Travel Information :

Showing posts with label Wisata Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Wisata Sejarah. Show all posts

Lembah Besoa : Menapaki Lembah Penuh Misteri yang Menakjubkan

Lembah Besoa - TravelEsia - Lembah Besoa Secara administrasi, Lembah Besoa yang menjadi incaran para pelancong dan juga peneliti ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL). Dengan luas mencapai ribuan kilometer persegi, kawasan ini memiliki banyak hutan yang masih alami, satwa endemis yang memukau seperti tarsius, dan deretan lembah yang mengagumkan.

lembah besoa

Lembah Besoa

Dari beberapa lembah yang hadir dan dikelilingi bukit, Lembah Besoa adalah yang terbaik. Di lembah yang dikelilingi sawah dan pegunungan ini, kamu bisa menemukan banyak situs megalitikum. Banyak patung batu dengan bentuk mirip manusia yang berdiri di atas tanah atau sedikit muncul ke permukaan.

Tadulakao adalah satu satu arca yang paling fenomenal di Lembah Besoa. Patung ini mempunyai simbol panglima di dada, mata bulat melotot, memakai ikat kepala (pekabalu), dan bagian pelipis terdapat benjolan yang menunjukkan telinga, tangan mengarah ke alat kelamin yang menonjol.1 Para ahli arkeolog menduga megalitikum di Lembah Besoa ini berusia 3000-4000 sebelum masehi. Sulit dimengerti bagaimana para leluhur bisa “menciptakan” megalitikum di padang rumput yang dikelilingi oleh perbukitan kecil. Batu mega tersebut dipahat lalu digotong ke Lembah Besoa yang tingginya seribu meter di atas permukaan lautSelengkapnya.

Mengapa Anda Harus Kesana..?? 

lembah besoa
Bertempat di Lembah Bada, Lembah Napu, Lembah Besoa dan Lembah Baso. Batuan-batuan megalithic dengan bentuk cantik ini terhampar diseluruh daerah lembah. Dari yang berbentuk ukiran manusia, hewan , Kalamba dan masih banyak lagi. Menurut sumber yang ada, jumlah bebatuan megalithic ini ada 1.451 buah. Batuan ini merupakan peninggalan pra sejarah yang disinyalir lebih tua dari Candi Borobudur, tetapi belum ada yang mengetahui tujuan dan kegunaan batuan – batuan tersebut pada jaman dahulu.

Kawasan Taman Nasional Lore Lindu merupakan pegunungan yang didominasi oleh batuan granit. Apabila dilihat dari atas akan nampak bentuk-bentuk cantik batuan ukiran yang besar. Batuan megaliyhic ini mempunyai ukuran yang besar, bahkan yang paling besar mencapai ukuran berdiameter 4 meter.

lembah besoa
Batuan megalitihc yang paling terkenal adalah Watu Palindo dengan posisi miring, batuan berada di Lembah Bada. Dinamakan Palindo yang berarti sang penghibur ini betul adanya, Watu Palindo ini nampak berwajah ceria dan ramah. Palindo ini seakan menyirakatkan kesan keramahan khas anak-anak. Tinggi batu ini mencapai sekitar 4 meter dengan ukiran berbentuk tubuh oval memiliki mata yang bulat dan hidung besar yang memanjang kebawah. Pahatan mulut yang dalam berbentuk sebuah senyuman melengkapi indahnya batuan megalithic ini. 

Selain Watu Palindo, Batu yang terkenal lainnya adalah Langka Bulawa. Ukiran batu ini berukiran sosok wanita dan mempunyai arti nama Ratu bergelang kaki emas. Mempunyai ukiran yang hampir sama dengan Watu Palindo tetapi mempunyai kesan raut muka sebagai sosok wanita. Kedua patung ini berjarak sekitar 5 kilometer jauhnya. Namun diantara kedua bebatuan ini juga terdapat bebatuan lain. Decak kagum kepada pemahat batuan ini, karena batuan granit ini terkenal dengan batuan yang sangat keras. Belum diketahui bagaimana mereka memahat dan menghasilkan karya yang begitu cantiknya.

Selain hamparan bebatuan megalithic, di Taman Nasional Lore Lindu ini juga masih kental dengan adat istiadat suku Lore. Selain pemandangan bebatuan dan sawah hijau terbentang, disana juga akan ditemui rumah adat suku lore yang berjajajar. Rumah kayu yang beratap ijuk dan berdinding bambu ini bisa mnejadi pilihan menginap apabila baru berada disana. Warga suku Lore ini sangat ramah apabila ada tamu yang datang ke rumah mereka.

Bagaimana Cara Anda Kesana..??

Untuk mencapai ke Taman Nasional Lore Lindu Lindu bisa menggunakan mobil pribadi. Apabila dari Kota Palu mencari arah tujuan Kota Tantena yang bisa ditempuh selama 7 – 9 jam perjalanan. Dari Kota Tantena menuju ke Lembah Bada bisa ditempuh selama 3 jam perjalanan. Disarankan kendaraan pribadi harus benar-benar fit karena akses jalan apabila hujan akan berlumpur tebal.

Bagaimana Dengan Akomodasinya..??

Ada beberapa shelter dan penginapan di Area Taman Nasional Lore Lindu dengan harga yang bervariasi.

Know Before You Go..!! 


  • lembah besoaDari beberapa lembah yang hadir dan dikelilingi bukit, Lembah Besoa adalah yang terbaik. Di lembah yang dikelilingi sawah dan pegunungan ini, kamu bisa menemukan banyak situs megalitikum. Banyak patung batu dengan bentuk mirip manusia yang berdiri di atas tanah atau sedikit muncul ke permukaan.
  • Sebelum sampai ke kawasan yang cukup tersembunyi di dalam hutan yang tebal, kamu harus melalui medan yang cukup ganas. Saat musim hujan, jalanan yang terletak di tengah hutan akan dipenuhi lumpur. Untuk menerobos kamu membutuhkan kendaraan besar seperti jeep atau motor trail yang kadang masih terperangkap.
  • Disarankan datang ke Lembah Besoa  saat musim kemarau saja. Selain menghindari medan yang cukup menantang, hujan-hujan di tengah hutan yang masih liar dan dipenuhi binatang buas juga sangat berbahaya. Jadi, sebelum membelah hutan, pikirkan terlebih dahulu dengan matang.
  • lembah besoaSetelah perjalanan yang cukup menantang dan melelahkan, kamu akan tiba di padang yang sangat luas dan dipenuhi oleh situs megalitikum. Banyak patung batu yang sampai sekarang tidak juga diketahui siapa pembuatnya dan fungsinya untuk apa. Semua berjajar dan ada beberapa yang masih terpendam dan dibiarkan begitu saja agar keasliannya terjaga.
  • Selain patung batu yang masih berselimut misteri, beberapa batu dengan model kuali atau alat masak juga ditemukan di sini. Semuanya masih lengkap meski beberapa di antaranya pecah karena ulah manusia atau faktor alam. Rata-rata benda megalitikum yang ditemukan di sini berusia ribuan tahun.
  • Selain menemukan banyak patung batu yang sangat tua, kamu juga bakalan menemukan rumah kuno yang kerap dijadikan spot berfoto. Rumah yang berbentuk segi empat dengan atap piramida ini dilapisi oleh daun rumbia serta beberapa ijuk. Bagian bawah dari rumah ini disangga oleh kayu dan tidak memiliki dinding pelindung.
Jadi bagaimana Sahabat TravelEsia Apakah Anda tertarik untuk Menapaki Lembah Penuh Misteri yang Menakjubkan.sempatkanlah untuk mengujungi Lembah Besoa Mari kita dukungindonesia sebagai destinasi wisata dunia.
,


Benteng Otanaha: Menjelajahi Situs Sejarah Perjuangan Yang Terlupakan

Benteng Otanaha - Wisata Sejarah - Benteng Otanaha - Gorontalo pada hakikatnya berasal dari kata Hulanthalo, yang kemudian beralih menjadi Gorontalo sebagai sebutan bangsa Belanda yang kesusahan mengucapkan kata ini. Gorontalo merupakan sebuah daerah yang terletak di Pulau Sulawesi bagian utara. Daerah ini dihuni oleh etnis suku Gorontalo, dengan Bahasa Gorontalo sebagai bahasa daerahnya. Pada masa sebelum reformasi, Gorontalo termasuk bagian dari Provinsi Sulawesi Utara sebelum menjadi provinsi sendiri pada tahun 2000.
benteng otanaha

Benteng Otanaha

konon didirikan pada tahun 1522 oleh Raja Gorontalo saat itu, Raja Ilato (1505 – 1585) atas kerja sama dengan Bangsa Portugis sebagai pusat pertahanan Kerajaan Gorontalo. Benteng ini terbuat dari bahan-bahan berupa pasir, batu kapur dan telur burung Maleo sebagai bahan perekatnya, dengan diameter sekitar 20 meter, dan tinggi sekitar 7 meter. 

Benteng Otanaha yang terletak di atas bukit ini terdiri dari tiga bagian, yang disebut dengan Benteng Otanaha, Otahiya, dan Ulupahu. Namun, dalam perkembangannya, keseluruhan kompleks benteng lebih dikenal dengan nama Benteng Otanaha .Tahun 1978-1981 Benteng Otanaha telah mengalami pemugaran, dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Situs sejarah ini kini telah berubah menjadi salah satu objek wisata di Kota Gorontalo. 

Mengapa Anda Harus Kesana..??

Benteng Otanaha
Sudah lima abad berdiri, Benteng Otanaha tak kehilangan sedikitpun aura kekokohannya. Wajahnya yang kusam menghitam malah menyiratkan ketangguhannya melintasi zaman. Otanaha menjadi tengara bersejarah kebanggaan masyarakat Gorontalo. Bertengger di atas perbukitan yang memeluk mesra Danau Limboto, Benteng Otanaha menawarkan ruang untuk mengenang sejarah sambil menikmati lanskap menawan alam Gorontalo.  

Selain Otanaha sebagai benteng utama, terdapat juga dua benteng lain yakni Otahiya dan Ulupahu. Otahiya berasal dari nama istri Naha, yakni Ohihiya. Ulupahu merupakan nama dari putra Naha. Kisah-kisah sejarah Benteng Otanaha ini selanjutnya digunakan sebagai benteng-benteng pertahanan raja-raja di Gorontalo dalam menghadapi perlawanan musuh.

Pada masa kini, saya hadir di Benteng Otanaha dalam sebuah perjalanan untuk mengenang sejarah bangsa tatkala berkunjung di Gorontalo. Lokasi Otanaha tidaklah jauh dari pusat kota Gorontalo. Benteng Otanaha berlokasi di kelurahan Dembe I, kecamatan Kota Barat, Kabupaten Gorontalo, tidaklah jauh, sekitar 8 km dari pusat kota Gorontalo. Benteng Otanaha menjadi destinasi andalan perjalanan di Gorontalo.

Benteng Otanaha
Uniknya, benteng dibangun dari susunan batu yang dilekatkan dengan perekat berbahan campuran kapur dan putih telur burung maleo. Burung Maleo ini adalah burung khas Sulawesi dan keberadaannya sekarang sudah sangat langka dan dilindungi. Kontruksi bangunan demikian berlaku juga untuk Benteng Otahiya dan Ulupahu. Kedua benteng ini terletak di dataran yang lebih rendah. Dari arah Danau Limboto, Otahiya berada di belakang Otanaha berjarak sekitar 40 meter, sedangkan Ulupahu di depan Otanaha berjarak sekitar 200 meter. Dari Otanaha, saya bisa melihat dua benteng tua ini dengan jelas.

Menyaksikan lanskap dari Benteng Otanaha, melemparkan saya pada realitas daerah Gorontalo yang begitu lapang. Langit biru dengan awan berarak dibenturkan cakrawalanya oleh perbukitan yang di kakinya dihiasi pemukiman dan persawahan yang bergantian anyam menganyam panorama. Seluruh panorama lantas bersatu padu untuk mendukung atraksi utama yakni Danau Limboto yang tampak begitu luas dengan ‘lukisan’ petak-petak hijau bersebaran di tengahnya.   

Ya, Benteng Otanaha juga setia bercokol menjadi saksi bisu pendangkalan Danau Limboto. Selama puluhan tahun lamanya Danau Limboto mengalami sedimentasi dan erosi hebat akibat tidak terjaganya alam di Gorontalo.Terlebih Danau Limboto menjadi muara lima sungai besar di Gorontalo. Dari atas Benteng Otanaha, saya pun berharap dan berdoa agar danau terluas di Gorontalo ini bisa kembali lagi keindahannya dan pulih fungsinya sebagai pusat tangkapan air di Gorontalo.
Momen pagi juga sangat bagus untuk menikmati lanskap sebuah benteng kuno yang berhiaskan panorama ‘misty’ Danau Limboto yang menguning ditimpa baskara pagi. Pagi hari di Otanaha adalah ruang bahagia bagi para penikmat fotografi. Untuk yang sekedar mendamba penyegaran kehidupan, semarak kicauan burung-burung juga turut mewarnai suasana syahdu Benteng Otanaha kala pagi hari. Sambil dihibur mereka, kita bisa menghirup dalam-dalam udara segar khas perbukitan sambil menikmati panorama alam. Ini sungguh momen yang menyenangkan dan menenangkan.

Bagaimana Cara Anda Kesana..??

Benteng Otanaha
Menjangkau Benteng Otanaha dengan menyewa bentor, yakni becak yang dimodifikasi dan dipasang mesin bermotor. Bentor ini sangat mudah ditemui di Kota Gorontalo yang memiliki peran seperti taksi di kota-kota besar. begitu banyaknya bentor, kendaraan ini pun turut mewarnai identitas kota. Gorontalo lantas dikenal juga sebagai Kota Bentor. Dengan menggunakan bentor yang begitu lincah melintasi jalanan Gorontalo yang belum ramai ini, Sahabat TravelEsia bisa menikmati kekhasan dan sensasi moda transportasi khas Gorontalo.

Sesampai di gerbang wisata, ada dua pilihan menuju benteng yang berada di sebuah puncak bukit. Berjalan menaiki tangga atau menggunakan transportasi sampai tempat parkir di bawah benteng. Sahabat TravelEsia memilih berangkat dengan naik tangga dan pulangnya minta dijemput  bentor di samping benteng. Kenapa? Dengan berjalan menaiki anak tangga yang berjumlah 348 ini, Sahabat TravelEsia perlahan menikmati pesona lanskap Limboto sekalian mengolahragakan badan.

Jangan khawatir akan kelelahan. Sahabat TravelEsia tidaklah perlu buru-buru karena ada empat titik persinggahan. Dari dasar ke tempat persinggahan I terdapat 52 anak tangga, ke persinggahan II terdapat 83 anak tangga, ke persinggahan III terdapat 53 anak tangga, dan ke persinggahan IV memiliki 89 anak tangga. Sementara ke area benteng terdapat 71 anak tangga lagi. Saya manfaatkan di tiap titik persinggahan untuk rehat sejenak sambil menghirup udara segar di kawasan yang dikelilingi perbukitan hijau dan menyesap indah panorama Limboto.

Benteng Otanaha
Sahabat TravelEsia akan disambut oleh pintu masuk benteng yang berwujud lengkungan begitu tiba di puncak. Melalui pintu itu, saya memasuki halaman tengah Benteng Otanaha yang berbentuk lingkaran penuh yang sudah berhamparkan rerumputan. Ukuran Benteng Otanaha ini tidaklah besar dan hanya berdiameter sekitar 10 meter. Tinggi dinding benteng sekitar 2-3 meter dan tebalnya sekitar 1 meter.

Uniknya, benteng dibangun dari susunan batu yang dilekatkan dengan perekat berbahan campuran kapur dan putih telur burung maleo. Burung Maleo ini adalah burung khas Sulawesi dan keberadaannya sekarang sudah sangat langka dan dilindungi. Kontruksi bangunan demikian berlaku juga untuk Benteng Otahiya dan Ulupahu. Kedua benteng ini terletak di dataran yang lebih rendah. Dari arah Danau Limboto, Otahiya berada di belakang Otanaha berjarak sekitar 40 meter, sedangkan Ulupahu di depan Otanaha berjarak sekitar 200 meter. Dari Otanaha, Sahabat TravelEsia bisa melihat dua benteng tua ini dengan jelas.

Benteng Otanaha
Untuk mencapai benteng yang berada di atas bukit, disediakan sarana berupa anak tangga sebanyak 348 buah dengan 4 buah tempat peristirahatan.Meskipun telah menjadi salah satu warisan cagar budaya yang dilindungi, tetapi nilai historis Benteng Otanaha seolah luput dari perhatian pihak terkait khususnya para arkeolog, sejarawan, dan pemerintah. 

Mayoritas sejarah dan kisah tentang Benteng Otanaha hanya bersumber dari cerita rakyat. Tulisan yang dapat ditemukan mengenai situs sejarah ini hanya berasal dari laporan maupun testimoni para pelancong dan wisatawan. Merujuk pada wikipedia, belum ada hasil penelitian sejarah yang pasti mengenai sejarah pembangunan Benteng Otanaha.

Bagaimana Dengan Akomodasinya..?? 

Untuk mencapai benteng ini juga mudah, 30 menit dari Kota Gorontalo ke arah Danau Limboto. Untuk sampai ke atas bisa dengan berjalan kaki melalui 1000 anak tangga atau membawa kendaraan sampai di atas bukit dan diparkir di depan benteng. Pengunjung akan dikenai tiket masuk sebesar 5.000 rupiah dan sudah bisa menikmati suasana Benteng Otanaha sepuasnya. 

Know Before You Go..!! 

Benteng Otanaha
  • Sangat bijak bila Anda selalu menyediakan air untuk diminum dalam kemasan yang mudah dibawa
  • Jas Hujan, Topi,Sleeping Bad Dan Sediakan Sepatu Boots
  • Disekitar lokasi, sesekali kita ada melihat papan peringatan yang menghimbau para pengunjung untuk tidak merusak lingkungan 
  • Benteng ini konon dibangun oleh pejuang-pejuang Gorontalo sebagai benteng pertahanan untuk melawan Belanda.
  • Konstruksi benteng berbentuk bulat dengan pondasi dari batu-batu alam. Tinggi benteng sekitar 7 meter dan diameter benteng mungkin sekitar 20 meter.Terdapat 3 benteng yang dihubungkan dengan jalan setapak untuk menuju ke tiap-tiap benteng.Lokasinya yang berada di atas bukit memang sangat strategis sebagai benteng pertahanan sekaligus menara intai saat jaman perang dahulu.
  • Panorama yang ditawarkan dari Benteng Otanaha adalah panorama Kota Gorontalo dan Danau Limboto.Sepanjang mata memandang, mata dimanjakan pemandangan yang bagus karena lokasi benteng yang berada di ketinggian memang memungkinkan untuk melayangkan pemandangan ke mana saja.
  • Karena letaknya yang berada dipuncak bukit maka dari benteng ini dapat dilihat pemandangan danau limboto. Selain benteng Otanaha didekatnya pula dua buah benteng yaitu benteng Otahiya dan Ulupahu.
Jadi bagaimana Sahabat TravelEsia Apakah Anda tertarik untuk menjelajahi Situs Sejarah Perjuangan ini,Jika anda mengunjungi kita gorontalo,sempatkanlah untuk mengujungi Benteng Otanaha Mari kita dukungindonesia sebagai destinasi wisata dunia.
,


Mengenal 6 Wisata Sejarah Surabaya

Wisata Sejarah Surabaya - TravelEsia - Sahabat TravelEsia pada rubrik #WisataSejarah Kali Ini,TravelEsia akan mengajak anda untuk mengenal 6 Wisata Sejarah Surabaya.Surabaya merupakan kota terbesar kedua setelah Jakarta. Dengan populasi penduduk sekitar 3 juta orang, Surabaya telah menjadi kota Metropolis dengan beberapa keanekaragaman yang kaya di dalam nya. Selain itu, Surabaya saat ini juga telah menjadi pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di Indonesia.
Wisata Sejarah Surabaya

Wisata Sejarah Surabaya

dikenal sebagai Kota Pahlawan, hal ini terjadi sejak adanya pertempuran rakyat Surabaya melawan tentara Belanda dalam revolusi kemerdekaan Indonesia. Nama Surabaya, sesuai dengan etimologinya, berasal dari kata Sura ata Suro dan Baya atau Boyo, dalam bahasa Jawa. Suro adalah jenis ikan hiu, sedang boyo adalah istilah bahasa jawa untuk buaya. Menurut mitos, dua hewan ini adalah binatang paling kuat yang juga menjadi simbol kota Surabaya sampai saat ini. Pendapat lain mengatakan, bahwa nama Surabaya juga diambil dari istilah Sura Ing Baya, yang berarti "berani menghadapi bahaya".

Sesuai dengan sebutannya Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan yang memiliki banyak lokasi wisata sejarah,berikut 6 Wisata Sejarah Surabaya TravelEsia Rangkum untuk anda.

1.Museum Surabaya

Wisata Sejarah Surabaya
Museum yang di resmikan oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini berisikan koleksi benda-benda bersejarah terkait perjalanan Kota Surabaya, yang berada di lantai I Gedung Siola Surabaya, Minggu 3 Mei 2015.Sekitar 1.000 benda-benda memiliki nilai sejarah bagi Surabaya tempo dulu.Koleksi museum, di antaranya arsip kependudukan sejak tahun 1837, baju dinas Pemadam Kebakaran sejak zaman Belanda dan dua becak yang berwarna biru dan putih.Kenapa becak biru dan putih ? Ada sejarah unik dari becak yang dipajang di dalam museum ini. 

Dulu, becak berwarna biru merupakan becak untuk mengangkut penumpang pada pagi hari. Sementara becak yang berwarna putih digunakan pada malam hari.Dan yang menarik adalah salah satu sudut terdapat deretan foto Wali Kota Surabaya, mulai dari Wali Kota pertama, Mr A Meyroos, yang menjabat pada 1916 hingga 1920, sampai era Tri Rismaharini sekarangKoleksi yang ada di dalam museum ini dibuat dengan tema-tema khusus. Misalnya, tentang sejarah daftar Wali Kota Surabaya, catatan kependudukan, penanganan kebakaran (contohnya mobil pemadam kebakaran era 60-an yang dulunya dipakai untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di SIOLA), juga pengelolaan kota dan transportasi.

2.Museum HOSSampoerna

Wisata Sejarah Surabaya
Terletak di "kota Surabaya lama", bergaya kolonial Belanda.Bangunan ini dibangun pada tahun 1862 dan sekarang menjadi museum sejarah yang menjadi salah satu icon Surabaya. Sebelumnya digunakan sebagai panti asuhan yang dikelola oleh Belanda, dan dibeli pada tahun 1932 oleh Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna, dengan tujuan digunakan sebagai fasilitas produksi rokok Sampoerna.

Sisi bangunan dikonversi untuk tempat tinggal keluarga dan kerabat di tambah struktur gudang untuk mengakomodasi fasilitas untuk tembakau dan pengolahan cengkeh,blending, tangan-rolling dan kemasan, percetakan dan pengolahan akhir.Bangunan ini masih berfungsi sebagai pabrik produksi untuk rokok paling bergengsi di Indonesia, Dji Sam Soe.Auditorium sentral asli sekarang menjadi museum dan toko. Sisi timur telah berubah menjadi struktur yang unik yang berisi kafe dan galeri seni. Bangunan di sisi barat tetap tinggal keluarga resmi. Dalam peringatan ulang tahun ke-90 Sampoerna di tahun 2003, kompleks utama telah susah payah renovasi dan sekarang terbuka untuk umum.

3.Monumen KapalSelam (Monkasel)

Wisata Sejarah Surabaya
Monkasel adalah sebuah museum kapal selam yang tentunya kapal selamnya asli yaitu KRI Pasopati 410, salah satu armada Angkatan Laut Republik Indonesia buatan Uni Soviet tahun 1952 memiliki panjang 76,6 meter dan lebar 6,30 meter dilengkapi dengan gas uap torpedo berjumlah 12 buah. Kapal selam ini juga dulunya digunakan Pertempuran Laut Aru untuk membebaska Irian Barat dari pendudukan BelandaMonkasel ini ada di pusat kota tepatnya di Embong Kaliasin, Genteng, Surabaya tepat di sebelah Plaza Surabaya. 

Selain itu ditempat wisata ini juga terdapat pemutaran film, di film itu nanti akan ditampilkan proses peperangan yang terjadi di Laut Aru.Ditambah disana terdapat persewaan kayak, ditambah lagi belakang Monkasel terdapat taman Skate jangan sampai anda kelewatan untuk mampir.

Kayak adalah sebuah perahu kecil bertenaga manusia, biasanya dengan bagian depan dan belakang tertutup, sehingga hanya menyisakan lubang seukuran awak. Kayak dilengkapi dengan dayung berkepala tunggal atau ganda.

4.Tugu Pahlawan

Wisata Sejarah Surabaya
Tugu Pahlawan adalah sebuah monumen yang menjadi markah tanah Kota Surabaya. Monumen ini setinggi 41,15 meter berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (Canalures) sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945. 

Suatu tanggal bersejarah, bukan hanya bagi penduduk Kota Surabaya, tetapi juga bagi seluruh Rakyat Indonesia. Tugu Pahlawan dibangun untuk memperingati peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, dimana arek-arek Suroboyo berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia. Monumen Tugu Pahlawan menjadi pusat perhatian setiap tanggal 10 November mengenang peristiwa pada tahun 1945 ketika banyak pahlawan yang gugur dalam perang kemerdekaan

5.Museum Kesehatan

Wisata Sejarah Surabaya
Dalam rangka untuk menyelamatkan dan melestarikan warisan budaya bangsa, Departemen Kesehatan Indonesia melalui Pusat Pengembangan Riset Teknologi dan Pelayanan Kesehatan di Surabaya, memprakarsai sebuah museum kesehatan sejak tahun 1990.Museum ini mengumpulkan dan menampilkan beberapa peralatan kesehatan bersejarah sejak waktu awal waktu sampai sekarang. Secara formal pada tanggal 14 September 2004, Menteri Kesehatan meresmikan museum ini dan bernama "Museum Kesehatan Dr Adhyatma dari, MPH - Depkes".

Dalam perkembangannya, mungkin saat ini kita selalu dilayani dengan alat-alat medis dengan tehnologi tinggi dan canggih, tapi kita juga perlu tahu bahwa di waktu-waktu awal, terdapat alat-alat medis sederhana yang turut berperan dalam hal medis.Oleh karena itu, melalui Museum Kesehatan ini diharapkan menjadi media pendidikan atau pusat pembelajaran bagi masyarakat dan komunitas yang peduli tentang upaya kesehatan.Tujuan dari museum ini dibangun untuk menyimpan dan melestarikan benda-benda bernilai historis dalam hal kesehatan sampai sekarang. 

Selain itu museum ini juga berfungsi memberikan informasi kepada generasi sekarang dan generasi mendatang tentang seluk-beluk kesehatan, budaya ilmu pengetahuan sejarah, dan sebagainya.Sementara ruang pameran secara teknis dalam museum ini dipertunjukkan dalam ruangan yang berbeda yang disebut 'Sasana ", yaitu:
1. Sasana AdhyatmaSasana ini menyajikan berbagai koleksi Adhyatma MPH Dr an ketika ia menjabat sebagai Menteri Kesehatan pada tahun 1988 hingga 1993. Ada juga koleksi prasasti.
2. Sasana KencanaDi ruangan ini dipamerkan berbagai benda bersejarah dari dekorasi, lencana dari logam mulia, surat penghargaan dan sebagainya. Di ruangan itu juga disajikan sejarah dan profil kesehatan pelopor museum.
3. Sasana Kespro (Kamar Kesehatan Reproduksi)Ruangan ini menyimpan dan menampilkan berbagai item / peralatan kesehatan reproduksi termasuk; kesehatan ibu dan anak-anak dari berbagai budaya, kesehatan kehamilan, persalinan dan keluarga berencana.
4. Sasana Genetika (Kamar Genetika)Dalam ruangan ini menunjukkan garis keturunan dan silsilah, seperti silsilah keluarga kerajaan di Indonesia.

Wisata Sejarah Surabaya
5. Sasana Kesehatan Budaya (Kamar Budaya Kesehatan)Di ruangan ini, menampilkan beberapa alat medis yang terkait dengan kepercayaan atau supranatural dan dunia gaib yang berkembang di masa lampau.
6. Sasana FaunaKita harus tetap waspada terhadap hewan di sekitar kita. Berbagai binatang bisa menjadi mediator penyakit (vektor), tetapi ada juga beberapa binatang yang berkhasiat sebagai obat dan membantu kita semua. Untuk semua informasi tersebut, terdapat di ruangan ini.
7. Sasana Medik dan Non Medik (Kamar Medis Dan Non Medis)Berbagai peralatan kesehatan medis dan non-medis yang disimpan dan ditampilkan di ruangan ini. Benda-benda yang digunakan oleh lembaga kesehatan di masa lalu dan menjadi layanan historis yang besar bagi kesehatan masyarakat kita.

6.Museum Loka Jala Crana

Wisata Sejarah Surabaya
Pada awal mulanya, Museum Loka Jala Crana dibangun pada 19 September 1969 dengan nama Museum Angkatan Laut, yang disahkan oleh Ibu R Mulyadi. Sesuai dengan namanya, museum angkatan laut didedikasikan untuk kadet angkatan laut dan sebagai pembelajaran dalam hal sejarah. Dengan berjalannya waktu, museum ini berubah nama menjadi Museum TNI-AL pada tanggal 10 Juli 1973. Akhirnya, pada perubahan terakhir museum ini sudah berubah menjadi Museum Angkatan Laut Loka Jala Crana pada tanggal 6 Oktober 1979.

Museum Loka Jala Crana ini terletak di Morokrembangan, di Kecamatan Krembangan, Surabaya dan di bawah naungan Akademi Angkatan Laut dan Komando, Pendidikan & Pengembangan Angkatan Laut untuk tentara, petugas dan sersan.Museum ini mengingatkan sejarah tentang Angkatan Laut, yaitu tentang Revolusi Fisik, ditambah lagi museum ini memiliki koleksi yang berhubungan dengan revolusi, termasuk kapal perang dengan meriam, pesawat, helikopter, Tank Amfibi PT 76, bidang artileri dan pertahanan udara, senjata api; dari pistol kuno laras panjang sampai otomatis yang mungkin tidak dapat ditemukan di tempat lain. 

Selain itu, ada juga miniatur kapal perang KRI yang lengkap dengan bingkai cerminnya. Miniatur ini dibuat sesuai dengan armada asli yang digunakan untuk memperkuat Republik Indonesia.Setelah itu, terdapat juga replika kapal Dewaruci yang terkenal, dimana kapal aslinya masih beroperasi sampai sekarang. 

Kapal ini difungsikan untuk melatih kadet untuk berlayar selama berbulan-bulan, sebelum akhirnya mereka di tugaskan di lautan lepas.Keberadaan Museum Al Loka Jala Crana ini ibarat sebuah album kenangan yang berisi tentang perjuangan Angkatan Laut Indonesia yang berjuang mempertahankan wilayah nusantara.Secara umum museum ini dapat diklasifikasi dalam dua bagian. Pertama, bagian gedung yang terdiri dari Anjungan Utama, Planetarium dan Anjungan Joang. Kedua, pameran taman yang berisi pesawat Gannet, meriam kapal De Zeven Provincien, tank Amphibi PT-76, meriam peninggalan VOC, meriam Bofors L.60 penembak Allan Pope, meriam instruksi dan monumen pendidikan perwira.
,


Perjanjian Tumbang Anoi : Menelisik Sejarah Perjanjian Sakral Suku Dayak

Perjanjian Tumbang Anoi - Wisata Sejarah - Perjanjian Tumbang Anoi Terjadinya perang antar suku Dayak Ngaju dari Kahayan, Kalimantan Tengah dengan suku Dayak Kenyah Mahakam, Kalimantan Timur sebagai akibat adanya kesalah fahaman yang titik akar permasalahannya adalah memperebutkan lokasi tempat berusaha pengambilan (memanen) getah Nyatu.Lokasi tempat usaha pengambilan getah Nyatu ini sehari harinya adalah tempat usaha memanen getah Nyatu oleh orang Dayak Ngaju Kahayan. Lokasi daerah tempat pengambilan getah Nyatu ini terletak di antara perbatasan wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur tepatnya di pegunungan Puruy Ayau dan Puruk Sandah. Di mana perang antar Suku Dayak ini semakin memanas di kedua belah pihak dengan cara saling kayau mengayau (Memburu / mencari kepala manusia).
Perjanjian Tumbang Anoi

Perjanjian Tumbang Anoi

Perang Kayau yang terjadi antar suku Dayak di pedalaman tersebut akhirnya di ketahui oleh pihak pemerintah Hindia Belanda (hedehh) yang berkedudukan di Nanga Pinuh Kalimantan Barat yang berusaha mencari solusi untuk menyelesaikan pertikaian tersebut dengan cara berusaha untuk menghentikan perang Kayau yang sedang terjadi dan berusaha untuk menetapkan keseragaman hukum adat untuk seluruh masyarakat suku Dayak di Kalimantan.

Tujuan di adakannya hukum adat ini sebagai pedoman kebersamaan untuk persatuan, pegangan serta penafsiran untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang sewaktu waktu bisa saja terjadi. Damang Batu di Tumbang Anodi Pulau Puruk, Bukit Batu Desa Tumbang Manange atau Upon Batu ( sekarang Kecamatan Tewah). tokoh masyarakat Dayak ini berinisiatif untuk melakukan pertemuan damai antara para pemimpin suku Dayak dari seluruh Kalimantan. 

Persiapan Pertemuan

Perjanjian Tumbang Anoi
  • Maka di mulailah persiapan selama 3 (tiga) tahun untuk dapat terlaksananya pertemuan besar adat yang rencananya akan di hadiri oleh sekitar lebih kurang dari 600 (enam ratus) orang utusan dari seluruh daerah Kalimantan dan sekitar lebih dari 1000 (seribu) orang dan rapat akan di laksanakan selama tiga bulan yang tentu saja membutuh dana yang besar untuk konsumsi para tamu dan keperluan lainnya. Untuk melaksanakan persiapan menyambut kedatang para utusan besar tersebut , maka Damang Batu (Ketika itu Damang Batu sudah berumur 73 tahun tapi masih kelihatan sehat, Perawakan Tinggi dan agak Kurus) dan penduduk Tumbang Anoi :
  • membuka ladang di beberapa bukit yang di tanami parey (padi), ubi kayu (jawaw) selama tiga tahun.
  • Menyediakan sekitar kurang lebih 60 ekor kerbau.
  • Menyediakan lebih dari 100 (seratus) ekor sapi.
  • Ratusan ekor babi dan ayam.setelah berakhir musim panen rapatpun dapat terlaksana dengan sukses di rumah adat Betang milik Damang Batu selaku pengundang yang di hadiri oleh para Tokoh atau Pemimpin masyarakat suku Dayak dari seluruh Kalimantan.
Damang Batu saat itu menyanggupi untuk menjadi tuan rumah Perjanjian Tumbang Anoi sekaligus menanggung biaya pertemuan yang direncanakan berlangsung selama 3 bulan tersebut. Karena semua yang hadir juga tahu bahwa Damang Batu memiliki wawasan yang luas tentang adat-istiadat yang ada di Kalimantan pada waktu itu, maka akhirnya semua yang hadir setuju.

 Pertemuan Pendahulun Ini Disepakati Bahwa

Perjanjian Tumbang Anoi
1. Pertemuan damai akan dilaksanakan di Lewu (kampung) Tumbang Anoi, yaitu di Betang tempat tinggalnya Damang Batu.
2. Diberikan waktu 6 bulan bagi Damang Batu untuk mempersiapkan acara.
3. Pertemuan itu akan berlangsung selama tiga bulan lamanya.
4. Undangan disampaikan melalui tokoh/kepala suku masing-masing daerah secara lisan sejak bubarnya rapat di Tumbang Kapuas.
5. Utusan yang akan menghadiri pertemuan damai itu haruslah tokoh atau kepala suku yang betul-betul menguasai adat-istiadat di daerahnya masing-masing.
6. Pertemuan Damai itu akan di mulai tepat pada tanggal 1 Januari 1894 dan akan berakhir pada tanggal 30 Maret 1894.

Tumbang Anoi menjadi tempat perdamaian sebelum abad 19 upaya-upaya perdamaian itu memang sudah mulai dilakukan oleh beberapa pihak. Rapat atau Pumpung di Tumbang Anoi memang di prakarsai oleh Belanda, dan dipilih desa tersebut mengingat letaknya yang berada di tengah-tengah, sehingga para undangan dari segala daerah dapat dengan mudah datang.Selama lima bulan hingga akhir 1893, Damang Batu tak pernah menetap di desanya. Ia terus berkeliling ke desa lain untuk mengumpulkan makanan. Damang Batu juga menyiapkan 100 kerbau miliknya untuk makanan para undangan. Ia juga meminta masyarakat di Tumbang Anoi dan sekitarnya membangun pondok bagi tamu Undangan Rapat.

Hasil Perjanjian

Perjanjian Tumbang Anoi
1. Menghentikan permusuhan antar sub-suku Dayak yang lazim di sebut 3H Hakayou (saling mengayau), Hapunu (saling membunuh), dan Hatetek (saling memotong kepala) di Kalimantan (Borneo pada waktu itu).
2. Menghentikan sistem Jipen (hamba atau budak belian) dan membebaskan para Jipen dari segala keterikatannya dari Tempu (majikannya) sebagai layaknya kehidupan anggota masyarakat lainnya yang bebas.
3. Menggantikan wujud Jipen yang dari manusia dengan barang yang bisa di nilai seperti baanga (tempayan mahal atau tajau), halamaung, lalang, tanah / kebun atau lainnya.
4. Menyeragamkan dan memberlakukan Hukum Adat yang bersifat umum, seperti : bagi yang membunuh orang lain maka ia harus membayar Sahiring (sanksi adat) sesuai ketentuan yang berlaku. pada yang digunakan lawannya manusia.
5. Memutuskan agar setiap orang yang membunuh suku lain, ia harus membayar Sahiring sesuai dengan putusan sidang adat yang diketuai oleh Damang Batu. Semuanya itu harus di bayar langsung pada waktu itu juga, oleh pihak yang bersalah.
6. Menata dan memberlakukan adat istiadat secara khusus di masing-masing daerah, sesuai dengan kebiasaan dan tatanan kehidupan yang di anggap baik

Pertemuan yang sangat bersejarah tersebut ternyata menghasilkan kesepakatan Perjanjian Tumbang Anoi yang fenomenal, yakni menghilangkan kemungkinan perang antar suku dan sekaligus menghapus perbudakan dalam sistem tatanan adat suku dayak. Selain itu mereka juga berupaya untuk membentuk tatanan bersama yang diwujudkan dalam kesepakatan untuk menyeragamkan aturan dalam hukum adat yang sifatnya umum.

Sampai sekarang situs peninggalan perjanjian di Tumbang Anoi masih tersisa.Namun atas rekayasa pemerintah Belanda, pada saat itu tempat Perjanjian Tumbang Anoi yang berupa BETANG, dihancurkan oleh tentara belanda agar perjanjian di Tumbang Anoi di anggap tidak ada (katanya) . bahan bangunannya dipindahkan sebagian ke Kuala Kapuas, namun tidak dapat mengangkut semua materialnya karena terbuat dari batang ulin yang sangat dalam tertancap tanah, besar, berat serta medan yang panjang melalui sungai yang panjang untuk mengangkutnya.

Perjanjian Tumbang AnoiTumbang Anoi adalah tempat bersejarah perjalanan masyarakat Dayak. Perjanjian Tumbang Anoi menjadi tempat rapat akbar untuk mengakhiri tradisi ”mengayau” pada tahun 1894. Kini, setelah satu abad berlalu, Tumbang Anoi tetap menjadi sumbu perdamaian bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah. Mengayau atau memenggal kepala musuh dalam perang antarsuku dahulu kala adalah salah satu kebiasaan sejumlah subsuku Dayak di daratan Kalimantan (kini terbagi menjadi wilayah Indonesia, Malaysia, dan Brunei) yang sangat ditakuti. 

Kadangkala, mengayau tidak hanya dilakukan dalam peperangan, tetapi juga ketika merampok, mencuri, atau menduduki wilayah subsuku lain.Sebelum disepakati untuk dihentikan, mengayau makin membudaya karena semakin banyak kepala musuh yang dipenggal (dibuktikan dengan banyaknya tengkorak musuh di rumahnya), seorang lelaki semakin disegani. Bahkan, perselisihan antarsuku terus berlanjut karena masing-masing suku membalas dendam. Perselisihan berkepanjangan itu membuat Residen Belanda di Kalimantan Tenggara yang kini meliputi wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan merasa tidak aman.
  • Dalam bukunya, Pakat Dayak, KMA M Usop menuturkan, Brus, Residen Belanda Wilayah Kalimantan Tenggara, pada Juni 1893 mengundang semua kepala suku yang terlibat sengketa ke Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, untuk membicarakan upaya perdamaian.
  • Dalam pertemuan itu disepakati, harus digelar pertemuan lanjutan yang melibatkan seluruh suku Dayak di Borneo untuk membahas berbagai persoalan yang menjadi akar perselisihan. Namun, menggelar pertemuan lanjutan itu bukan pekerjaan mudah. Ketika itu, akses antarwilayah masih mengandalkan sungai.
  • Satu-satunya kepala suku yang mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah pertemuan akbar itu adalah Damang Batu, salah satu kepala suku Dayak Ot Danum di Tumbang Anoi. Sepulang dari Kuala Kapuas, Damang Batu yang ketika itu berumur 73 tahun langsung memulai pekerjaan besarnya menyiapkan tempat dan logistik.
  • Selama lima bulan hingga akhir 1893, Damang Batu tak pernah menetap di desanya. Ia terus berkeliling ke desa lain untuk mengumpulkan makan an. Ada cerita lain yang menyebutkan, Damang Batu juga menyiapkan 100 kerbau miliknya untuk makan an para undangan. Ia juga meminta masyarakat di Tumbang Anoi dan sekitarnya membangun pondok bagi tamu undangan rapat.
  • Damang Batu jugalah yang menyebarkan undangan rapat secara berantai kepada kepala suku-kepala suku di daratan Kalimantan.Sebanyak 152 suku diundang ke Tumbang Anoi. Dalam rapat yang digelar selama dua bulan sejak 22 Mei hingga 24 Juli 1894 itu, sekitar 1.000 orang hadir. Mereka dari suku-suku Dayak dan sejumlah pejabat kolonial Belanda wilayah Borneo. Usop juga mencatat, sedikitnya 50 kerbau, 50 sapi, dan 50 babi, serta bahan makanan lain seperti beras dan ubi kayu disediakan untuk konsumsi mereka yang hadir ketika itu.Selain mengakhiri tradisi pengayauan, rapat akbar itu juga menyepakati beberapa keputusan penting, di antaranya menghentikan perbudakan dan menjalankan hukum adat Dayak.
  • Dalam catatan sejarah yang ditulis Usop, rapat di Perjanjian Tumbang Anoi itu juga membahas sekitar 300 perkara. Sebanyak 233 perkara dapat diselesaikan, 24 perkara ditolak karena kedaluwarsa atau sudah lebih dari 30 tahun, dan 57 ditolak karena kekurangan bukti.
,


Mengintip Istana-Istana Kerajaan Termegah yang Ada di Indonesia

Istana-Istana Kerajaan Termegah di Indonesia - TravelEsia - Istana-Istana Kerajaan Termegah di Indonesia merupakan rubrik wisata sejarah TravelEsia pada kesempatan kali ini.Sahabat TravelEsia,tidak bisa kita pungkiri bahwa indonesia tidak luput dari sejarah-sejarah kerajaan.banyak kerajaan-kerajaan berdaulat berada di Indonesia. Kerajaan-kerajaan tersebut memiliki sistem pemerintahan sendiri layaknya sebuah negara. Bahkan sebelum masuknya kolonial ke Indonesia, masih banyak kerajaan-kerajaan di Indonesia yang berekspansi dengan menyerang dan menaklukan kerajaan lainnya demi memperluas wilayah kekuasaan. 

Istana Termegah Di Indonesia
Barulah setelah masuknya kolonial-kolonial eropa ke Indonesia, hampir tidak ada lagi kerajaan-kerajaan yang melakukan ekspansi. Bahkan banyak kerajaan-kerajaan tersebut yang justru kehilangan eksistensinya sehingga tidak memiliki wilayah kekuasaan.

Dengan banyaknya kerajaan-kerajaan yang berdiri di Indonesia dimasa lalu, tentunya banyak hal yang diwariskan oleh kerajaan-kerajaan tersebut terhadap Indonesia. Contohnya dibidang arsitektur. Salah satu warisan kerajaan-kerajaan tersebut dibidang arsitektur adalah peninggalan istana kerajaan. Walaupun pada hakekatnya banyak istana-istana kerajaan di Indonesia yang tak terawat dan dibiarkan hancur begitu saja, namun sebagian masih ada yang berdiri megah.

Berikut ini adalah istana-istana kerajaan termegah yang ada di Indonesia Versi TravelEsia :

Istano Basa ( Sumatera Barat)

istana termegah di indonesia
Istano Basa yang lebih terkenal dengan nama Istana Pagaruyung, adalah sebuah istana yang terletak di kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Istana ini merupakan obyek wisata budaya yang terkenal di Sumatera Barat.Istano Basa yang berdiri sekarang sebenarnya adalah replika dari yang asli. Istano Basa asli terletak di atas bukit Batu Patah dan terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804. 

Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun kembali terbakar tahun 1966.Proses pembangunan kembali Istano Basa dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Harun Zain. Bangunan baru ini tidak didirikan di tapak istana lama, tetapi di lokasi baru di sebelah selatannya. Pada akhir 1970-an, istana ini telah bisa dikunjungi oleh umum. Namun pada tahun 2007 istana ini kembali terbakar. Barulah pada tahun 2013 istana ini selesai dibangun secara keseluruhan.

Istana Kadriah ( Kalimantan Barat )

istana termegah di indonesia
Istana Kadriah terletak Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, atau kurang lebih berjarak 200 meter dari Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahaman Alkadrie. Secara historis, Istana Kadriah mulai dibangun pada tahun 1771 M dan baru selesai pada tahun 1778 M. Tak beberapa lama kemudian, Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie pun dinobatkan sebagai sultan pertama Kesultanan Pontianak, dan mendapatkan pengesahan sebagai Sultan Pontianak dari Belanda pada tahun 1779. 

Dalam perkembanganya, istana ini terus mengalami proses renovasi dan rekonstruksi hingga menjadi bentuknya seperti yang sekarang ini. Sultan Syarif Muhammad Alkadri, sultan ke-6 Kesultanan Pontianak, tercatat sebagai sultan yang merenovasi Istana Kadriah secara besar-besaran.Bangunan istana Kesultanan Pontianak seluas 60 meter x 25 meter ini dinamakan Istana Kadriah karena untuk memuliakan nama pendirinya maupun moyang sebelumnya yang memakai nama belakang “al-kadrie”. Dari berbagai istana kerajaan yang terdapat di Kalimantan Barat, Istana Kadriah merupakan istana Melayu terbesar yang berada di wilayah tersebut.Di atas pintu utama istana, terdapat hiasan mahkota serta tiga ornamen bulan dan bintang sebagai tanda bahwa Kesultanan Pontianak merupakan Kesultanan Islam. 

Balairungnya, atau sering juga disebut dengan balai pertemuan, didominasi oleh warna kuning yang dalam tradisi Melayu melambangkan kewibawaan dan ketinggian budi pekerti. Di ruang yang biasanya dijadikan tempat melakukan upacara keagamaan dan menerima tamu ini, terpasang foto-foto Sultan Pontianak, lambang kesultanan,  lampu hias, kipas angin, serta singgasana sultan dan permaisuri.Di sebelah kanan dan kiri ruang utama terdapat 6 kamar berukuran 4 x 3,5 meter dimana salah satunya merupakan kamar tidur sultan. Sedangkan kamar-kamar lainnya dahulunya dijadikan sebagai ruang makan dan kamar mandi.

Di belakang ruang istana terdapat sebuah ruangan yang cukup besar. Di ruangan ini selain untuk menyimpan benda-benda warisan Kesultanan Pontianak, seperti senjata, pakaian sultan dan permaisurinya, foto-foto keluarga sultan, dan arca-arca, juga kediaman sultan dan
keluarganya.Kesultanan Pontianak berlangsung hingga tahun 1952 dan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada masa pemerintahan Sultan ke-8, Sultan Syarif Hamid Alkadrie II. Ia mempunyai peranan penting dalam pembentukan negara kita, yaitu menciptakan lambang negara, Garuda Pancasila. Sejak bergabung dengan NKRI, kesultanan berakhir dan berkembang menjadi Kota Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Barat.

Keraton Kesepuhan ( Cirebon )

istana termegah di indonesia
Keraton Kasepuhan adalah keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Makna di setiap sudut arsitektur keraton ini pun terkenal paling bersejarah. Halaman depan keraton ini dikelilingi tembok bata merah dan terdapat pendopo didalamnya.Keraton ini memiliki museum yang cukup lengkap dan berisi benda pusaka dan lukisan koleksi kerajaan. Salah satu koleksi yang dikeramatkan yaitu kereta Singa Barong. 

Kereta ini saat ini tidak lagi dipergunakan dan hanya dikeluarkan pada tiap 1 Syawal untuk dimandikan.Bagian dalam keraton ini terdiri dari bangunan utama yang berwarna putih. Didalamnya terdapat ruang tamu, ruang tidur dan singgasana raja.

Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506. Ia bersemayam di dalem Agung Pakungwati Cirebon. Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, sedangkan Pangeran Mas Mochammad Arifin bergelar Panembahan Pakungwati I. Sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ia wafat pada tahun 1549 dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua. Nama beliau diabadikan dan dimuliakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.

Memasuki jalan kompleks Keraton di sebelah kiri terdapat bangunan yang cukup tinggi dengan tembok bata kokoh disekelilingnya. Bangunan ini bernama Siti Inggil atau dalam bahasa Cirebon sehari-harinya adalah lemah duwur yaitu tanah yang tinggi. Sesuai dengan namanya bangunan ini memang tinggi dan nampak seperti kompleks candi pada zaman Majapahit.

Dibawah Gapura Banteng ini terdapat Candra Sakala dengan tulisan Kuta Bata Tinata Banteng yang jika diartikan adalah tahun 1451. saka yang merupakan tahun pembuatannya (1451 saka = 1529 M). Tembok bagian utara komplek Siti Inggil masih asli sedangkan sebelah selatan sudah pernah mengalami pemugaran/renovasi. Di dinding tembok kompleks Siti Inggil terdapat piring-piring dan porslen-porslen yang berasal dari Eropa dan negeri Cina dengan tahun pembuatan 1745 M. Di dalam kompleks Siti Inggil terdapat 5 bangunan tanpa dinding yang memiliki nama dan fungsi tersendiri. Bangunan utama yang terletak di tengah bernama Malang Semirang dengan jumlah tiang utama 6 buah yang melambangkan rukun iman dan jika dijumlahkan keseluruhan tiangnya berjumlah 20 buah yang melambangkan 20 sifat-sifat Allah SWT.

Istana Maimun ( Medan )

istana termegah di indonesia
Istana Maimun merupakan peninggalan Kerajaan Deli. Didirikan oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang merupakan keturunan raja ke-9 Kesultanan Deli. Istana ini dibangun pada 26 Agustus 1888 dan baru diresmikan pada 18 Mei 1891.

Bangunan Istana Maimun menghadap ke timur dimana terdiri dari dua lantai dengan tiga bagian yaitu bangunan induk, sayap kiri dan sayap kanan. Di bagian depan sekitar 100 meter berdiri Masjid Al-Maksum yang dikenal sebagai Masjid Raya Medan.

Istana Maimun merupakan salah satu dari sekian istana yang paling indah di Indonesia. Istana ini memiliki arsitektur yang unik dengan perpaduan beberapa unsur kebudayaan Melayu bergaya Islam, Spanyol, India dan Itali. Perpaduan ini menyuguhkan keunikan inilah yang memberikan karakter khas bangunannya.

Pengaruh Eropa terlihat dari ornamen lampu, kursi, meja, lemari, jendela sampai pintu dorong. Pintu bergaya Spanyol menjadi bagian dari arsitektur istana ini. Anda dapat pula melihat pola arsitektur Belanda dari bentuk pintu dan jendelanya yang lebar dan tinggi. Ada pula prasasti marmer di depan tangga ditulis dengan huruf Latin dalam bahasa Belanda.

Kemewahan interior dan bangunan fisik istana ini dimungkinkan karena sejak 2 abad silam wilayah Deli berada dibawah Kesultanan Deli yang mengelola hasil perkebunan, minyak, dan rempah-rempah yang melimpah. Hasil bumi yang luar biasa tersebut memberikan penghasilan sangat besar kepada Kesultanan Deli dengan bukti kehadiran Istana Maimun yang megah.

Istana Siak Sri Inderapura ( Riau )

istana termegah di indonesia
Istana Siak Sri Inderapura merupakan kediaman resmi Sultan Siak yang mulai dibangun pada tahun 1889, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim. Istana ini merupakan peninggalan Kesultanan Siak Sri Inderapura yang selesai dibangun pada tahun 1893. Kompleks istana ini memiliki luas sekitar 32.000 meter persegi yang terdiri dari 4 istana yaitu Istana Siak, Istana Lima, Istana Padjang, dan Istana Baroe. 

Istana Siak sendiri memiliki luas 1.000 meter persegi.Istana Siak memiliki arsitektur bercorak Melayu, Arab, dan Eropa. Bangunannya terdiri dari dua lantai. Lantai bawah dibagi menjadi enam ruangan sidang: Ruang tunggu para tamu, ruang tamu kehormatan, ruang tamu laki-laki, ruang tamu untuk perempuan, satu ruangan di samping kanan adalah ruang sidang kerajaan, juga digunakan untuk ruang pesta. Lantai atas terbagi menjadi sembilan ruangan, berfungsi untuk istirahat Sultan serta para tamu istana. Di puncak bangunan terdapat enam patung burung elang sebagai lambang keberanian Istana.

Istana Malige ( Sulawesi Tenggara )

istana termegah di indonesia
Istana Malige adalah istana yang didirikan oleh sultan Buton yang ke 37 bernama La Ode Hamidi. Menurut tradisi kesultanan Buton, setiap pangeran yang hendak diangkat menjadi sultan haruslah mampu membangun istananya sendiri. Kata malige sendiri bermakna mahligai.Salah satu keistimewaan sekaligus juga keunikan bangunan Malige kesultanan Buton ini adalah tak digunakannya paku untuk membangun istana. Seluruh bangunan yang terdiri dari empat lantai terbuat dari kayu. Pasak dan struktur tiang-tiang penyangga yang kokoh tanpa paku, menunjukkan tingginya perhitungan dan akurasi arsitektur nenek moyang orang Buton. Sebuah mahakarya dan warisan budaya yang tak ternilai harganya.

Struktur bangunannya sangat unik yaitu rumah panggung dari kayu bersusun tiga , membangun istana ini tidak menggunakan paku, hanya dikaitkan satu sama lainnya   dan merupakan suatu kemajuan bidang arsitektur para leluhur bangsa indonesia.

Istana Malige ini digunakan oleh Sultan La Ode Hamidi sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal keluarganya. dan sekarang digunakan museum tempat menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Buton, seperti meriam kuno dan benda-benda peninggalan lainnya.
Konon setiap raja naik tahta dibuatkan sebuah istana sejenis ini sehingga jumlahnya  ada sekitar 38 Istana yang sejenis.

Kata Malige sangat dikaitkan dengan Istana Malige di Buton. Peninggalan dari Peradaban Pulau Buton masa lampau yang beraneka ragam. Pulau Buton dikenal dengan seribu pulau, seribu benteng dan istilah seribu lainnya.Kamali/Istana Malige (berarti pula Mahligai) adalah salah satu dari peninggalan arsitektur tradisional Buton. Dapatlah dikatakan sebagai hasil dan kekayaan dari proses budaya (cultural process). Dalam hal ini Kamali/Istana Malige merupakan sebuah artefak yang keberadaannya dapat mengungkap berbagai sistem kehidupan masyarakat, termasuk sistem sosial dan kepercayaan (religi) Bentuk lantai dan atapnya yang bersusun menunjukkan kebesaran dan keagungan Sultan. Bentuk tersebut menggambarkan fungsi Sultan sebagai pimpinan agama, pimpinan kesultanan sebagai pengayom dan pelindung rakyat.

Kedaton Kutai Kartanegara ( Kalimantan Timur )

istana termegah di indonesia
Kedaton terletak di pusat Kota Tenggarong, terletak di belakang Museum Mulawarman dan di depan Monumen Pancasila Tenggarong atau Jalan Monumen barat. Dan letaknya tidak jauh dari Museum Mulawarman, Planetarium Jagad Raya dan Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin. Dibangun pada tahu 2001 dan sejarah dibukanya objek wisata ini adalah untuk melestarikan budaya Kutai. Pihak Kesultanan membuat Lembaga Adat dan Dewan Adat di setiap daerah-daerah yang merupakan wilayah Kerajaan Kutai sebagai wadah untuk melestarikan budaya, fungsinya sebagai perpanjangan tangan dari Kesultanan Kutai.

Arsitektur Kedaton Kutai Kartanegara merupakan perpaduan gaya modern dan gaya istana Kerajaan Kutai Kartanegara. Ruangan istana nampak megah dan mewah dengan tatanan Singgasana Sultan di kelilingi oleh kursi yang terbuat dari emas. Di sebelah kiri Singgasana terdapat gamelan Jawa.
Didalam Kedaton juga terdapat banyak ukiran yang berciri khas adat Kutai, Dayak dan Jawa untuk menunkukkan bahwa Kerajaan Kutai Kartanegara memiliki hubungan sejarah yang erat dengan suku Dayak dan Kesultanan Jawa.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ( Yogyakarta )

istana termegah di indonesia
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1950, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. 

Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas.Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755. 

Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman.

Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan). Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan
,


Aksara Jawa Hanacaraka : Mengenal Keanekaragaman Aksara Kuno Nusantara

Aksara Jawa Hanacaraka - Sejarah - Aksara Jawa Hanacaraka - Aksara Jawa Hanacaraka berasal dari aksara Brahmi yang asalnya dari Hindhustan. Di negeri Hindhustan tersebut terdapat bermacam-macam aksara, salah satunya yaitu aksara Pallawa yang berasal dari Indhia bagian selatan. Dinamakan aksara Pallawa karena berasal dari salah satu kerajaan yang ada di sana yaitu Kerajaan Pallawa. Aksara Pallawa itu digunakan sekitar pada abad ke-4 Masehi. 

Aksara Jawa Hanacaraka

Aksara Jawa Hanacaraka

Di Nusantara terdapat bukti sejarah Aksara Jawa Hanacaraka berupa prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur, ditulis dengan menggunakan aksara Pallawa. Aksara Pallawa ini menjadi ibu dari semua aksara yang ada di Nusantara, antara lain: Aksara Jawa Hanacaraka , aksara Rencong (aksara Kaganga), Surat Batak, Aksara Makassar dan Aksara Baybayin (aksara di Filipina)[1]. Profesor J.G. de Casparis dari Belanda, yaitu pakar paleografi atau ahli ilmu sejarah aksara, mengutarakan bahwa aksara hanacaraka itu dibagi menjadi lima masa utama, yaitu: 

a. Aksara Pallawa 

aksara-jawa-hanacaraka
Aksara Pallawa itu berasal dari India Selatan. Jenis aksara ini mulai digunakan sekitar abad ke 4 dan abad ke 5 masehi. Salah satu bukti penggunaan jenis aksara ini di Nusantara adalah ditemukannya prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur. Aksara ini juga digunakan di Pulau Jawa, yaitu di Tatar Sundha di Prasasti tarumanegara yang ditulis sekitar pada tahun 450 M. di tanah Jawa sendiri, aksara ini digunakan pada Prasasti Tuk Mas dan Prasasti Canggal.

Aksara Pallawa ini menjadi ibu dari semua aksara yang ada di Nusantara, termasuk Aksara Jawa Hanacaraka. Kalau diperhatikan, aksara Pallawa ini bentuknya segi empat. Dalam bahasa Inggris, perkara ini disebut sebagai huruf box head atau square head-mark. Walaupun aksara Pallawa ini sudah digunakan sejak abad ke-4, namun bahasa Nusantara asli belum ada yang ditulis dalam aksara ini. Gambar 2.1 Prasasti Yupa 

b. Aksara Kawi Wiwitan 

Perbedaan antara aksara Kawi Wiwitan dengan aksara Pallawa itu terutama terdapat pada gayanya.
Aksara Pallawa itu dikenal sebagai salah satu aksara monumental, yaitu aksara yang digunakan untuk menulis pada batu prasasti. Aksara Kawi Wiwitan utamanya digunakan untuk nulis pada rontal, oleh karena itu bentuknya menjadi lebih kursif. Aksara ini digunakan antara tahun 750 M sampai 925 M. Prasasti-prasasti yang ditulis dengan menggunakan aksara ini jumlahnya sangatlah banyak, kurang lebih 1/3 dari semua prasasti yang ditemukan di Pulau jawa. Misalnya pada Prasasti Plumpang (di daerah Salatiga) yang kurang lebih ditulis pada tahun 750 M. Prasasti ini masih ditulis dengan bahasa Sansekerta. 

c. Aksara Kawi Pungkasan 

Aksara Jawa Hanacaraka
Kira-kira setelah tahun 925, pusat kekuasaan di pulau Jawa berada di daerah jawa timur. Pengalihan kekuasaan ini juga berpengaruh pada jenis aksara yang digunakan. Masa penggunaan aksara Kawi Pungkasan ini kira-kira mulai tahun 925 M sampai 1250 M. Sebenarnya aksara Kawi Pungkasan ini tidak terlalu banyak perbedaannya dengan aksara Kawi Wiwitan, namun gayanya saja yang menjadi agak beda. Di sisi lain, gaya aksara yang digunakan di Jawa Timur sebelum tahun 925 M juga sudah berbeda dengan gaya aksara yang digunakan di Jawa tengah. 

Jadi perbedaan ini tidak hanya perbedaan dalam waktu saja, namun juga pada perbedaan tempatnya. Pada masa itu bisa dibedakan empat gaya aksara yang berbeda-beda, yaitu; 
1) Aksara Kawi Jawa Wetanan pada tahun 910-950 M; 
2) Aksara Kawi Jawa Wetanan pada jaman Prabu Airlangga pada tahun 1019-1042 M; 
3) Aksara Kawi Jawa Wetanan Kedhiri kurang lebih pada tahun 1100-1200 M; 
4) Aksara Tegak (quadrate script) masih berada di masa kerajaan Kedhiri pada tahun 1050-1220 M d. Aksara Majapahit Dalam sejarah Nusantara pada masa antara tahun 1250-1450 M, ditandai dengan dominasi Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. 

Aksara Majapahit ini juga menunjukkan adanya pengaruh dari gaya penulisan di rontal dan bentuknya sudah lebih indah dengan gaya semi kaligrafis. Contoh utama gaya penulisan ini adalah terdapat pada Prasasti Singhasari yang diperkirakan pada tahun 1351 M. gaya penulisan aksara gaya Majapahit ini sudah mendekati gaya modern. e. Aksara Pasca Majapahit Setelah naman Majapahit yang menurut sejarah kira-kira mulai tahun 1479 sampai akhir abad 16 atau awal abad 17 M, merupakan masa kelam sejarah aksara Jawa. 

Aksara Jawa Hanacaraka
Karena setelah itu sampai awal abad ke-17 M, hampir tidak ditemukan bukti penulisan penggunaan aksara jawa, tiba-tiba bentuk aksara Jawa menjadi bentuk yang modern. Walaupun demikian, juga ditemukan prasasti yang dianggap menjadi “missing link” antara aksara Hanacaraka dari jaman Jawa kuna dan aksara Budha yang sampai sekarang masih digunakan di tanah Jawa, terutama di sekitar Gunung Merapi dan Gunung Merbabu sampai abad ke-18. Prasasti ini dinamakan dengan Prasasti Ngadoman yang ditemukan di daerah Salatiga. Namun, contoh aksara Budha yang paling tua digunakan berasal dari Jawa barat dan ditemukan dalam naskah-naskah yang menceritakan Kakawin Arjunawiwaha dan Kunjarakarna. Gambar 2.3 Prasasti Ngadoman f. 

Munculnya Aksara Hanacaraka Baru Setelah jaman Majapahit, muncul jaman Islam dan juga Jaman Kolonialisme Barat di tanah Jawa. Dijaman ini muncul naskah-naskah manuskrip yang pertama yang sudah menggunakan aksara Hanacaraka baru. Naskah-naskah ini tidak hanya ditulis di daun palem (rontal atau nipah) lagi, namun juga di kerta dan berwujud buku atau codex (“kondheks”). Naskah-naskah ini ditemukan di daerah pesisir utara Jawa dan dibawa ke Eropa pada abad ke 16 atau 17. Gambar 2.4 Naskah Aksara Jawa Bentuk dari aksara Hanacaraka baru ini sudah berbeda dengan aksara sebelumnya seperti aksara Majapahit. 

Perbedaan utama itu dinamakan serif tambahan di aksara Hanacaraka batu. Aksara-aksara Hanacaraka awal ini bentuknya mirip semua mulai dari Banten sebelah barat sampai Bali. Namun, akhirnya beberapa daerah tidak menggunakan aksara hanacaraka dan pindhah menggunakan pegon dan aksara hanacaraka gaya Durakarta yang menjadi baku. Namun dari semua aksara itu, aksara Bali yang bentuknya tetap sama sampai abad ke-20. Aksara Pallawa ini digunakan di Nusantara dari abad ke-4 sampai kurang lebih abad ke-8. Lalu aksara Kawi Wiwitan digunakan dari abad ke-8 samapai abad ke-10, terutama di Jawa Tengah.

Sejarah Aksara Jawa Hanacaraka

Aksara Jawa Hanacaraka
Konon sejarah yang berkembang di bumi Nusantara ini mengenai munculnya Aksara Jawa Hanacaraka dilatarbelakangi dari cerita pada jaman dahulu, di Pulau Majethi hidup seorang satria sakti mandraguna bernama Ajisaka. Sang Satria mempunyai dua orang punggawa, Dora dan Sembada namanya. Kedua punggawa itu sangat setia kepada pemimpinnya, sama sekali tidak pernah mengabaikan perintahnya. 

Pada suatu hari, Ajisaka berkeinginan pergi berkelana meninggalkan Pulau Majethi. Kepergiannya ditemani oleh punggawanya yang bernama Dora, sementara Sembada tetap tinggal di Pulau Pulo Majethi, diperintahkan menjaga pusaka andalannya. Ajisaka berpesan bahwa Sembada tidak boleh menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun kecuali kepada Ajisaka sendiri. Sembada menyanggupi akan melaksanakan perintahnya.

Pada masa itu di tanah Jawa terdapat negara yang terkenal makmur, tertib, aman dan damai, yang bernama Medhangkamulan. Rajanya bernama Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana. Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami kecelakaan, jarinya terbabat pisau hingga terlepas. Ki Juru Masak tidak menyadari bahwa potongan jarinya tercebur ke dalam hidangan yang akan disuguhkan kepada Sang Prabu. 

Ketika tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut, Sang Prabu serasa menyantap daging yang sangat enak, sehingga ia mengutus Sang Patih untuk menanyakan kepada Ki Juru Masak. Setelah mengetahui bahwa yang disantap tadi adalah daging manusia, sang Prabu lalu memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari rakyatnya untuk santapannya. 

Aksara Jawa Hanacaraka
Sejak saat itu Prabu Dewatacengkar mempunyai kegemaran yang menyeramkan, yaitu menyantap daging manusia. Wataknya berbalik seratus delapanpuluh derajat, berubah menjadi bengis dan senang menganiaya . Negara Medhangkamulan beubah menjadi wilayah yang angker dan sepi karena rakyatnya satu persatu dimangsa oleh rajanya, sisanya lari menyelamatkan diri. Sang Patih pusing memikirkan keadaan, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan kepada rajanya

Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya Dora tiba di Medhangkamulan, heranlah Sang Satria melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan, Ajisaka lalu menghadap Rekyana Patih, menyatakan kesanggupannya untuk menjadi santapan Prabu Dewatacengkar. 

Aksara Jawa Hanacaraka
Pada awalnya Sang Patih tidak mengizinkan karena merasa sayang bila Ajisaka yang harus disantap Sang Prabu, namun Ajisaka sudah bulat tekadnya, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu. Sang Prabu tak habis pikir, mengapa Ajisaka mau menyerahkan jiwa raganya untuk menjadi santapannya. Ajisaka mengatakan bahwa ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalkan ia dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya .

Di samping itu, harus Sang Prabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut. Sang Prabu menyanggupi permintaannya. Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya . Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa semakin mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut selatan. Ikat kepala tersebut kemudian dikibaskan oleh Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar jatuh ke laut. Seketika wujudnya berubah menjadi buaya putih . 

Ajisaka kemudian menjadi raja di Medhangkamulan.Setelah dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus Dora pergi kembali ke Pulau Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setibanya di Pulo Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka Ajisaka. 

Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena ia berpegang pada perintah Ajisaka ketika meninggalkan Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai keduanya sama-sama tewas 

Arti dan Makna dari Huruf HANACARAKA

Ha Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
Na Nur candra, gaib candra, warsitaning candara – pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi
Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi – arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
Ra Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesajeteraan alam
Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya
Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang
     hidup  
Sa Sifat ingsun handulu sifatullah – membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
Wa Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa
       batas
La Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
Pa Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah
Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
Ja Jumbuhing kawula lan Gusti – Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya
Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah/kodrat Illahi
Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan
Ma Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin/mantap dalam menyembah Ilahi
Ga Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani
Ba Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam
Tha Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan
Nga Ngracut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi manusia

Bagaimana Sahabat TravelEsia Mengenai Sejarah Aksara.Aksara Jawa Hanacaraka nantikan Artikel Sejarah TravelEsia Di Edisi Berikutnya
,


 

Manakah Destinasi Terbaik Di Indonesia

Support : Informasi lalu Lintas | | Traffic Information Center
Copyright © 2012 - 2017. Indonesia Tourism and Travel Information - Paket Wisata - Indonesia Tour Package - TravelEsia.Us - All Logos, Trademarks and Registered Trademarks Are The Property of TravelEsia Corporation.
Website Ini Dikelola Oleh : Devisi IT TravelEsia Published by TravelEsia Tour And Travel
Proudly powered by Flight And Hotel Search Engine