lidah kita bakal nagih untuk terus menyeruputnya sampai tetes terakhir.

Untuk yang sedang bokek, jangan khawatir! Di Sido Semi, Anda hanya perlu mengeluarkan Rp 10.000 untuk menikmati semangkuk bakso dan es yang dapat mematahkan mitos "makanan panas dan minuman dingin tidak cocok untuk gigi sensitif". Bila cuaca sedang panas-panasnya, ada beberapa kipas sate yang bisa digunakan. Agak nyentrik memang menyediakan kipas sate bagi pengunjung, namun inilah yang membuat Sido Semi disukai pelanggannya. Bila musim penghujan tiba, ada beberapa minuman hangat seperti tape hangat, campuran tape dengan sirup merah, dan jeruk hangat yang keunikannya terdapat pada kolang-kaling serta nanas yang ditambahkan di dalamnya.

Jam Buka: pk 10.00 - 18.00 WIB, hari Selasa tutup

,


 

Manakah Destinasi Terbaik Di Indonesia

Support : Informasi lalu Lintas | | Traffic Information Center
Copyright © 2012 - 2017. Indonesia Tourism and Travel Information - Paket Wisata - Indonesia Tour Package - TravelEsia.Us - All Logos, Trademarks and Registered Trademarks Are The Property of TravelEsia Corporation.
Website Ini Dikelola Oleh : Devisi IT TravelEsia Published by TravelEsia Tour And Travel
Proudly powered by Flight And Hotel Search Engine