Travel Information :

Showing posts with label Wisata Budaya. Show all posts
Showing posts with label Wisata Budaya. Show all posts

Lembah Baliem : Menjelajahi Eksotika Budaya Bumi Papua

Lembah Baliem - TravelEsia - Lembah Baliem merupakan destinasi wisata yang akan TravelEsia bahas pada kesempatan kali ini.Lembah Baliem dan Kehidupan asli suku Dani sangat menarik untuk diselami. Berkunjung ke Lembah Baliem dengan jalan kaki ke desa-desa tradisional yang terpelosok dengan keindahan alam yang permai didekap pegunungan tinggi adalah sensasi petualangan yang perlu kamu rasakan di Lembah Baliem.
Lembah Baliem

Lembah Baliem

pertama kali ditemukan pada tahun 1938 oleh ahli zoologi Amerika Richard Archbold. Selama penerbangan di atas hutan lebat yang tak tertembus di wilayah Papua, secara kebetulan ia melihat budidaya lembah pertanian di dataran tinggi Papua yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi sampai 4500 meter Karena kemurnian alam yang masih perawan, suku Dani dan lainnya bisa mempertahaankan gaya hidup otentik mereka sampai pertengahan abad yang lalu. Sampai pada tahun 1954, misionaris pertama tiba dengan parasut ke lembah ini.sampai saat ini, beberapa permukiman dari suku Korowai masih mempertahankan sepenuhnya kehidupan terasing mereka.

Lembah Baliem yang terletak di Papua tengah, tepatnya di wilayah Jayawijaya dan merupakan tujuan turis paling utama di Papua. Keindahan alamnya berpadu dengan penduduknya yang hidup sederhana dengan alam. Suku yang disebut sebagai suku asli peradaban jaman batu ini merupakan salah satu dari peninggalan peradaban tertua yang masih bertahan, lepas dari kondisi yang berat dan kemajuan teknologi di era modernisasi sekarang ini.

Mengapa Anda Harus Kesana..?? 

Lembah Baliem
Paling istimewa berkunjung ke Lembah Baliem adalah saat berlangsung Festival Lembah Baliem. Kamu akan menjumpai atraksi perang suku-suku di Lembah Baliem. Dulunya memang perang sungguhan antara suku Dani, Yali dan Lani, tapi seiring perdamaian digalakkan menjadi festival budaya yang sangat menakjubkan. Festival Lembah Baliem telah terkenal sebagai salah satu festival paling eksotis di dunia. Makanya, wisatawan internasional sangat memimpikan untuk melihat keseruan Festival Lembah Baliem. jika di hari biasanya kamu memotret orang suku Lembah Baliem dengan pakaian tradisinya harus membayar, nah di Festival Lembah Baliem semua orang gratis memotret. Selain atraksi perang, kamu juga akan disuguhkan budaya suku Lembah Baliem lainnya seperti Bakar Batu. Festival Lembah Baliem diselenggarakan pada waktu sekitar Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Selain pesonanya yang tak ada bandingannya di dunia, yang mengesankan dari Lembah Baliem adalah biaya untuk menuju ke sana dan menikmati suguhan eksotikanya.Suguhan paling masyhur di Lembah Baliem adalah menyaksikan Mumi Wim Motok Mabel di Desa Jiwika, Kurulu. Setiap pengunjung ke Wamena rasanya tak lengkap jika belum menemui mumi panglima perang berusia 370 tahun. Di Jiwika, kamu akan disambut oleh pemandangan kehidupan suku Dani yang eksotis. Rumah honai yang berkeliling lengkap dengan para pria berkoteka dan perempuan bertelanjang dada jangan memotret mereka sembarang sebelum kamu melakukan kesepakatan pembayaran dengan mereka. hormati aturan lokal ini.

Lembah Baliem
Kehidupan asli suku Dani sangat menarik untuk diselami. Berkunjung dengan jalan kaki ke desa-desa tradisional yang terpelosok dengan keindahan alam yang permai didekap pegunungan tinggi adalah sensasi petualangan yang perlu kamu rasakan di Lembah Baliem. Cobalah kamu berkunjung ke kampung Kilise yang bisa ditempuh jalan kaki selama 3 jam. Suguhan desa terpelosok dengan interaksi kehidupan asli suku Dani dan pemandangan menakjubkan akan membuatmu tak hentinya berbahagia. Coba juga kopi alami langsung dari kebun warga dan dibuat dengan penuh cinta.

Wamena tak cuma menyimpan keajaiban budaya, tapi juga keajaiban alam. Pasir putih yang biasanya kamu jumpai di pantai ini bisa kamu dapatkan juga di Aikima, sekitar 30 menit berkendara dari pusat kota Wamena. Pasir ini berpadu dengan batuan karang yang persis ada di pantai. Cobalah genggam pasir itu dan kamu akan rasakan betapa halusnya pasir ini. Naiklah juga hingga atas bukit pasir putih ini untuk menyaksikan panorama menawan Lembah Baliem secara luas. Konon, pasir ini menjadi pertanda geologis kalau dulunya Lembah Baliem adalah danau besar yang menyusut karena peristiwa alam.

Lembah Baliem
Bagaimana tidak menyebut Habema sebagai danau terindah di Nusantara kalau latar belakangnya salju khatulistiwa Puncak Trikora yang memukau? Dengan ketinggian 3.225 meter di atas permukaan laut, Danau Habema adalah pesona langka yang akan mengantarmu takjub sambil menahan dingin 10 derajat di siang hari dan di bawah 0 derajat di malam hari. Sesapilah lanskap indahnya dengan hamparan luas rumput di tepian danau sembari awas dengan kejutan yang tersaji. Siap saja ada burung Cendrawasih yang melintas mengagetkan ketakjubanmu pada Habema. Perjalanan menuju Habema adalah sebuah tantangan. Meski hanya berjarak 48 km dari Wamena, tapi jalanan terjal akan mengantar mobilmu dua jam untuk tiba di Habema.

Kalau kamu travellers yang antusias pada keunikan sejati destinasi, pasti akan suka untuk mengeksplorasi pasar tradisional. Di Wamena, ada pasar Jibama yang sangat menarik untuk dikunjungi, sekalian untuk mencari cinderamata khas Lembah Baliem. Kamu akan menjumpai riuhnya para warga dalam menjajakan barang dagangan. Kamu akan menemui aneka produk yang tak bisa dijumpai di luar Papua, seperti Buah Merah (buah ajaib dari dataran tinggi Papua), udang Lembah Baliem, kerajinan noken dan masih banyak lagi. Sapalah mama-mama yang berjualan dan tersenyum pada mereka. Selain untuk berjualan, Pasar Jibama menjadi tempat perjumpaan para warga yang berasal dari tempat terpelosok di Lembah Baliem.
    Lembah Baliem
  • Di sekitar kota utama Wamena, dapat ditemukan beberapa desa tradisional dalam jarak 2 jam dengan berjalan kaki.
  • Mengikuti jalan utama ke Timur dari Lembah Baliem, anda akan melewati Desa Aikima, terkenal dengan mumi mereka yang konon berusia 270 tahun. Sekitar 15-menit berjalan kaki dari jalan utama, Anda dapat mengunjungi desa-desa Suroba dan Dugum, yang keduanya layak untuk dikunjungi.
  • Desa Wosilimo memiliki sebuah gua sepanjang 900m, yang disebut Gua Wikuda. Anda membutuhkan pemandu lokal yang membawa lampu yang diperlukan untuk mengeksplorasi gua yang dihiasi banyak stalagmit. Berjalan kaki selama 1 jam dari Wosilimo melewati jalan setapak kecil serta jembatan gantung Anda akan menemukan Danau Anegerak.
  • Sejauh yang dapat  dikatakan, sampai saat ini tidak ada peta dari Lembah Baliem. Jadi disarankan untuk menyewa pemandu lokal jika ingin melakukan hiking lebih jauh. Dianjurkan untuk bertanya di kantor polisi setempat untuk mendapat pemandu wisata yang terpercaya. Pemandu berbahasa Inggris bertarif sekitar Rp. 200.000 per hari.

Bagaimana Cara Anda Kesana..??

Lembah Baliem
Satu-satunya cara ke Lembah Baliem adalah melalui Bandara Sentani di Jayapura. Dari sana Trigana Air Service terbang ke Wamena beberapa kali sehari.Setelah tiba di Wamena, berjalan merupakan pilihan terbaik untuk berkeliling. Untuk jarak yang lebih jauh, anda bisa menyewa sebuah becak dengan harga sekitar Rp. 3.000 per kilometer (itu sudah harga bagi wisatawan asing). Anda juga dapat menyewa taksi untuk perjalanan satu hari ke desa-desa sekitarnya.

Untuk mengadakan kunjungan / perjalanan di wilayah Papua diperlukan ijin khusus yang disebut surat jalan . Anda dapat mengajukan izin di setiap kantor polisi dengan biaya rendah. Untuk surat jalan diperlukan 2 foto ukuran paspor. Buatlah fotokopi sebanyak mungkin setelah memiliki surat jalan di tangan Anda, karena mungkin saja anda harus memberikan fotokopi surat jalan ke pejabat pemerintah daerah di beberapa tempat yang anda kunjungi.

Bagaimana Dengan Akomodasinya..??

Untuk penginapan anda dapat mengunjungi pusat kota wamena,banyak penginapan yang dapat anda jadikan untuk menginap sementara,namun Di setiap kota di mana anda menginap, dianjurkan pergi dulu ke kantor polisi untuk melaporkan diri.

Know Before You Go..!!

  • berjalan merupakan pilihan terbaik untuk berkeliling. Untuk jarak yang lebih jauh, anda bisa menyewa sebuah becak dengan harga sekitar Rp. 3.000 per kilometer (itu sudah harga bagi wisatawan asing). Anda juga dapat menyewa taksi untuk perjalanan satu hari ke desa-desa sekitarnya.
  • Jangan sembarangan memotret penduduk lokal sebelum kamu melakukan kesepakatan pembayaran dengan mereka. hormati aturan lokal ini.
  • Suguhan paling masyhur di Lembah Baliem adalah menyaksikan Mumi Wim Motok Mabel di Desa Jiwika, Kurulu. Setiap pengunjung ke Wamena rasanya tak lengkap jika belum menemui mumi panglima perang berusia 370 tahun.
  • Mau tahu berapa kamu membutuhkan uang untuk bisa hadir di Lembah Baliem? Dari Jakarta menuju Wamena, paling tidak kamu perlu merogoh kocek 3 jutaan sekali jalan untuk pesawat terbang. Untuk biaya hidup di Wamena yang mahalnya selangit kocekmu juga harus lebih dirogoh makin dalam. Kamu perlu tahu pasokan kebutuhan dari luar daerah itu memang hanya bisa didatangkan dari langit, yakni via pesawat terbang
Bagaimana Sahabat TravelEsia,apakah anda ingin Menjelajahi Eksotika Budaya Bumi Papua ini.Jika Anda mengunjungi papua belum lengkap rasanya sebelum mengunjungi Lembah Baliem.mari Kita dukung Indonesia sebagai destinasi wisata Dunia


Suku Betawi : Mengenal Lebih Dekat Suku Asli Ibukota

Suku Betawi - TravelEsia - Suku Betawi atau yang lebih akrab di sebut dengan betawi merupakan pembahasan TravelEsia magazine pada kesempatan ini.Suku Betawi merupakan hasil pernikahan antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau Suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu dan Tionghoa.
Suku Betawi

Suku Betawi

digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni Jakarta dan bahasa MelayuKreol yang digunakannya, dan juga kebudayaan Melayunya. Kata Betawi sebenarnya berasal dari kata "Batavia," yaitu nama kuno Jakarta yang diberikan oleh Belanda.

Sejarah

Diawali oleh orang Sunda (mayoritas), sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan Tarumanegara serta kemudian Pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India.Antropolog Universitas Indonesia, Dr. Yasmine Zaki Shahab, MA memperkirakan, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Castle. 

Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.Rumah Bugis di bagian utara Jl. Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota. Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moor, orang Jawa dan Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu.

Suku Betawi

Suku Betawi
Pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. 

Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.

Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga mencakup penduduk di luar benteng tersebut yang disebut masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal di luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional. 

Hal ini terjadi karena pada abad ke-6, kerajaan Sriwijaya menyerang pusat kerajaan Tarumanagara yang terletak di bagian utara Jakarta sehingga pengaruh bahasa Melayu sangat kuat disini.Selain itu, perjanjian antara Surawisesa (raja Kerajaan Sunda) dengan bangsa Portugis pada tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa mengakibatkan pernikahan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis yang menurunkan darah campuran Portugis. Dari komunitas ini lahir musik keroncong.

Bahasa

Suku BetawiSifat campur-aduk dalam dialekBetawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil penggabungan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing.Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar Batavia juga dikelompokkan sebagai Suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. 

Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum Sumpah Pemuda, sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.Karena perbedaan bahasa yang digunakan tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda menganggap orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan etnis Sunda dan menyebutnya sebagai etnis Betawi (kata turunan dari Batavia). 

Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lain-lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik[1] yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi.

Seni dan Kebudayaan

Gambang Kromong Betawi

Suku Betawi
Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tionghoa, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni Lenong, Gambang Kromong, RebanaTanjidor dan Keroncong.

Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil penggabungan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni Gambang Kromong yang berasal dari seni musik Tiongkok, tetapi juga ada Rebana yang berakar pada tradisi musik Arab, Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis-Arab,dan Tanjidor yang berlatarbelakang ke-Belanda-an.Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil pernikahan antaretnis dan bangsa di masa lalu.

Ondel - ondel

 Suku BetawiHingga sekarang, tak ada yang tahu mengapa arak-arakan boneka berukuran besar itu dinamai Ondel-ondel. Tetapi jika ada yang bertanya mengenai kesenian tradisional DKI Jakarta, jawaban pertama yang akan terlontar adalah kesenian Ondel-ondel. Kiranya, ungkapan tersebut tidak berlebihan melihat betapa melekatnya kesenian Ondel-ondel dengan masyarakat Jakarta, khususnya Betawi. Setiap ada hajatan, arak-arakan Ondel-ondel tak pernah ketinggalan memeriahkan pesta tersebut. Baik pesta besar, atau khitanan anak sekalipun.

Dilihat dari spontanitas dan segala kesederhanaan unsur Tari Ondel-ondel, dapat dipastikan bahwa Ondel-ondel bukan berasal dari keanggunan dan kemegahan istana. Boneka Ondel-ondel dibuat dari anyaman bambu dengan tinggi sekitar 2,5 meter dan diameter kurang lebih 80 cm. Dibuat sedemikian rupa agar orang yang memikul boneka tersebut leluasa. Rambutnya terbuat dari ijuk dan kertas warna-warni. Ondel-ondel selalu diarak sepasang. Ondel-ondel lelaki wajahnya berwarna merah, sedangkan wajah ondel-ondel perempuan berwarna putih atau kuning.

Konon, bentuk Ondel-ondel adalah personifikasi dari leluhur masyarakat Betawi yang senantiasa menjaga keturunannya dari gangguan roh halus. Tidak heran kalau bentuk Ondel-ondel jaman dulu berkesan sangat menyeramkan. Berbeda dengan ondel-ondel yang dapat dilihat saat ini, yang lebih berkesan seperti sepasang ibu-bapak.Meski terjadi pergeseran fungsi, unsur ritual tak sepenuhnya lepas dari tradisi Ondel-ondel. Pada proses pembuatan ondel-ondel dilakukan secara tertib, ada waktu khusus untuk membuat Ondel-ondel. Baik waktu membentuk wajahnya demikian pula ketika menganyam badannya dengan bambu.

Sebelum mulai membuat Ondel-ondel, biasanya disediakan sesajen yang berisi bubur merah putih, rujak-rujakan tujuh rupa, bunga-bungaan tujuh macam, asap kemenyan, dan sebagainya. Demikian pula ondel-ondel yang sudah jadi, biasa pula disediakan sesajen dan dibakari kemenyan, disertai mantera-mantera ditujukan kepada roh halus yang dianggap menunggui ondel-ondel tersebut.
Sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanan, bila akan berangkat main, senantias diadakan ritual. Pembakaran kemenyan dilakukan oleh pimpinan rombongan, atau salah seorang yang dituakan. Menurut istilah setempat upacara demikian disebut ngukup. Sebenarnya tidak ada musik yang khusus untuk mengiringi arakan Ondel-ondel. Terkadang Tanjidor, Kendang Pencak, Bende, atau Rebana Ketimpring.

Kepercayaan / Agama

Orang Betawi sebagian besar menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katholik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara Suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini wajar karena pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara


Mengintip Istana-Istana Kerajaan Termegah yang Ada di Indonesia

Istana-Istana Kerajaan Termegah di Indonesia - TravelEsia - Istana-Istana Kerajaan Termegah di Indonesia merupakan rubrik wisata sejarah TravelEsia pada kesempatan kali ini.Sahabat TravelEsia,tidak bisa kita pungkiri bahwa indonesia tidak luput dari sejarah-sejarah kerajaan.banyak kerajaan-kerajaan berdaulat berada di Indonesia. Kerajaan-kerajaan tersebut memiliki sistem pemerintahan sendiri layaknya sebuah negara. Bahkan sebelum masuknya kolonial ke Indonesia, masih banyak kerajaan-kerajaan di Indonesia yang berekspansi dengan menyerang dan menaklukan kerajaan lainnya demi memperluas wilayah kekuasaan. 

Istana Termegah Di Indonesia
Barulah setelah masuknya kolonial-kolonial eropa ke Indonesia, hampir tidak ada lagi kerajaan-kerajaan yang melakukan ekspansi. Bahkan banyak kerajaan-kerajaan tersebut yang justru kehilangan eksistensinya sehingga tidak memiliki wilayah kekuasaan.

Dengan banyaknya kerajaan-kerajaan yang berdiri di Indonesia dimasa lalu, tentunya banyak hal yang diwariskan oleh kerajaan-kerajaan tersebut terhadap Indonesia. Contohnya dibidang arsitektur. Salah satu warisan kerajaan-kerajaan tersebut dibidang arsitektur adalah peninggalan istana kerajaan. Walaupun pada hakekatnya banyak istana-istana kerajaan di Indonesia yang tak terawat dan dibiarkan hancur begitu saja, namun sebagian masih ada yang berdiri megah.

Berikut ini adalah istana-istana kerajaan termegah yang ada di Indonesia Versi TravelEsia :

Istano Basa ( Sumatera Barat)

istana termegah di indonesia
Istano Basa yang lebih terkenal dengan nama Istana Pagaruyung, adalah sebuah istana yang terletak di kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Istana ini merupakan obyek wisata budaya yang terkenal di Sumatera Barat.Istano Basa yang berdiri sekarang sebenarnya adalah replika dari yang asli. Istano Basa asli terletak di atas bukit Batu Patah dan terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804. 

Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun kembali terbakar tahun 1966.Proses pembangunan kembali Istano Basa dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Harun Zain. Bangunan baru ini tidak didirikan di tapak istana lama, tetapi di lokasi baru di sebelah selatannya. Pada akhir 1970-an, istana ini telah bisa dikunjungi oleh umum. Namun pada tahun 2007 istana ini kembali terbakar. Barulah pada tahun 2013 istana ini selesai dibangun secara keseluruhan.

Istana Kadriah ( Kalimantan Barat )

istana termegah di indonesia
Istana Kadriah terletak Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, atau kurang lebih berjarak 200 meter dari Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahaman Alkadrie. Secara historis, Istana Kadriah mulai dibangun pada tahun 1771 M dan baru selesai pada tahun 1778 M. Tak beberapa lama kemudian, Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie pun dinobatkan sebagai sultan pertama Kesultanan Pontianak, dan mendapatkan pengesahan sebagai Sultan Pontianak dari Belanda pada tahun 1779. 

Dalam perkembanganya, istana ini terus mengalami proses renovasi dan rekonstruksi hingga menjadi bentuknya seperti yang sekarang ini. Sultan Syarif Muhammad Alkadri, sultan ke-6 Kesultanan Pontianak, tercatat sebagai sultan yang merenovasi Istana Kadriah secara besar-besaran.Bangunan istana Kesultanan Pontianak seluas 60 meter x 25 meter ini dinamakan Istana Kadriah karena untuk memuliakan nama pendirinya maupun moyang sebelumnya yang memakai nama belakang “al-kadrie”. Dari berbagai istana kerajaan yang terdapat di Kalimantan Barat, Istana Kadriah merupakan istana Melayu terbesar yang berada di wilayah tersebut.Di atas pintu utama istana, terdapat hiasan mahkota serta tiga ornamen bulan dan bintang sebagai tanda bahwa Kesultanan Pontianak merupakan Kesultanan Islam. 

Balairungnya, atau sering juga disebut dengan balai pertemuan, didominasi oleh warna kuning yang dalam tradisi Melayu melambangkan kewibawaan dan ketinggian budi pekerti. Di ruang yang biasanya dijadikan tempat melakukan upacara keagamaan dan menerima tamu ini, terpasang foto-foto Sultan Pontianak, lambang kesultanan,  lampu hias, kipas angin, serta singgasana sultan dan permaisuri.Di sebelah kanan dan kiri ruang utama terdapat 6 kamar berukuran 4 x 3,5 meter dimana salah satunya merupakan kamar tidur sultan. Sedangkan kamar-kamar lainnya dahulunya dijadikan sebagai ruang makan dan kamar mandi.

Di belakang ruang istana terdapat sebuah ruangan yang cukup besar. Di ruangan ini selain untuk menyimpan benda-benda warisan Kesultanan Pontianak, seperti senjata, pakaian sultan dan permaisurinya, foto-foto keluarga sultan, dan arca-arca, juga kediaman sultan dan
keluarganya.Kesultanan Pontianak berlangsung hingga tahun 1952 dan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada masa pemerintahan Sultan ke-8, Sultan Syarif Hamid Alkadrie II. Ia mempunyai peranan penting dalam pembentukan negara kita, yaitu menciptakan lambang negara, Garuda Pancasila. Sejak bergabung dengan NKRI, kesultanan berakhir dan berkembang menjadi Kota Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Barat.

Keraton Kesepuhan ( Cirebon )

istana termegah di indonesia
Keraton Kasepuhan adalah keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Makna di setiap sudut arsitektur keraton ini pun terkenal paling bersejarah. Halaman depan keraton ini dikelilingi tembok bata merah dan terdapat pendopo didalamnya.Keraton ini memiliki museum yang cukup lengkap dan berisi benda pusaka dan lukisan koleksi kerajaan. Salah satu koleksi yang dikeramatkan yaitu kereta Singa Barong. 

Kereta ini saat ini tidak lagi dipergunakan dan hanya dikeluarkan pada tiap 1 Syawal untuk dimandikan.Bagian dalam keraton ini terdiri dari bangunan utama yang berwarna putih. Didalamnya terdapat ruang tamu, ruang tidur dan singgasana raja.

Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mochammad Arifin II (cicit dari Sunan Gunung Jati) yang menggantikan tahta dari Sunan Gunung Jati pada tahun 1506. Ia bersemayam di dalem Agung Pakungwati Cirebon. Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati, sedangkan Pangeran Mas Mochammad Arifin bergelar Panembahan Pakungwati I. Sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Ia wafat pada tahun 1549 dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua. Nama beliau diabadikan dan dimuliakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.

Memasuki jalan kompleks Keraton di sebelah kiri terdapat bangunan yang cukup tinggi dengan tembok bata kokoh disekelilingnya. Bangunan ini bernama Siti Inggil atau dalam bahasa Cirebon sehari-harinya adalah lemah duwur yaitu tanah yang tinggi. Sesuai dengan namanya bangunan ini memang tinggi dan nampak seperti kompleks candi pada zaman Majapahit.

Dibawah Gapura Banteng ini terdapat Candra Sakala dengan tulisan Kuta Bata Tinata Banteng yang jika diartikan adalah tahun 1451. saka yang merupakan tahun pembuatannya (1451 saka = 1529 M). Tembok bagian utara komplek Siti Inggil masih asli sedangkan sebelah selatan sudah pernah mengalami pemugaran/renovasi. Di dinding tembok kompleks Siti Inggil terdapat piring-piring dan porslen-porslen yang berasal dari Eropa dan negeri Cina dengan tahun pembuatan 1745 M. Di dalam kompleks Siti Inggil terdapat 5 bangunan tanpa dinding yang memiliki nama dan fungsi tersendiri. Bangunan utama yang terletak di tengah bernama Malang Semirang dengan jumlah tiang utama 6 buah yang melambangkan rukun iman dan jika dijumlahkan keseluruhan tiangnya berjumlah 20 buah yang melambangkan 20 sifat-sifat Allah SWT.

Istana Maimun ( Medan )

istana termegah di indonesia
Istana Maimun merupakan peninggalan Kerajaan Deli. Didirikan oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang merupakan keturunan raja ke-9 Kesultanan Deli. Istana ini dibangun pada 26 Agustus 1888 dan baru diresmikan pada 18 Mei 1891.

Bangunan Istana Maimun menghadap ke timur dimana terdiri dari dua lantai dengan tiga bagian yaitu bangunan induk, sayap kiri dan sayap kanan. Di bagian depan sekitar 100 meter berdiri Masjid Al-Maksum yang dikenal sebagai Masjid Raya Medan.

Istana Maimun merupakan salah satu dari sekian istana yang paling indah di Indonesia. Istana ini memiliki arsitektur yang unik dengan perpaduan beberapa unsur kebudayaan Melayu bergaya Islam, Spanyol, India dan Itali. Perpaduan ini menyuguhkan keunikan inilah yang memberikan karakter khas bangunannya.

Pengaruh Eropa terlihat dari ornamen lampu, kursi, meja, lemari, jendela sampai pintu dorong. Pintu bergaya Spanyol menjadi bagian dari arsitektur istana ini. Anda dapat pula melihat pola arsitektur Belanda dari bentuk pintu dan jendelanya yang lebar dan tinggi. Ada pula prasasti marmer di depan tangga ditulis dengan huruf Latin dalam bahasa Belanda.

Kemewahan interior dan bangunan fisik istana ini dimungkinkan karena sejak 2 abad silam wilayah Deli berada dibawah Kesultanan Deli yang mengelola hasil perkebunan, minyak, dan rempah-rempah yang melimpah. Hasil bumi yang luar biasa tersebut memberikan penghasilan sangat besar kepada Kesultanan Deli dengan bukti kehadiran Istana Maimun yang megah.

Istana Siak Sri Inderapura ( Riau )

istana termegah di indonesia
Istana Siak Sri Inderapura merupakan kediaman resmi Sultan Siak yang mulai dibangun pada tahun 1889, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim. Istana ini merupakan peninggalan Kesultanan Siak Sri Inderapura yang selesai dibangun pada tahun 1893. Kompleks istana ini memiliki luas sekitar 32.000 meter persegi yang terdiri dari 4 istana yaitu Istana Siak, Istana Lima, Istana Padjang, dan Istana Baroe. 

Istana Siak sendiri memiliki luas 1.000 meter persegi.Istana Siak memiliki arsitektur bercorak Melayu, Arab, dan Eropa. Bangunannya terdiri dari dua lantai. Lantai bawah dibagi menjadi enam ruangan sidang: Ruang tunggu para tamu, ruang tamu kehormatan, ruang tamu laki-laki, ruang tamu untuk perempuan, satu ruangan di samping kanan adalah ruang sidang kerajaan, juga digunakan untuk ruang pesta. Lantai atas terbagi menjadi sembilan ruangan, berfungsi untuk istirahat Sultan serta para tamu istana. Di puncak bangunan terdapat enam patung burung elang sebagai lambang keberanian Istana.

Istana Malige ( Sulawesi Tenggara )

istana termegah di indonesia
Istana Malige adalah istana yang didirikan oleh sultan Buton yang ke 37 bernama La Ode Hamidi. Menurut tradisi kesultanan Buton, setiap pangeran yang hendak diangkat menjadi sultan haruslah mampu membangun istananya sendiri. Kata malige sendiri bermakna mahligai.Salah satu keistimewaan sekaligus juga keunikan bangunan Malige kesultanan Buton ini adalah tak digunakannya paku untuk membangun istana. Seluruh bangunan yang terdiri dari empat lantai terbuat dari kayu. Pasak dan struktur tiang-tiang penyangga yang kokoh tanpa paku, menunjukkan tingginya perhitungan dan akurasi arsitektur nenek moyang orang Buton. Sebuah mahakarya dan warisan budaya yang tak ternilai harganya.

Struktur bangunannya sangat unik yaitu rumah panggung dari kayu bersusun tiga , membangun istana ini tidak menggunakan paku, hanya dikaitkan satu sama lainnya   dan merupakan suatu kemajuan bidang arsitektur para leluhur bangsa indonesia.

Istana Malige ini digunakan oleh Sultan La Ode Hamidi sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal keluarganya. dan sekarang digunakan museum tempat menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Buton, seperti meriam kuno dan benda-benda peninggalan lainnya.
Konon setiap raja naik tahta dibuatkan sebuah istana sejenis ini sehingga jumlahnya  ada sekitar 38 Istana yang sejenis.

Kata Malige sangat dikaitkan dengan Istana Malige di Buton. Peninggalan dari Peradaban Pulau Buton masa lampau yang beraneka ragam. Pulau Buton dikenal dengan seribu pulau, seribu benteng dan istilah seribu lainnya.Kamali/Istana Malige (berarti pula Mahligai) adalah salah satu dari peninggalan arsitektur tradisional Buton. Dapatlah dikatakan sebagai hasil dan kekayaan dari proses budaya (cultural process). Dalam hal ini Kamali/Istana Malige merupakan sebuah artefak yang keberadaannya dapat mengungkap berbagai sistem kehidupan masyarakat, termasuk sistem sosial dan kepercayaan (religi) Bentuk lantai dan atapnya yang bersusun menunjukkan kebesaran dan keagungan Sultan. Bentuk tersebut menggambarkan fungsi Sultan sebagai pimpinan agama, pimpinan kesultanan sebagai pengayom dan pelindung rakyat.

Kedaton Kutai Kartanegara ( Kalimantan Timur )

istana termegah di indonesia
Kedaton terletak di pusat Kota Tenggarong, terletak di belakang Museum Mulawarman dan di depan Monumen Pancasila Tenggarong atau Jalan Monumen barat. Dan letaknya tidak jauh dari Museum Mulawarman, Planetarium Jagad Raya dan Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin. Dibangun pada tahu 2001 dan sejarah dibukanya objek wisata ini adalah untuk melestarikan budaya Kutai. Pihak Kesultanan membuat Lembaga Adat dan Dewan Adat di setiap daerah-daerah yang merupakan wilayah Kerajaan Kutai sebagai wadah untuk melestarikan budaya, fungsinya sebagai perpanjangan tangan dari Kesultanan Kutai.

Arsitektur Kedaton Kutai Kartanegara merupakan perpaduan gaya modern dan gaya istana Kerajaan Kutai Kartanegara. Ruangan istana nampak megah dan mewah dengan tatanan Singgasana Sultan di kelilingi oleh kursi yang terbuat dari emas. Di sebelah kiri Singgasana terdapat gamelan Jawa.
Didalam Kedaton juga terdapat banyak ukiran yang berciri khas adat Kutai, Dayak dan Jawa untuk menunkukkan bahwa Kerajaan Kutai Kartanegara memiliki hubungan sejarah yang erat dengan suku Dayak dan Kesultanan Jawa.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ( Yogyakarta )

istana termegah di indonesia
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1950, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. 

Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas.Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755. 

Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman.

Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan). Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan


Aksara Jawa Hanacaraka : Mengenal Keanekaragaman Aksara Kuno Nusantara

Aksara Jawa Hanacaraka - Sejarah - Aksara Jawa Hanacaraka - Aksara Jawa Hanacaraka berasal dari aksara Brahmi yang asalnya dari Hindhustan. Di negeri Hindhustan tersebut terdapat bermacam-macam aksara, salah satunya yaitu aksara Pallawa yang berasal dari Indhia bagian selatan. Dinamakan aksara Pallawa karena berasal dari salah satu kerajaan yang ada di sana yaitu Kerajaan Pallawa. Aksara Pallawa itu digunakan sekitar pada abad ke-4 Masehi. 

Aksara Jawa Hanacaraka

Aksara Jawa Hanacaraka

Di Nusantara terdapat bukti sejarah Aksara Jawa Hanacaraka berupa prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur, ditulis dengan menggunakan aksara Pallawa. Aksara Pallawa ini menjadi ibu dari semua aksara yang ada di Nusantara, antara lain: Aksara Jawa Hanacaraka , aksara Rencong (aksara Kaganga), Surat Batak, Aksara Makassar dan Aksara Baybayin (aksara di Filipina)[1]. Profesor J.G. de Casparis dari Belanda, yaitu pakar paleografi atau ahli ilmu sejarah aksara, mengutarakan bahwa aksara hanacaraka itu dibagi menjadi lima masa utama, yaitu: 

a. Aksara Pallawa 

aksara-jawa-hanacaraka
Aksara Pallawa itu berasal dari India Selatan. Jenis aksara ini mulai digunakan sekitar abad ke 4 dan abad ke 5 masehi. Salah satu bukti penggunaan jenis aksara ini di Nusantara adalah ditemukannya prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Timur. Aksara ini juga digunakan di Pulau Jawa, yaitu di Tatar Sundha di Prasasti tarumanegara yang ditulis sekitar pada tahun 450 M. di tanah Jawa sendiri, aksara ini digunakan pada Prasasti Tuk Mas dan Prasasti Canggal.

Aksara Pallawa ini menjadi ibu dari semua aksara yang ada di Nusantara, termasuk Aksara Jawa Hanacaraka. Kalau diperhatikan, aksara Pallawa ini bentuknya segi empat. Dalam bahasa Inggris, perkara ini disebut sebagai huruf box head atau square head-mark. Walaupun aksara Pallawa ini sudah digunakan sejak abad ke-4, namun bahasa Nusantara asli belum ada yang ditulis dalam aksara ini. Gambar 2.1 Prasasti Yupa 

b. Aksara Kawi Wiwitan 

Perbedaan antara aksara Kawi Wiwitan dengan aksara Pallawa itu terutama terdapat pada gayanya.
Aksara Pallawa itu dikenal sebagai salah satu aksara monumental, yaitu aksara yang digunakan untuk menulis pada batu prasasti. Aksara Kawi Wiwitan utamanya digunakan untuk nulis pada rontal, oleh karena itu bentuknya menjadi lebih kursif. Aksara ini digunakan antara tahun 750 M sampai 925 M. Prasasti-prasasti yang ditulis dengan menggunakan aksara ini jumlahnya sangatlah banyak, kurang lebih 1/3 dari semua prasasti yang ditemukan di Pulau jawa. Misalnya pada Prasasti Plumpang (di daerah Salatiga) yang kurang lebih ditulis pada tahun 750 M. Prasasti ini masih ditulis dengan bahasa Sansekerta. 

c. Aksara Kawi Pungkasan 

Aksara Jawa Hanacaraka
Kira-kira setelah tahun 925, pusat kekuasaan di pulau Jawa berada di daerah jawa timur. Pengalihan kekuasaan ini juga berpengaruh pada jenis aksara yang digunakan. Masa penggunaan aksara Kawi Pungkasan ini kira-kira mulai tahun 925 M sampai 1250 M. Sebenarnya aksara Kawi Pungkasan ini tidak terlalu banyak perbedaannya dengan aksara Kawi Wiwitan, namun gayanya saja yang menjadi agak beda. Di sisi lain, gaya aksara yang digunakan di Jawa Timur sebelum tahun 925 M juga sudah berbeda dengan gaya aksara yang digunakan di Jawa tengah. 

Jadi perbedaan ini tidak hanya perbedaan dalam waktu saja, namun juga pada perbedaan tempatnya. Pada masa itu bisa dibedakan empat gaya aksara yang berbeda-beda, yaitu; 
1) Aksara Kawi Jawa Wetanan pada tahun 910-950 M; 
2) Aksara Kawi Jawa Wetanan pada jaman Prabu Airlangga pada tahun 1019-1042 M; 
3) Aksara Kawi Jawa Wetanan Kedhiri kurang lebih pada tahun 1100-1200 M; 
4) Aksara Tegak (quadrate script) masih berada di masa kerajaan Kedhiri pada tahun 1050-1220 M d. Aksara Majapahit Dalam sejarah Nusantara pada masa antara tahun 1250-1450 M, ditandai dengan dominasi Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. 

Aksara Majapahit ini juga menunjukkan adanya pengaruh dari gaya penulisan di rontal dan bentuknya sudah lebih indah dengan gaya semi kaligrafis. Contoh utama gaya penulisan ini adalah terdapat pada Prasasti Singhasari yang diperkirakan pada tahun 1351 M. gaya penulisan aksara gaya Majapahit ini sudah mendekati gaya modern. e. Aksara Pasca Majapahit Setelah naman Majapahit yang menurut sejarah kira-kira mulai tahun 1479 sampai akhir abad 16 atau awal abad 17 M, merupakan masa kelam sejarah aksara Jawa. 

Aksara Jawa Hanacaraka
Karena setelah itu sampai awal abad ke-17 M, hampir tidak ditemukan bukti penulisan penggunaan aksara jawa, tiba-tiba bentuk aksara Jawa menjadi bentuk yang modern. Walaupun demikian, juga ditemukan prasasti yang dianggap menjadi “missing link” antara aksara Hanacaraka dari jaman Jawa kuna dan aksara Budha yang sampai sekarang masih digunakan di tanah Jawa, terutama di sekitar Gunung Merapi dan Gunung Merbabu sampai abad ke-18. Prasasti ini dinamakan dengan Prasasti Ngadoman yang ditemukan di daerah Salatiga. Namun, contoh aksara Budha yang paling tua digunakan berasal dari Jawa barat dan ditemukan dalam naskah-naskah yang menceritakan Kakawin Arjunawiwaha dan Kunjarakarna. Gambar 2.3 Prasasti Ngadoman f. 

Munculnya Aksara Hanacaraka Baru Setelah jaman Majapahit, muncul jaman Islam dan juga Jaman Kolonialisme Barat di tanah Jawa. Dijaman ini muncul naskah-naskah manuskrip yang pertama yang sudah menggunakan aksara Hanacaraka baru. Naskah-naskah ini tidak hanya ditulis di daun palem (rontal atau nipah) lagi, namun juga di kerta dan berwujud buku atau codex (“kondheks”). Naskah-naskah ini ditemukan di daerah pesisir utara Jawa dan dibawa ke Eropa pada abad ke 16 atau 17. Gambar 2.4 Naskah Aksara Jawa Bentuk dari aksara Hanacaraka baru ini sudah berbeda dengan aksara sebelumnya seperti aksara Majapahit. 

Perbedaan utama itu dinamakan serif tambahan di aksara Hanacaraka batu. Aksara-aksara Hanacaraka awal ini bentuknya mirip semua mulai dari Banten sebelah barat sampai Bali. Namun, akhirnya beberapa daerah tidak menggunakan aksara hanacaraka dan pindhah menggunakan pegon dan aksara hanacaraka gaya Durakarta yang menjadi baku. Namun dari semua aksara itu, aksara Bali yang bentuknya tetap sama sampai abad ke-20. Aksara Pallawa ini digunakan di Nusantara dari abad ke-4 sampai kurang lebih abad ke-8. Lalu aksara Kawi Wiwitan digunakan dari abad ke-8 samapai abad ke-10, terutama di Jawa Tengah.

Sejarah Aksara Jawa Hanacaraka

Aksara Jawa Hanacaraka
Konon sejarah yang berkembang di bumi Nusantara ini mengenai munculnya Aksara Jawa Hanacaraka dilatarbelakangi dari cerita pada jaman dahulu, di Pulau Majethi hidup seorang satria sakti mandraguna bernama Ajisaka. Sang Satria mempunyai dua orang punggawa, Dora dan Sembada namanya. Kedua punggawa itu sangat setia kepada pemimpinnya, sama sekali tidak pernah mengabaikan perintahnya. 

Pada suatu hari, Ajisaka berkeinginan pergi berkelana meninggalkan Pulau Majethi. Kepergiannya ditemani oleh punggawanya yang bernama Dora, sementara Sembada tetap tinggal di Pulau Pulo Majethi, diperintahkan menjaga pusaka andalannya. Ajisaka berpesan bahwa Sembada tidak boleh menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun kecuali kepada Ajisaka sendiri. Sembada menyanggupi akan melaksanakan perintahnya.

Pada masa itu di tanah Jawa terdapat negara yang terkenal makmur, tertib, aman dan damai, yang bernama Medhangkamulan. Rajanya bernama Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana. Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami kecelakaan, jarinya terbabat pisau hingga terlepas. Ki Juru Masak tidak menyadari bahwa potongan jarinya tercebur ke dalam hidangan yang akan disuguhkan kepada Sang Prabu. 

Ketika tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut, Sang Prabu serasa menyantap daging yang sangat enak, sehingga ia mengutus Sang Patih untuk menanyakan kepada Ki Juru Masak. Setelah mengetahui bahwa yang disantap tadi adalah daging manusia, sang Prabu lalu memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari rakyatnya untuk santapannya. 

Aksara Jawa Hanacaraka
Sejak saat itu Prabu Dewatacengkar mempunyai kegemaran yang menyeramkan, yaitu menyantap daging manusia. Wataknya berbalik seratus delapanpuluh derajat, berubah menjadi bengis dan senang menganiaya . Negara Medhangkamulan beubah menjadi wilayah yang angker dan sepi karena rakyatnya satu persatu dimangsa oleh rajanya, sisanya lari menyelamatkan diri. Sang Patih pusing memikirkan keadaan, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan kepada rajanya

Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya Dora tiba di Medhangkamulan, heranlah Sang Satria melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan, Ajisaka lalu menghadap Rekyana Patih, menyatakan kesanggupannya untuk menjadi santapan Prabu Dewatacengkar. 

Aksara Jawa Hanacaraka
Pada awalnya Sang Patih tidak mengizinkan karena merasa sayang bila Ajisaka yang harus disantap Sang Prabu, namun Ajisaka sudah bulat tekadnya, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu. Sang Prabu tak habis pikir, mengapa Ajisaka mau menyerahkan jiwa raganya untuk menjadi santapannya. Ajisaka mengatakan bahwa ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalkan ia dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya .

Di samping itu, harus Sang Prabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut. Sang Prabu menyanggupi permintaannya. Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya . Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa semakin mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut selatan. Ikat kepala tersebut kemudian dikibaskan oleh Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar jatuh ke laut. Seketika wujudnya berubah menjadi buaya putih . 

Ajisaka kemudian menjadi raja di Medhangkamulan.Setelah dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus Dora pergi kembali ke Pulau Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setibanya di Pulo Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka Ajisaka. 

Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena ia berpegang pada perintah Ajisaka ketika meninggalkan Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai keduanya sama-sama tewas 

Arti dan Makna dari Huruf HANACARAKA

Ha Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
Na Nur candra, gaib candra, warsitaning candara – pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi
Ca Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi – arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
Ra Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
Ka Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesajeteraan alam
Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya
Ta Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang
     hidup  
Sa Sifat ingsun handulu sifatullah – membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
Wa Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa
       batas
La Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
Pa Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah
Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
Ja Jumbuhing kawula lan Gusti – Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya
Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah/kodrat Illahi
Nya Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan
Ma Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin/mantap dalam menyembah Ilahi
Ga Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani
Ba Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam
Tha Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan
Nga Ngracut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi manusia

Bagaimana Sahabat TravelEsia Mengenai Sejarah Aksara.Aksara Jawa Hanacaraka nantikan Artikel Sejarah TravelEsia Di Edisi Berikutnya


Suku Dayak : Mengenal Lebih Dekat Suku Asli Tanah Borneo

Suku Dayak - TravelEsia - Suku Dayak merupakan suku Suku yang menjadi salah satu suku di Indonesia yang sangat dikenal di dunia. Namun tidak hanya di Indonesia saja tercipta mitos-mitos tentang Suku Dayak yang belum tentu kebenarannya, namun juga mitos-mitos lainnya bisa saja juga terjadi di luar Indonesia, khusunya negara-negara non asia. Ya, tentu saja ada kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Suku Dayak dan Indonesia karena salah satu Suku Dayak indonesia dapat dikenal oleh dunia dan tentunya hal itu berdampak positif bagi Indonesia terlebih mengenai tanah borneo.

Suku Dayak

Suku Dayak

adalah suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang-orang Melayu yang datang ke Kalimantan. Orang-orang Dayak sendiri sebenarnya keberatan memakai nama Dayak, sebab lebih diartikan agak negatif. Padahal, semboyan orang Dayak adalah “Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seseorang yang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur.

SUKU BANGSA DAYAK

Suku Dayak
Dayak adalah nama yang oleh penduduk pesisir pulau Borneo diberi kepada  penghuni pedalaman yang mendiami Pulau Kalimantan. Budaya masyarakat Dayak adalah Budaya Maritim atau Bahari. Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan "perhuluan" atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya.Semboyan orang Dayak adalah “Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seseorangyang memiliki kekuatan gagah berani, serta tidak kenal menyerah atau pantang mundur. Berdasarkan pola menetap, Suku Dayak dibedakan menjadi:
  • Dayak Ngaju atau Ola Ngaju, tinggal di daerah Kalimantan Tenggara.
  • Dayak Kayan: tinggal di daerah Kalimantan Utara.
  • Dayak Maayan Siung: tinggal di daerah Kalimantan Selatan, sepanjang Sungai Siung, yakni anak Sungai Barito.
  • Dayak Kenyah, Iban, Ot Danum: tersebar di pedalaman Kalimantan.
  • Suku Bangsa Punan: suku bangsa terasing yang hidup di Kalimantan (tidak termasuk Suku Dayak)

Kepercayaan dan Religi

Suku Dayak
Masyarakat Dayak menganut agama leluhur yang diberi nama sebagai agamaKaharingan. Kepercayaan asli adalah animism yang disebutKaharingan.Kata ini diambil dari istilah DanumKaharingan yang berarti “air kehidupan”.Mereka percaya pada:
  • Ngajum ganan :makhluk halus dan roh yang tinggal di sekeliling manusia.
  • Ngaju liau:roh nenek moyang. Menurutnya jiwa orang yang mati (ngaju hambaruan), tinggal di sekeliling manusia sebagailiau. Liau akan kembali kepada dewa tertinggi yang disebut Ranying.
Upacara-upacara yang ada:
  • Upacara sesaji pada roh-roh,
  • Upacara kelahiran anak,
  • Memandikan bayi untuk yang pertama kalinya,
  • Memotong rambut bayi,
  • Upacara penguburan, orang Dayak yang mati dikubur dalam peti mayat yang  berbentuk kayu lesung (ngaju raung). Bila sudah menjadi tulang, diadakan  pembakaran mayat yang bagi Dayak Ngaju disebuttiwah,bagi Ot Danum dan Maanyam disebutijambe.Sekarang, agama ini kian lama kian ditinggalkan.
Sejak abad pertama Masehi, agama Hindu mulai memasuki Kalimantan dengan ditemukannya  peninggalan agama Hindu di Amuntai, Kalimantan Selatan.  Selanjutnya berdirilah kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Namun umumnya masyarakat Dayak di  pedalaman tetap memegang teguh pada hukum adat/kepercayaan Kaharingan. 

Suku Dayak
Sebagian besar masyarakat Dayak yang sebelumnya beragama Kaharingan kini memilih Kekristenan, namun kurang dari 10% yang masih mempertahankan agama Kaharingan. Agama Kaharingan sendiri telah digabungkan ke dalam kelompok agama Hindu sehingga mendapat sebutan agama Hindu Kaharingan. 

Namun ada pula sebagian kecil masyarakat Dayak kini mengkonversi agamanya dari agama Kaharingan menjadi agama Buddha (Buddha versi Tionghoa), yang  pada mulanya muncul karena adanya perkawinan antarsuku dengan etnis Tionghoa yang beragama Buddha, kemudian semakin meluas disebarkanoleh para Biksu di kalangan masyarakat Dayak misalnya terdapat pada masyarakat Dayak yang tinggal di kecamatan Halong di Kalimantan Selatan. 

Di Kalimantan Barat, agama Kristen diklaim sebagai agama orang Dayak, tetapi hal ini tidak berlaku di propinsi lainnya sebab orang Dayak juga banyak yang memeluk agama-agama selain Kristen misalnya ada orang Dayak yang sebelumnya beragama Kaharingan kemudian masuk Islam namun tetap menyebut dirinya sebagai Suku Dayak.

Suku DayakAgama sejati orang Dayak adalah Kaharingan. Di wilayah perkampungan-perkampungan Dayak yang masih beragama Kaharingan  berlaku hukum adat Dayak, namun tidak semua daerah di Kalimantan tunduk kepada hukum adat Dayak, kebanyakan kota-kota di pesisir Kalimantan dan  pusat-pusat kerajaan Islam, masyarakatnya tunduk kepada hukum adat Melayu/Banjar seperti suku-suku Melayu-Senganan, Kedayan, Banjar, Bakumpai, Kutai, Paser, Berau, Tidung, dan Bulungan. Bahkan di wilayah perkampungan- perkampungan Dayak yang telah sangat lama berada dalam pengaruh agama Kristen yang kuat kemungkinan tidak berlaku hukum adat Dayak/Kaharingan. 

Di masa kolonial, orang-orang bumiputera Kristen dan orang Dayak Kristen di  perkotaan disamakan kedudukannya dengan orang Eropa dan tunduk kepada hukum golongan Eropa. Belakangan penyebaran agama Nasrani mampu menjangkau daerah-daerah Dayak terletak sangat jauh di pedalaman sehingga agama Nasrani dianut oleh hampir semua penduduk pedalaman dan diklaim sebagai agama orang Dayak.

Kekerabatan dan Organisasi Sosial

suku dayak
Sistem ambilineal: garis keturunan bias memilih dari salah satu orang tua (Bapak/Ibu). Sehingga sIstem pewarisan tidak membedakan anak laki-laki dan anak perempuan.Bentuk Kehidupan Keluarga:
  • Keluarga batih (nuclear family), wali/asbah (mewakili keluarga dalam kegiatan sosial dan politik di lingkungan dan di luar keluarga) adalah anak laki-laki tertua,
  • Keluarga luas (extended family), wali/asbah adalah saudara laki-laki ibu dan saudara laki-laki ayah. Peran wali/asbah, misalnya dalam hal pernikahan, orang yang paling sibuk mengurus masalah pernikahan sejak awal sampai akhir acara. Oleh karena itu, semua permasalahan dan keputusan keluarga harus dikonsultasikan dengan wali/asbah. 
Penunjukan wali/asbah berdasarkan kesepakatan keluarga.
Perkawinan Yang Boleh Dilakukan Dalam Keluarga Paling Dekat :
  • Antara saudara sepupu dua kali.Perkawinan antara gadis dan bujang  bersaudara sepupu derajat kedua (hajenan), yaitu sepupu dan kakek yang  bersaudara.
  • Sistem endogamI (perkawinan yang ideal),yaitu perkawinan dengan sesama suku dan masih ada hubungan keluarga.
Perkawinan Yang Dilarang :
  • Incest / Salahoroi,anak dengan orangtua.
  • Patri parallel–cousin,perkawinan antara dua sepupu yang ayah-ayahnya  bersaudara sekandung.
  • Perkawinan antara generasi-generasi yang berbeda(contoh : tante +  ponakan).
Pola Kehidupan Setelah Menikah :
  • Pola matrilokal,suami mengikuti pihak keluarga istri,
  • Pola neolokal,terpisah dari keluarga kedua belah pihak. Ketika Huma Betang (longhouse) masih dipertahankan, keluarga baru harus menambah  bilik pada sisi kanan atau sisi kiri huma betang sebagai tempat tinggal mereka.

Adat Istiadat

Dibawah ini ada beberapa adat istiadat bagi Suku Dayak yang masih terpelihara hingga kini, dan dunia supranatural Suku Dayak pada zaman dahulu maupun zaman sekarang yang masih kuat sampai sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, karena pada awal mulanya Suku Dayak berasal dari pedalaman Kalimantan.

Upacara Tiwah

Suku Dayak
Upacara Tiwah merupakan acara adat Suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudah meninggal dunia. 

Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah ini sebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkan ke tempatnya (sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gongmaupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan di tempatnya (Sandung).

Dunia Supranatural

Dunia Supranatural bagi Suku Dayak memang sudah sejak jaman dulu merupakan cirri khas kebudayaan Dayak. Karena supranatural ini pula orang luar negeri sana menyebut Dayak sebagai pemakan manusia ( kanibal ). Namun  pada kenyataannya Suku Dayak adalah suku yang sangat cinta damai asal mereka tidak di ganggu dan ditindas semena-mena. 

Kekuatan supranatural Dayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya Manajah Antang. Manajah Antang merupakan cara Suku Dayak untuk mencari petunjuk seperti mencari keberadaan musuh yang sulit di temukan dari arwah para leluhur dengan media  burung Antang, dimanapun musuh yang di cari pasti akan ditemukan.Mangkok merah. Mangkok merah merupakan media persatuan Suku Dayak

Suku Dayak
Mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar.“Panglima” atau sering suku Dayak sebut Pangkalimabiasanya mengeluarkan isyarat siaga atau perang berupa mangkok merah yang di edarkan dari kampung ke kampung secara cepat sekali. Dari penampilan sehari-hari banyak orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa- biasa saja, hanya saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. 

Percaya atau tidak panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apa saja seperti peluru, senjata tajam dan sebagainya. Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang  panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasuki dalam tubuh pangkalima lalu jikapangkalima tersebut ber “Tariu” ( memanggilroh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatan seperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu. 

Orang-orang yang sudah dirasuki roh para leluhur akan menjadi manusia dan bukan. Sehingga biasanya darah, hati korban yang dibunuh akan dimakan. Jika tidak dalam suasana perang tidak pernah orang Dayak makan manusia.Kepala dipenggal, dikuliti dan di simpan untuk keperluan upacara adat. Meminum darah dan memakan hati itu, maka kekuatan magis akan bertambah. Makin banyak musuh dibunuh maka orang tersebut makin sakti. Mangkok merah terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk bundar segera dibuat. 

Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi  jerangau merah (acorus calamus) yang melambangkan keberanian (ada yang mengatakan bisa diganti dengan beras kuning), bulu ayam merah untuk terbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang mengatakan bias diganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuk tempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkus dengan kain merah. Menurut cerita turun-temurun mangkok merah pertama beredar ketika  perang melawan Jepang dulu. 

Lalu terjadi lagi ketika pengusiran orang Tionghoa dari daerah-daerah Dayak pada tahun 1967. pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang antar etnis tetapi lebih banyak muatan politisnya. Sebab saat itu Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia. 

Menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantan yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapak kepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenek moyang Suku Dayak itu diturunkan dari langityang ke tujuh ke dunia ini dengan “PalangkaBulau” ( Palangka artinya suci, bersih,merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan“Ancak atau Kalangkang” ).

ASAL MULA

Suku Dayak
Pada tahun (1977-1978) saat itu, benua Asia dan pulau Kalimantan yang merupakan bagian nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras mongoloid dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan “Muller-Schwaner”. Suku Dayak merupakan penduduk Kalimantan yang sejati. Namun setelah orang-orang Melayu dari Sumatra dan Semenanjung Malaka datang, mereka makin lama makin mundur ke dalam.
Belum lagi kedatangan orang-orang Bugis, Makasar, dan Jawa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Suku Dayak hidup terpencar-pencar di seluruh wilayah Kalimantan dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Suku ini terdiri atas beberapa suku yang masing-masing memiliki sifat dan perilaku berbeda.

Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak, sering disebut ”Nansarunai Usak Jawa”, yakni sebuah kerajaan Dayak Nansarunai yang hancur oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389 (Fridolin Ukur,1971). Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasala dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1608).

Suku Dayak
Sebagian besar suku Dayak memeluk Islam dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Banjar. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman di Kalimantan Tengah, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Lawas dan Watang Balangan. Sebagain lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang Sultan Kesultanan Banjar yang terkenal adalah Lambung Mangkurat sebenarnya adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum)

Tidak hanya dari nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf kanji disebutkan bahwa kota yang pertama di kunjungi adalah Banjarmasin. Tetapi masih belum jelas apakah bangsa Tionghoa datang pada era Bajarmasin (dibawah hegemoni Majapahit) atau di era Islam.

Kedatangan bangsa Tionghoa tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik.

Suku Dayak
Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Chang Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci (Sarwoto kertodipoero,1963)

Dibawah ini ada beberapa adat istiadat bagi suku dayak yang masih terpelihara hingga kini, dan dunia supranatural Suku Dayak pada zaman dahulu maupun zaman sekarang yang masih kuat sampai sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia, karena pada awal mulanya Suku Dayak berasal dari pedalaman Kalimantan.

Walau suku dayak lebih terkenal karena tariannya yang sering sekali tampil di pentas internasional, namun ada hal yang menarik mengenai suku dayak di mata dunia selain budaya suku dayak. Berdasarkan berbagai sumber, penulis ternyata menemukan ada 5 hal yang menakutkan mengenai suku dayak yang sedikit menggertakan gigi ketika mereka mendengar tentang suku dayak. Apa saja 5 hal tersebut ? berikut ulasannya :

#1. The Ghost Warrior 

Suku Dayak
Suku dayak mempunyai The Ghost Warrior, atau dalam bahasa Indonesia dapat di artikan prajurit hantu dan seperti itu lah yang mereka ketahui tentang suku dayak. Apa benar suku dayak mempunyai prajurit hantu ? mungkin anda telah mengetahuinya siapa sebenarnya prajurit hantu ini. Ya, 

The Ghost Warrior is pangkalima burung atau penglima burung. Perawakan panglima burung yang masih misterius bagi masyrakat Indonesia menjadikan pangkalima burung bak prajurit hantu yang siap menyerang siapa saja yang melecehkan suku dayak untuk melindungi tanah borneo.

#2. Humans With Full Tattoo

Suku Dayak
untuk yang kedua ini sepertinya tidak menyeramkan. Di mata dunia, tato pada suku dayak yang ada hampir menyelimuti tubuh suku dayak adalah sebuah karya seni. Sepertinya perlu di koreksi bahwa tidak semua masyarakat suku dayak mentatto seluruh tubuhnya. 

Tapi jika dikaitkan dengan judul tulisan ini, maka bisa saja menjadi menyeramkan jika semua suku dayak mentatto seluruh tubuhnya dan anda hidup di lungkungan dengan manusia yang semuanya penuh tatto.

#3. The Deadly Sword

Suku Dayak
Pedang mematikan ? awalnya kebinggungan tentang hal menakutkan ini, karena suku dayak tidak memiliki pedang. Ternyata yang mereka maksud pedang mematikan ini adalah Mandau / Parang. 

Lucu, karena pedang dan mandau adalah hal yang berbeda. tapi ane dapat menangkap maksud yang sebenarnya dari sumber tersebut. Pedang mematikan ini adalah pedang magis yang dapat membunuh siapapun tanpa rasa kasihan.

#4. Poisonous Chopsticks

Selain mandau terbang, hal menakutkan suku dayak di mata dunia adalah sumpit beracun. Entah apakah sumpit beracun masih ada atau tidak untuk saat ini, namun sumpit beracun suku dayak telah menjadi sejarah tersendiri bagi masyarakat dayak pasa masa penjajahan di masa lalu.

#5. Dangerous Magic

Untuk yang ke lima benar-benar menakutkan bagi mereka. Suku dayak memiliki kekuatan magis yang sangat berbahaya yang menjadikan suku dayak sebagai salah satu dari 5 suku paling di takuti di dunia karena sihirnya. Sedikit berlebihan sih, tapi untuk pengingat saja bahwa tidak semua suku dayak memiliki kekuatan-kekuatan magis seperti yang ditakutkan oleh seluruh dunia termasuk Indonesia. Hanya segelintir orang dari suku dayak saja yang memiliki kekuatan seperti itu.

Itulah 5 Hal Menakutkan Suku Dayak di Mata Dunia. Ada yang benar , ada yang salah kutip dan ada yang berlebihan, tapi secara umum mengambarkan sedikit mengenai suku dayak, walau sebenarnya masih banyak tentang Suku Dayak yang masih belum di ketahui oleh orang-orang Indonesia, telebih lagi orang luar Indonesia.


 

Manakah Destinasi Terbaik Di Indonesia

Support : Informasi lalu Lintas | | Traffic Information Center
Copyright © 2012 - 2017. Indonesia Tourism and Travel Information - Paket Wisata - Indonesia Tour Package - TravelEsia.Us - All Logos, Trademarks and Registered Trademarks Are The Property of TravelEsia Corporation.
Website Ini Dikelola Oleh : Devisi IT TravelEsia Published by TravelEsia Tour And Travel
Proudly powered by Flight And Hotel Search Engine