Travel Information :

Showing posts with label Nusa Tenggara Timur. Show all posts
Showing posts with label Nusa Tenggara Timur. Show all posts

Desa Wae Rebo : Meniti Bumi Menuju Keindahan Negeri Diatas Awan

Desa Wae Rebo - TravelEsia - Desa Wae Rebo merupakan pembahasan TravelEsia magazine Pada kesempatan Ini.Desa Wae Rebo terletak di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kecamatan Satarmese Barat. Gunung-gunung megah yang mengelilinginya membuat desa ini terisolasi. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakatnya harus berjalan kaki menembus hutan sepanjang 9 kilometer untuk sampai ke Denge, desa yang paling dekat dengan Desa Wae Rebo.
Desa Wae Rebo

Desa Wae Rebo

yang berpenghuni 112 Kepala Keluarga atau sekitar 625 jiwa penduduk (data 2012) ini semakin mencuri perhatian wisatawan, terutama wisatawan dari mancanegara. Tidak bisa dipungkiri bahwa selain faktor biaya yang relatif mahal untuk sampai ke tempat ini, perjalanannya sendiri pun memberikan pengalaman berpetualang dan tantangan tersendiri. Dari data yang diperoleh pada tahun 2011, total ada 313 turis dari 19 negara yang datang berkunjung ke kampung ini.

Penduduk Desa Wae Rebo sendiri bukannya tanpa usaha selain mendapat tambahan dari wisatawan yang berkunjung. Kopi dan kain cura adalah salah satu usaha yang menjadi penghasilan utama dari penduduk kampung Wae Rebo. Kopi yang dijadikan komoditi adalah jenis arabika. Sedangkan kain cura menjadi kerajinan kain tenun yang dilakukan oleh ibu-ibu di Desa Wae Rebo. Kain cura ini memiliki motif khas berwarna cerah. Untuk pejalan yang memang tertarik untuk mengoleksi kain tenun dari beberapa daerah di Indonesia, kain cura ini bisa menjadi pilihan tersendiri.

Mengapa Anda Harus Kesana..??

Desa wae rebo
Desa Wae Rebo memang indah dan menakjubkan, diselimuti oleh kabut tipis di seluruh perkampungan membuat Wae Rebo pantas mendapatkan julukan ‘kampung diatas awan’. Secara geografis kampung ini terletak diatas ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (m dpl). Wae Rebo merupakan bagian dari Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai Barat, Flores.Disini wisatawan mendapat kesempatan untuk melihat dan tinggal di Mbaru Niang, sebuah rumah tradisional Flores yang masih tersisa dan hanya ada di kampung Desa Wae Rebo

Pada tahun 2012 silam, Mbaru Niang mendapatkan penghargaan dari UNESCO. Pemandangan alam perbukitan dan hutan hijau yang masih asri, dengan diselimuti kabut yang kadang tersibak oleh hembusan angin sehingga memperlihatkan tujuh buah Mbaru Niang yang berdiri dengan anggunnya, merupakan sebuah pemandangan bak di negeri khayalan.

Desa wae rebo
suasana Desa Wae Rebo yang terisolir dari hiruk pikuk kota juga menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka. Kearifan lokal masyarakat pedalaman yang masih bergantung dari alam ini juga merupakan suguhan tersendiri ketika berkunjung ke kampung di atas awan ini. Salah satu kearifan lokal yang masih mereka pegang adalah menjaga kelestarian Mbaru Niang. Di Wae Rebo sendiri hanya boleh ada tujuh buah Mbaru Niang tidak kurang dan tidak lebih. Satu rumah Mbaru Niang bisa ditempati enam sampai delapan keluarga. 

Sisa masyarakat yang tidak tertampung di Desa Wae Rebo harus pindah ke kampung Kombo, sebuah kampung yang terletak kira-kira lima kilometer dari Wae Rebo yang kemudian mendapat julukan kampung kembaran Wae Rebo karena sebagian besar penduduk kampung Kombo berasal dari Wae Rebo. 

Wae Rebo terletak di Barat Daya kota Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Namun mengingat akses transportasi udara, akan lebih mudah jika perjalanan dimulai dari Labuan Bajo. Dari beberapa sumber, kebanyakan pengunjung mengambil rute memutar dari Ruteng sebelum menuju desa Denge yang merupakan desa terakhir sebelum menuju kampung Desa Wae Rebo. Selama perjalanan panjang menuju desa Denge kita akan disuguhkan pemandangan yang luar biasa, hamparan sawah dari tanah Flores yang subur, jalanan bukit yang menanjak dan pemandangan pesisir pantai yang menggoda.Denge merupakan desa pesisir yang berada di tepi pantai.

Desa wae rebo
Dari Denge kita bisa melihat pulau Mules dengan sebuah puncak yang terletak di tengah pulau tersebut. Denge berperan sebagai desa transit bagi para wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo. Disini sudah ada beberapa homestay yang dikelola oleh warga Denge maupun Wae Rebo yang ‘turun gunung’. Biasanya sebelum melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo, para wisatawan akan beristirahat di Denge setelah perjalanan panjang dari Labuan Bajo atau Ruteng. Desa Denge adalah desa terakhir yang dilalui oleh kendaraan bermotor, baik itu motor maupun mobil. Untuk mencapai Desa Wae Rebo, wisatawan harus berjalan kaki. 

Untuk memudahkan para pengunjung, banyak pemuda desa Denge maupun Wae Rebo yang bersedia menjadi tenaga porter, membantu pengunjung membawa perlengkapan mereka pada saat trekking menuju Wae Rebo.Perjalanan akan dimulai dari Denge denga jarak tempuh ± 9 km yang bisa ditempuh dalam waktu 2 – 4 jam, sangat tergantung kondisi fisik masing-masing pengunjung. Karena letak desa Denge persis di tepi pantai, bisa dikatakan perjalanan ke Wae Rebo dimulai dari titik 0 m dpl dan mendaki pengunungan hingga ketinggian 1.200 m dpl. Rute awal merupakan jalanan tanah lebar yang sekiranya akan dibuat jalan aspal.Perjalanan akan melintasi kawasan hutan yang rimbun. 

Desa wae rebo
Pada saat memasuki hutan, pengunjung akan disambut oleh riuhnya suara kicauan burung. Hutan di wilayah ini merupakan area umum, yaitu sebuah lokasi yang menjadi tempat pertemuan setiap warga masyarakat. Tidak heran jika selama perjalanan melintasi hutan, kita akan sering bertemu dengan warga masyarakat yang sedang mengambil hasil hutan, mengantarkan pesan kepada keluarga di Kombo atau Denge, atau hanya sekedar berkunjung ke sanak keluarga, dan lain sebagainya.

Rute berikutnya adalah jalur memutar melewati perbukitan yang rawan longsor dan jalanan semakin menyempit. Jalur dengan variasi tingkat kesulitan ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pengunjung. Jalur terberat adalah jalur antara Denge hingga Wae Lumba. Jalur ini berkarakter bebatuan yang besar, kerap menanjak dan terkadang licin. Selain itu kita akan melewati sebuah sungai kecil sebelum tiba di Wae Lumba. Jalur Wae Lumba ke Poco Roko juga menegangkan, terutama untuk orang yang takut ketinggian. Pengunjung akan menyusuri jalur yang berada di bibir jurang. 

Poco Roko merupakan titik tertinggi dan lokasi dimana masyarakat bersentuhan dengan modernisasi, disini biasanya warga mencari sinyal telepon. Dengan adanya sinyal telepon berarti komunikasi dengan dunia luar bisa terjadi. Salah seorang pengunjung mengaku pernah melakukan update status di salah satu jejaring sosial pada saat berada di Poco Roko. Beberapa menit setelah melalui Poco Roko, kita akan sampai di Ponto Nao. Disini terdapat sebuah pos pemantau dengan atap yang terbuat dari ijuk, sama seperti bahan yang digunakan untuk membuat atap Mbaru Niang. Dari Ponto Nao ini kita bisa melihat di kejauhan sebuah dusun dengan bangunan-bangunan berbentuk kerucut yang mengepulkan asap. Itulah kampung diatas awan, Wae Rebo. 

Jalur perjalanan akan menurun dengan hamparan tanaman kopi di sepanjang jalan hingga tiba di gerbang kampung Wae Rebo.Merangkul Kearifan Lokal Desa Wae Rebo adalah kampung adat Manggarai Tua yang berusaha untuk melestarikan kearifan lokal sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia. Salah satu yang dilakukan adalah ritual Pa’u Wae Lu’u. Ritual ini dipimpin oleh salah satu tetua adat Wae Rebo yang bertujuan meminta ijin dan perlindungan kepada roh leluhur terhadap tamu yang berkunjung dan tinggal di Desa Wae Rebo hingga tamu tersebut meninggalkan kampung ini. Tidak hanya itu, ritual ini juga ditujukan kepada pengunjung ketika sudah sampai di tempat asal mereka. 

Desa wae rebo
Bagi masyarakat Wae Rebo, wisatawan yang datang dianggap sebagai saudara yang sedang pulang kampung. Sebelum selesai ritual ini, para tamu tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan apapun termasuk mengambil foto.Tetua adat Wae Rebo kemudian akan melakukan briefing kecil tentang beberapa hal yang tabu dilakukan selama para tamu berada di Wae Rebo. Beberapa hal tersebut antara lain adalah memakai pakaian sopan, artinya untuk para wanita tidak diperkenankan memakai tank top atau hot pants, selain karena udara dingin, hal ini akan membuat warga masyarakat menjadi risih. 

Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah tidak menunjukkan kemesraan, baik itu dengan lawan jenis maupun sejenis, seperti berpegangan tangan, berpelukan atau berciuman, bahkan untuk yang sudah berstatus suami istri. Hal lain yang perlu dihindari adalah mengumpat atau memaki selama berada di kampung ini. Pengunjung juga diharuskan melepaskan alas kaki ketika masuk ke dalam rumah.Kearifan lokal lain yang perlu mendapat perhatian adalah tentang penggunaan uang administrasi bagi wisatawan yang masuk ke kampung Wae Rebo. 

Memang ada kesan bahwa biaya administrasi selalu dikaitkan dengan komersialisasi budaya, uangnya dikemanakan, dan pertanyaan lainnya yang selalu dikaitkan dengan korupsi. Namun uang administrasi di Wae Rebo ini sudah diatur menurut kearifan lokal setempat. Pengelolaan uang ini dipercayakan kepada Lembaga Pariwisata Wae Rebo. Uang administrasi yang didapat dari wisatawan digunakan untuk keperluan biaya bahan makanan dan memasak makanan yang dibuat oleh para ibu, pemeliharaan infrastruktur kampung, bahan bakar generator set dan sumber air.Sehari-hari warga Wae Rebo merupakan petani kopi dan pengrajin kain tenun cura. Saat ini warga Wae Rebo sedang mengembangkan berkebun sayur mayur. 

Untuk wisatawan yang datang, bisa mengikuti kegiatan ini, seperti ikut menumbuk kopi dengan ibu-ibu, memetik kopi dari kebun kopi dengan para lelaki bahkan bisa melihat ibu-ibu menenun kerajinan kain cura yang biasanya dilakukan di depan rumah. Para wisatawan dapat terlibat langsung dalam kegiatan sehari-hari masyarakat Wae Rebo. Saat malam tiba pengunjung akan menginap di Mbaru Niang, rumah adat Wae Rebo yang namanya sudah mendunia. Dengan beralaskan tikar yang dianyam dari daun pandan, kita akan bercengkerama dan saling berbagi cerita tentang pengalaman hidup keluarga besar di Wae Rebo.

Bagaimana Cara Anda Kesana..??

Untuk menuju Denge menggunakan transportasi umum, kamu harus memulai perjalananmu dari Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai. Ada penerbangan langsung ke Ruteng dari Denpasar, hanya saja tidak setiap hari. Lebih mudah untuk ke Labuan Bajo terlebih dahulu baru sebelum melanjutkannya dengan bus atau travel menuju Ruteng.Transportasi dari Ruteng ke Denge atau Dintor (Dintor adalah desa di dekat Denge) tidaklah banyak. 

Terdapat bemo, semacam angkot, yang beroperasi tidak setiap hari. Yang setiap hari tersedia adalah oto kayu, truk yang bagian bak belakangnya disulap dengan papan-papan menjadi tempat duduk penumpang.Oto kayu ini pun hanya ada satu-dua yang beroperasi tiap hari. Mereka berangkat dari Terminal Mena di Ruteng sekitar jam 9 sampai 10 pagi. Sampai di Denge sekitar jam 2 siang. Mau waktu yang lebih fleksibel? Kamu bisa menggunakan ojek, namun harus siap terjaga selama perjalanan.

Bagaimana Dengan Akomodasinya..??

Di Desa Wae Rebo belum tersedia hotel namun yang hanya tersedia penginapan atau rumah masyarakat yang dapat di jadikan penginapan.

Know Before You Go..!! 

1. Ransel yang cukup kuat untuk trekking menuju Wae Rebo

Untuk perjalanan kali ini satu-satunya tas perjalanan yang cocok adalah tas ransel karena kita dipaksa untuk membawa semua barang menuju Wae Rebo dengan berjalan kaki selama 4 jam dengan medan yang tak bisa dibilang mudah.
Memang untuk menuju ke Desa Wae Rebo kita perlu menyewa pemandu warga lokal Manggarai sebagai penunjuk jalan dan bisa diminta tolong merangkap sebagai porter, tapi demi alasan kepraktisan dan kenyamanan perjalanan, ransel tetap menjadi satu-satunya pilihan tas perjalanan.
Saran saya jika tidak memungkinkan hanya membawa sebuah ransel karena akan melanjutkan perjalanan ke tempat lain (snorkeling di Pink Beach, misalnya) dapat menitipkan koper di penginapan di Denge atau Dintor. Saya memang memilih untuk bermalam di Dintor sebelum melanjutkan perjalanan ke Wae Rebo sehingga sisa bawaan saya yang tidak dibutuhkan di Wae Rebo saya titipkan disini dan diambil kembali ketika kembali dari Wae Rebo.

2. Sepatu hiking yang “menggigit”

Alas kaki yang tepat menjadi hal penting dalam perjalanan kali ini mengingat medan yang akan ditempuh. Tidak disarankan menggunakan sandal gunung, karena jika pada musim hujan jalanan menjadi becek dan itu membuat tidak nyaman jika air masuk kedalam sandal. Selain itu, ancaman lintah juga menghantui selama perjalanan. Saya yang menggunakan sepatu dan kaos kaki saja tidak luput dari serangan lintah. Sepatu juga sebaiknya dipilih yang memiliki sol yang “mengigit” tanah dengan baik karena di beberapa bagian terdapat medan berpasir yang cukup licin.

3. Jaket dan kaos kaki untuk tidur

Suhu di Wae Rebo pada malam hari cukup dingin karena letak geografis Wae Rebo yang berada di dataran tinggi. Meskipun untuk bermalam di Mbaru Niang Wae Rebo telah disiapkan alas tidur dan selimut tebal, namun percayalah, jaket dan kaos kaki bersih akan menjadi dewa penolongmu di malam hari.
Cukup bawa jaket hangat untuk malam hari saja, sedangkan jaket untuk trekking tidak terlalu diperlukan karena sepanjang perjalanan ke Wae Rebo kita terlindungi dari sinar matahari oleh rimbunnya pohon.

4. Ambil uang tunai di Labuan Bajo

Setelah meninggalkan Labuan Bajo sudah tidak ditemukan ATM, sehingga saran saya ambillah uang tunai secukupnya di Labuan Bajo untuk membayar penginapan, bensin mobil, sewa pemandu dan porter, serta uang lebih untuk membeli oleh-oleh khas Wae Rebo yang dijual oleh masyarakat di atas sana.

5. Buku Bacaan untuk anak-anak Wae Rebo

Selain buku bacaan untuk menemani selama perjalanan, jangan lupa juga membawa beberapa buku bacaan untuk anak Wae Rebo. Di sana, kemampuan anak-anak dalam berbahasa Indonesia masih terbatas, dalam sehari-hari mereka lebih banyak menggunakan bahasa Manggarai. Mereka baru akan meninggalkan kampung untuk bersekolah di Denge ketika sudah berusia sekolah dasar dan sebelum itu mereka kekurangan sarana belajar terutama dalam bahasa Indoensia. Di Wae Rebo terdapat satu perpustakaan yang dibangun untuk membantu masyarakat Wae Rebo untuk mendapat akses ilmu pengetahuan.
Bagi pengunjung yang datang, boleh menyumbangkan buku bacaan untuk perpusatakaan ini. Namun, sebaiknya buku-buku diserahkan langsung kepada bapak guru Wae Rebo atau orang dewasa lainnya bukan kepada anak-anak Wae Rebo.
Disini memang ada himbauan untuk tidak memberikan apapun ke anak-anak baik itu uang, permen, makanan kecil bahkan buku secara langsung kepada mereka untuk menghindari mental meminta-minta.

6. Baterai cadangan

Di Wae Rebo akses listrik sangat terbatas, listrik hanya menyala dari pukul 6 sore hingga 10 malam saja, sehingga untuk memenuhi hasrat menggunakan alat elektronik disarankan membawa baterai cadangan.
Sebenarnya untuk baterai handphone tidak terlalu dibutuhkan karena sejak dari desa Denge pun sudah tidak ada sinyal ponsel. Selain itu, alangkah lebih baik untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal daripada terus menerus menatap layar ponsel kan?

7. Persiapan fisik!

Terkesan sepele, namun ini sangat penting! Trekking panjang menuju Wae Rebo membutuhkan fisik yang baik, usahakan sebelum memulai perjalanan tubuh dalam keadaan fit dan sehat. Jalan menanjak menguras banyak tenaga dan membuat seluruh otot paha dan betis terasa terbakar saking lelahnya. Sepanjang 8-9 kilometer perjalanan terdapat 3 pos pemberhentian untuk beristirahat sejenak. Jangan lupa membawa persediaan air minum dan makanan kecil selama diperjalanan. Perjalanan saya kali ini membutuhkan persiapan fisik yang ekstra ditambah dengan serba minimnya fasilitas yang ada.
***
Orang bilang, dalam traveling, jika semakin sulit perjalanan mencapai suatu tempat maka akan semakin indah tempat tersebut. Bagi TravelEsia, Desa Wae Rebo tidak hanya indah namun memberikan suatu pandangan baru tentang hidup, budaya, dan nilai juang. Saya sangat berterima kasih pada masyarakat Desa Wae Rebo yang memberikan saya rasa kekeluargaan yang hangat disana.Bagaimana Sahabat TravelEsia.Apakah anda tertarik untuk Meniti Bumi Menuju Keindahan Negeri Diatas Awan yang bernama Desa Wae Rebo,Jika and berkunjung ke Nusa Tenggara Timur sempatkanlah untuk mengunjungi Desa Wae Rebo.Mari kita dukung Indonesia sebagai destinasi wisata dunia
,


Pulau Lembata : Menyibak Sejuta Pesona Nusa Tenggara Timur

Pulau Lembata - TravelEsia - Pulau Lembata merupakan destinasi wisata pilihan TravelEsia Magazine kali Ini.Pulau Lembata layak untuk TravelEsia Perkenalkan Untuk Anda semua,Mengingat Terdapat Sejuta Pesona Keindahannya Yang Layak untuk anda kunjungi.

Pulau Lembata

Pulau Lembata

Sejak 15 Oktber 1999 Lembata merupakan kabupaten sendiri, memisahkan diri dari Kabupaten Flores Timur sebagai kabupaten induk. Disahkan melalui UU Nomor 52/1999 tentang Pembentukan Kabupaten Lembata. Inilah aspirasi warga Pulau Lembata yang muncul sejak 1954.  Kabupaten Lembata adalah Kabupaten yang terus menggeliat untuk memajukan diri dengan populasi pada tahun 2004 sekitar 98.114 jiwa. Posisi Kabupaten ini  diapit oleh dua kabupaten, yaitu wilayah Kabupaten Flores Timur di sebalah Barat dan Kabupaten Alor di sebelah Timur, sedangkan sebelah selatan Laut Sawu dan utara dibatasi oleh Laut Flores. Saat ini  ada  8 kecamatan, yakni Bayusari, Omesuri, Lebatukan, Ile Ape, Nubatukan, Atadei, Nagawatun dan Wulandoni, dengan luas wilayah 126.638 hektar.

Pulau Lomblen atau juga dengan kenal dengan nama pulau Kawula atau juga yang populer dikenal dengan sebuatan Pulau Lembata, merupakan sebuah gugusan kepulauan Solor, yang secara geografis terletak diantara kabupaten Flores Timur dan kabupaten Alor, Propinsi NTT. Pulau lomblen terletak posisi, 8°10′ – 8°11′ LS dan 123°12′ – 123°57′ BT, dengan batas-batas sebelah utara dengan laut flores, selatan dengan laut Sawu, timur dengan selat Alor dan barat dengan selat lamakera dan selat boleng.

Kegiatan barter di pasar Wulandoni Dari sisi administrasi, sejak tahun 1958 Lembata merupakan bagian dari kabupaten Flores Timur, namun berdasarkan Undang-Undang Nomor, 52 Tahun 1999 Pulau Lomblen resmi berdiri menjadi sebuah kabupaten dengan nama Kabupaten Lembata, dengan luas wilayah 1266,48 km² atau 126.648 Ha. Bedasarkan data statistik tahun 2010 pulau Lomblen duhuni oleh 121. 12 jiwa, yang tersebar di 7 kelurahan dan 144 desa. Walau masing-masing etnis memiliki bahasa daerah, namun orang Lembata bersepakat untuk menjadikan bahasa lamaholot sebagai alat komunikasi antar etnis.

Mengapa Anda Harus Ke Lembata..??

Pulau Lembata
Ada eksotisme yang potensi wisata yang belum digarap maksimal Potensi Pantai yang cukup indah, dan wisata laut lainnya.  Potensi Tambang Emas yang menurut infonya mempunyai kadar yang cukup tinggi, namun tidak bisa diekploitasi dikarenakan kendala relokasi penduduk dan penolakan masyarakat lokal.

Pulau Pasir Putih Awelolong merupakan sebuah pulau kecil yang indah dan berpasir putih yang terletak di bagian utara Kota Lewoleba yang memiliki keunikan khas yaitu pulau tersebut hanya muncul pada saat terjadi pasang surut, dan pengunjung dapat memperoleh siput / kerang dengan cara mengorek atau menggali pasir sedalam 5 cm sampai 10 cm. Keseluruhan Pulau tersebut mengandung berbagai jenis siput / kerang. Maka pulau ini sering disebut pulau siput.

Pengunjung juga dapat menikmati wisata dayung, memancing, mandi dan berjemur. Jarak tempuh dari pantai Lewoleba (Kampung Bajo – Rayuan Kelapa) hanya 10 menit s/d 15 menit dengan perahu. Pengunjung dapat bermalam dan menginap di Hotel yang ada di kota Lewoleba
Gua Maria Lewoleba.

Pantai Rekreasi Pasir Putih Waijarang

Pulau Lembata
Pantai Rekreasi Pasir Putih Waijarang ini terletak di Desa Waijarang kurang lebih 10 km dari Lewoleba yang dapat ditempuh baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Keindahan panorama pantai di dukung dengan pemandangan bukit yang indah dan selat Boleng yang sempit. Di tempat tersebut cocok bagi pengunjung untuk menikmati wisata pantai seperti : Ski air, berenang, berjemur, camping, volly pantai, hiking serta pengunjung juga dapat dihibur dengan menikmati atraksi-atraksi budaya.

Pengunjung juga dapat berlayar dengan perahu untuk menikmati panorama pantai yang indah. Obyek ini mempunyai prospek yang luar biasa untuk dikembangkan sehingga Pemda Kabupaten Lembata dalam hal ini Dinas Perhubungan dan Pariwisata dalam programnya akan membangun dan membenahinya menjadi Taman Rekreasi Pantai dalam Tahun Anggaran 2002. Pengunjung dapat menginap di hotel-hotel di Kota Lewoleba.

Sumber Air Panas Alami Sabu Tobo

Pulau Lembata
Sumber Air Panas Alami Sabu Tobo terletak di Desa Ile Boli Kecamatan Nagawutung kurang lebih 1 atau 2 jam dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat dari Lewoleba. Tepatnya diantara Dusun Belane, Bata, Liwolagan. Disana terdapat hutan tropis yang didalamnya mengalir sungai Sabu Tobo yang jernih dan sejuk. 

Kurang lebih 200 meter ke sebelah kiri jalan, pengunjung dapat menemukan sumber mata air panas yang keluar dari tebing dan di sebelah barat melalui akar-akar pohon sebanyak 4 mata air panas. Sumber mata air panas tersebut sangat unik karena dapat langsung dikonsumsi untuk diminum, rasanya seperti air mineral kemasan. Dan dapat dijadikan tempat pemandian yang menyegarkan. Tempat ini dapat juga sebagai tempat peristirahatan / rekreasi keluarga di akhir pekan. Pengunjung dapat menyewa rumah-rumah penduduk sebagai home stay.

Sumber Gas Alam Karun Watuwawer

Pulau Lembata
Sumber Gas Alam Karun Watuwawer Terletak di Desa Atakore Kecamatan Atadei. Mayoritas tanah disekitarnya vulkanis sehingga muncul adanya gas bumi berupa uap-uap panas yang berkekuatan cukup besar. Keunikan dari sumber gas ini adalah digunakan oleh masyarakat lokal sebagai dapur alam. Mereka membuat lubang-lubang kecil kemudian memasukkan berbagai jenis makanan seperti ubi-ubian, kacang-kacangan, jagung muda, sukun dan lain-lain kemudian setelah matang makanan tersebut dapat langsung dikonsumsi dengan aroma yang khas dan mengundang selera. Sambil menunggu matang, pengunjung dapat melakukan aktifitas wisata seperti hiking, bernyanyi dan bergembira ria dengan menikmati tarian-tarian daerah.

Disamping itu juga dapat mengunjungi rumah adat dan proses pembuatan tenun ikat Atadei. Dari Lewoleba dapat dijangkau dengan kendaraan roda dua dan roda empat dengan jarak kurang lebih 35 km. Pengunjung dapat menyewa rumah-rumah penduduk sebagai home stay.

Rumah Adat Dan Situs Pesta Kacang

{esta Kacang Lembata
Rumah Adat dan Ritus Pesta Kacang Jontona Jontona terletak di Kecamatan Ile Ape. Dari Jontana tepatnya di Dusun Lewohala yang terletak di ketinggian Gunung Ile Ape terdapat kampung tua dengan kompleks rumah adat dimana masing-masing mempunyai kelengkapan untuk upacara adat seperti keramik, gading, dll. Disini setiap tahunnya pada bulan September selalu diadakan upacara adat Sora Utan dan Pesta Makan Kacang yang unik yang terpusat pada rumah-rumah adat. 

Selama upacara pesta kacang, pengunjung dapat menikmati atraksi-atraksi budaya serta dapat menikmati tarian-tarian tradisional beserta perlengkapan-perlengkapan yang digunakan dalam tarian-tarian tersebut. Disamping itu pengunjung juga dapat menyaksikan hasil tenun ikat tradisional Ile Ape serta melakukan hiking dari Desa Jontana menuju Kampung Lewolaha untuk menikmati panorama laut dari Gunung Vulkanis Ile Ape.

Pantai Rekreasi Tanah Treket

Pantai Rekreasi Tanah Treket.Pantai rekreasi ini terletak 12 km dari kota Lewoleba dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat selama 20 menit. Sebagian pantai disebelah timur berpasir putih yang cocok untuk mandi, berenang dan berjemur sementara disebelah barat cocok untuk olahraga dayung dan sebagainya. Di pantai ini juga pengunjung dapat menyelam dan snorkeling/diving untuk melihat keindahan taman laut dan terumbu karang. Air lautnya yang tenang seperti danau cocok untuk vespa air. Pengunjung dapat menginap di hotel-hotel di kota Lewoleba

Pantai Pasir Putih Mingar 

Pantai Pasir Putih Mingar ini terletak di Desa Pasir Putih – Mingar pada pesisir Selatan Kecamatan Nagawutung yang merupakan obyek wisata yang sangat menarik bagi pengunjung untuk melakukan kegiatan wisata pantai seperti berselancar dan surfing karena mempunyai gelombang pantai yang cukup tinggi mencapai 2 – 3 meter pada musim Barat dan 1,5 – 2,5 meter pada musim kemarau

Pantai Lewolein 

Pulau Lembata
Pantai Lewolein adalah tempat rekreasi yang sangat indah dan memiliki keistimewaan yaitu komposisi letak dan panorama yang bisa membuat pengunjung berdecak kagum. Di bagian timur pantai terdapat tanjung kecil yang ditumbuhi pohon bakau yang besar dan rindang dengan bebatuan yang berserakan, cocok untuk tempat duduk untuk menyaksikan sunset dari Puncak Gunung Ile Ape.

Di bagian barat terbentang pasir putih keabu-abuan dengan ombak yang tenang sangat cocok untuk mandi dan berjemur di atas pasir Pantai Pasir Putih Bean Wisata Pantai Pasir Putih Bean merupakan pantai pasir putih yang unik dalam bentuk kristal-krsital halus yang membentang dari barat ke timur sejauh ± 4 – 5 km dengan ombak laut yang bergulung terus menerus dan pecah secara teratur. Sangat cocok untuk berselancar maupun surfing. Pantainya yang cukup landai dan aman/tenang bagi pengunjung yang ingin berekreasi pantai.

Bagaimana Cara Anda Kesana..??

Pulau Lembata
Walaupun ada beberapa alternative untuk bisa menginjakkan kaki di Pulau Lembata, namun saat ini belum sebanyak pilihan dan tidak segampang mencapai kabupaten lain yang ada di P.Floresh.  Hal yang paling penting adalah harus terlebih dahulu mengatahui skedul penerbangan ke sana bila mau langsung ke P.Lembata.

Untuk mengetahui info ini bisa melalui internet atau kontak langsung ke Perwakilan Merpati Air Line atau Travel Agent Terdekat. Karena satu-satunya “air line” yang melayani rute Kupang – Pulau Lembata hanya Merpati Air Line dengan skedul hari Selasa (1 kali perminggu), langsung pergi pulang di hari yang sama. Dari Kupang jam 09.00 Wita , untuk rute ini perjalanan dapat ditempuh hanya ± 45 menit. Setelah bongkar muat beberapa saat kemudian pesawat tsb kembali lagi ke Kupang. Jangan membayangkan naek Boing 747, tapi Twin Otterlah dengan baling-baling yang suaranya  merdulah yang ada.

Pulau Lembata
Bagi Anda yang suka berpetualang dengan perjalanan laut beserta alunan ombaknya. Bisa menumpang Kapal Feri dari Pelabuhan Bolok Kupang menuju P.Lembata, dapat ditempuh selama ± 8 – 12 jam dengan ongkos Rp 80.000′-. Ada lagi alternative perjalanan yang lebih komplet, seperti yang Aku pilih kali ini, karena ke Pulau Lembata tidak bertepatan dengan skedul Merpati. Dari Kupang naek pesawat Merpati ke Maumare, berangkat jam 6.00 WITA waktu tempuh ± 45 menit.

Setelah selesai mengambil bagasi, perjalanan dilanjutkan dengan Carter Taxi rute Maumare – Larantuka dengan biaya Rp 450.000,- tergantung kepiawaian bernegosiasi,- atau kalau mau irit lagi bisa naik bus reguler dengan ongkos yang lumayan murah. Umumnya pengertian taxi disini adalah mobil-mobil minibus (Kijang, Panther atau sejenisnya) yang disewakan dan masih berplat hitam.

Dengan moda tranportasi ini  perjalanan ditempuh selama 4 jam sampai ke Larantuka. Perjalanan maseh dilanjutkan dengan Bus Laut isitilah penduduk lokal untuk menyebut Perahu Motor (Boat Kayu) yang melayani rute Larantuka – Pulau Lembata, cukup merogoh kocek Rp 30.000 dengan waktu tempuh ±  4 jam sampailah di “Surga Terakhir di Ujung Timur  NTT” ini.

Bagaimana Dengan Akomodasinya..??

menginap disebuah hotel sederhana. Hotel ini terletak di salah satu sudut Kota Lewoleba ibukota Kabupaten Lembata. Walaupun masih sederhana tapi terasa ”the realy lodging” tempat benar-benar untuk beristirahat, tanpa kebisingan.  Bila tidak ada jemputan, untuk mencapai penginapan ini Anda bisa naik ojek dari pelabuhan Lewoleba,  cukup dengan membayar Rp 5000 saja.  Sampai saat ini belum ada Taxi khusus di kota kecil  ini. Sulitnya transportasi untuk masuk dan  keluar dari pulau ini tidak akan menjadi kendala berarti, bila tujuannya untuk menangkan diri dan jauh dari hingar-bingar kota di P.Pulau Lembata-lah tempatnya.

Kapan Sebaiknya Anda Kesana..??

Musim Kunjungan Terbaik Di Mungkinkan Sepanjang Tahun .

Know Before You Go..!!

    Kiwanen dan Watenen adalah sebutan orang Lamaholot kepada dua penganut agama besar di Kabupaten Lembata. Kiwan berarti gunung, jika ditambah akhiran “en” kata kiwan akan berubah arti menjadi orang gunung atau orang pedalaman. - 
    Sedang Watan atau watanen merupakan kebalikan dari kiwan atau kiwanen. Dalam bahasa lamaholot, sebutan kiwanen dan watanen merupakan istilah atau sebutan bagi kaum penganut ajaran agama Katolik dan Islam. 
    Kiwanen adalah sebutan bagi kaum penganut ajaran Katolik, hal ini dikerenakan orang katolik rata-rata berdomisili di wilayah pedalaman, atau biasanya pada kampung-kampung tertentu masyarakat katolik memilih tinggal sedikit menjauh dari pesisir pantai. Pilihan tempat tinggal bagi masyarakat penganut agama katolik ini, di pandang cocok karena kebanyak orang katolik bermata pencharian sebagai petani. 
    Hal ini berbanding terbalik dengan masyarakat penganut ajaran muslim. Rata-rata penganut muslim di Lembata memilih tinggal di pesisir pantai, kerana muslim Lembata melekat dengan mata pencharian nelayan. Sumber sejarahwan mengatakan istilah watanen dan kiwanen mulai dikenal sejak dua agama besar ini masuk di Lembata. 
    “Ada istilah Solor Watan Lema (Solor lima pantai-red) merupakan sebutan bagi komunitas kerajaan muslim yang bernaung dibawah raja Larantuka,” kata sejarahwan Lebala, Sujudin Mayeli. Kerajaan yang tergabung dalam komintas Solor Watan Lema, adalah adalah, Kerajaan Lohayong, Kerajaan Terong, Kerajaan Lamahala, kerajaan Lamakera, empat kerajaan ini sekarang berada dalam wilayan administrasi kepemerintahan kabupaten Flores Timur, dan satu-satunya kerajaan di Lembata sebagai sebuah kerajaan Islam, adalah Kerajaan Lebala. 
Bagaimana sahabat TravelEsia Apakah Anda Ingin Menyibak Sejuta Pesona Nusa Tenggara Timur,Jika Anda Berkunjung ke Nusa Tenggara Timur sempatkanlah Mengunjungi Keindahan Pulau Lembata, Taman Nasional Menepue Tanah Daru , Taman Nasional Laiwangi Wanggameti , Danau Weekuri , Pulau Adonara , Taman laut 17 Pulau Riung Mari Kita Dukung Indonesia Sebagai Destinasi Wisata Dunia.
,


Taman Nasional Laiwangi Wanggameti : Menelisik Habitat Endemik Kupu-Kupu Pulau Sumba

Taman Nasional Laiwangi Wanggameti - Sumba Timur - Taman Nasional Laiwangi Wanggameti. Sahabat TravelEsia Kali Ini TravelEsia Ingin Membahas mengenai salah satu Taman Nasional yang memiliki habitat endemik Kupu-kupu terbanyak di indonesia,Taman nasional Itu Adalah Taman Nasional Laiwangi Wanggameti.
Taman Nasional Laiwangi Wanggameti

Taman Nasional Laiwangi Wanggameti

adalah salah satu Kawasan Pelestarian Alam di Indonesia tepatnya di Pulau Sumba.secara geografis terdiri dari hamparan berbukit, lembah, dan undulating (bergelombang); dikenal ada kelompok hutan yakni kelompok hutan Laiwangi Wanggameti (RTK 50).

Pada umumnya keadaan topografi di Taman Nasional Laiwangi Wanggameti berbukit, dengan memiliki lereng-lereng agak curam sampai sangat curam. Topografi yang agak datar sampai bergelombang terdapat di bagian tenggara dan selatan, sedangkan di bagian barat dan timur mempunyai topografi berbukit sampai bergunung dengan memiliki lereng-lereng agak curam sampai sangat curam.

Berdasarkan Peta Kelas Lereng Pulau Sumba skala 1 : 500.000, kawasan Taman Nasional Laiwangi Wanggametitermasuk dalam kelas lereng 3 yaitu agak curam (15%-25%), kelas lereng 4 yaitu curam (25%-45%) dan kelas lereng 5 yaitu sangat curam (≥ 45%). Gunung-gunung yang terdapat dalam Taman Nasional Laiwangi Wanggameti antara lain :
Kabupaten Sumba Timur memiliki 7 Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu :
 DAS Kambaniru 111.000 Ha, DAS Kaliongga 55.000 Ha, DAS Melolo 45.000 Ha, DAS Kadahang 40.000 Ha, DAS Nggongi 26.000 Ha, DAS Tidas 33.000 Ha dan DAS Watumbaka 23.000 Ha.

Sejarah Pembentukan Kawasan

Tahun 1983 berdasarkan TGHK melalui SK Menhut No. 89/Kpts-II/1983 tgl 2 Desember 1983 telah ditetapkan 1. 667.962 ha hutan sebagai hutan tetap di propinsi Nusa Tenggara Timur. Pada Tahun Anggaran 1984/1985 dilaksakan kegiatan Pengukuhan Kelompok Hutan Laiwangi Wanggameti (RTK 50) oleh Sub Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan Kupang bekerja sama dengan Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan Wilayah VIII Denpasar dengan hasil panjang batas luar 125,2 Km dan luas definitif 42.567,50 Ha. 

Taman Nasional Laiwangi Wanggameti
Berita Acara Tata Batas kelompok hutan Laiwangi Wanggameti (RTK 50) baik di tingkat Kabupaten, Propinsi dan Pusat sudah dapat diselesaikan dan disahkan oleh Menteri Kehutanan tanggal 21 Januari 1986. Berdasarkan SK Menhutbun No. 576/Kpts-II/1998, Menhutbun menunjuk Taman Nasional Laiwangi Wanggameti.yang berasal seluruhnya dari RTK 50 seluas 47.014 ha, tetapi di dalam SK Taman Nasional Laiwangi Wanggameti ini tidak menyebutkan adanya “enclave” yang faktanya ada 2 desa di dalam kawasan yakni Ramuk dan Katikuai. 

Terhitung tahun 2006/2007 desa Ramuk telah mekar menjadi 2 (dua) desa yakni desa Mahaniwa dan desa Ramuk, luas desa enclave ini + 4.447 ha. Kedua desa Ramuk dan desa Katikuai dipandang sebagai kantong penduduk dan selanjutnya perlu klarifikasi penetapan enclave lewat proses tata batas definitif Wanggameti.

Mengapa Saya Harus Kesana ?

Taman Nasional Laiwangi Wanggameti
Laiwangi Wanggameti adalah kawasan hutan yang kaya akan keanekaragaman hayati (biodiversitas) flora dan fauna. Kelompok ini terdiri dari fauna mamalia termasuk 22 spesies, termasuk rusa (Cervus timorensis) dan babi hutan (Sus scrofa). Selain itu juga telah teridentifikasi 72 jenis kupu-kupu, 7 macam Amphibia, dan 4 jenis reptilia.

Jenis fauna liar yang telah diidentifikasi adalah burung, tercatat 215 spesies, ada delapan jenis di antaranya spesies endemik Sumba, seperti Julang Sumba (Aceros everetti), Kakatua Jambul jingga (Cacatua sulphurea citrinoristata ), gemak Sumba (Turnix everetti), Punai Sumba (Treron teysmani), Walik rawamanu (Ptilonopus dohertyii), Sesap madu Sumba (Nektarina buettikoferi), sikatan Sumba / sikatan Sumba (Ficedula Harteti) dan Punggok Wengi (Ninox Rudolffi).

Kelompok flora yang ada diantaranya adalah Injuwatu (Pleiogynium timoriense), Kaduru (Palaquium sp), Tera (Artocarpus sp.) Lobung (Decaspermium sp.) Walakiri (Erythrina subumbrans), Mara (Tetrameles nudiflora), Wangga (Ficus sp.), Kahembi (Schleichera oleosa), Hurani (Toona sureni), Cendana (Santalum album), Jarik omang (Citrus sp), Kaninggu (Cinnamomum sp) dan masih banyak lainnya.

Taman Nasional Laiwangi Wanggameti
tidak hanya itu,Objek dan Daya Tarik Wisata Alam diantaranya berupa panorama bentang alam yang indah, air terjun yaitu air terjun Laputi, air terjun Tawui, air terjun Kanabuai, air terjun Kahalatau, wisata bird watching. Selain itu terdapat sebuah danau yang oleh masyarakat setempat dianggap sebagai tempat yang keramat dan terdapat belut keramat “Apu” (Apu : nenek, dalam bahasa Sumba).

Potensi budaya yang ada di dalam maupun di luar kawasan adalah budaya batu Megalitik berupa makam yang sangat unik dan khas dan hanya ada di pulau Sumba. Di antara batu-batu kuburan dan kepercayaan masyarakat megalitik yang masih percaya pada kekuatan alam "Marapu". Budaya tersebut masih dilakukan / ada sampai saat ini. Terdapat pula mamoli yang merupakan perhiasan khas Sumba yang terbuat dari emas dan umumnya digunakan untuk upacara/ritual masyarakat adat.

Bagaimana Cara Saya Kesana ?

Taman Nasional Laiwangi Wanggameti
Untuk menuju Taman Nasional Laiwangi Wanggameti dapat ditempuh dengan menggunakan berbagai sarana transportasi / armada. Transportasi yang tersedia untuk pengunjung meliputi:
1. Jalan laut KM Ferry - ASDP: 
Kupang-Ende-Waingapu dengan waktu tempuh ± 36-jam Kupang-Aimere-Waingapu dengan waktu tempuh ± 32 jam. 
2. Pelni PT Pelni: 
Kupang-Ende-Waingapu dengan ± 22-jam waktu perjalanan Benoa-Waingapu dengan waktu tempuh selama ± 18 jam
3. Jalur Udara Batavia Air: Denpasar-Kupang-Waingapu dan memakan waktu sekitar 2 jam & jadwal penerbangan setiap Senin, Rabu dan Jumat dengan biaya ± Rp 930.000,- atau $100.
Merpati Airlines: Denpasar-Waingapu dengan jadwal penerbangan Selasa, Kamis dan Sabtu dengan waktu tempuh ± 50 menit dengan biaya ± Rp 600.000,- atau $ 69
Merpati Airlines: Denpasar-Tambolaka dengan jadwal penerbangan Selasa, Kamis, Kamis dan Sabtu dengan biaya ± Rp 630.000,- atau $70.
Kemudian dihubungkan oleh jalan darat dengan menggnakan travel dengan waktu tempuh sampai kota Waingapu ± 4 jam. 4. Rute menuju Taman Nasional Laiwangi Wanggameti dapat dicapai melalui:
Akses jalan 
1. Waingapu->Simpang Praipaha-Simpang Tarimbang->Karita->Tabundung->Wudipandak->Praingkareha (± 150 km).
2. Waingapu->Simpang Kawangu->Tanarara->Wanggameti (± 120 km)
3. Waingapu->Melolo->Kananggar->Nggongi (± 150 km)                

Bagaimana Dengan Akomodasinya..??

Taman Nasional Laiwangi Wanggameti
Mengingat tujuan pengelolaan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti sebagai kawasan pelestarian alam untuk tujuan pelestarian sumber daya hayati dan keseimbangan ekosistemnya sehingga diperlukan sumberdaya manusia dengan kualitas dan kuantitas yang memadai. Sumber daya manusia yang ada di Taman Nasional Laiwangi Wanggameti terdiri dari jabatan struktural, jabatan non struktural, pejabat fungsional (Pengendali Ekosistem Hutan, Polisi Kehutanan, Penyuluh Kehutanan) dan pegawai kontrak. Kondisi jumlah pegawai pada akhir Maret 2011 sejumlah 51 orang dengan latar belakang pendidikan dan daerah asal yang berbeda .

Bagi sahabat TravelEsia Yang ingin Mengunjungi Taman Nasional Laiwangi Wanggameti dan ingin mendapatkan akomodasi dapat Menghubungi Kantor Balai Taman Nasional Laiwangi Wanggameti Jln. Adam malik Km 5 Kambajawa, Waingapu, Nusa tenggara Timur Kode Pos 87117 Telp. / Fax: (0387) 61 940

Kapan Sebaiknya Saya Kesana ?

Untuk Sahabat TravelEsia Yang Ingin Berkunjung ke Taman Nasional Laiwangi Wanggameti Waktu berkunjung terbaik: Bulan Maret hingga Juni, dan Bulan Oktober hingga Desember
Suhu: 26 ° – 31 ° C
Curah hujan: 1.900 mm / tahun (rata-rata)
Ketinggian: 0 – 1.225 m dpl.
Letak geografis: 120 ° 00 ‘- 120 ° 22′ E; 9 ° 58 ‘- 10 ° 11′ S

Know Before You Go...!!!!


Taman Nasional Laiwangi Wanggameti

  • Tercatat sebanyak 43 jenis kupu-kupu termasuk tiga jenis endemik di Nusa Tenggara yaitu kupu-kupu halipron (Troides haliphron naias), Elimnias amoena, Sumalia chilo, Ideopsis oberthurii, dan Athyma karita.  
  • Di sini Anda dapat menikmati beragam jenis flora dan fauna liar, termasuk yang berstatus langka, dilindungi maupun yang keberadaannya masih melimpah. Habitat di taman nasional ini letak geomorfologinya dan keindahan alamnya masih dalam keadaan utuh terjaga. Oleh karena itulah,Taman Nasional Laiwangi Wanggameti merupakan habitat bagi sejumlah hewan dan tumbuhan yang dilindungi.
Jadi bagaimana Sahabat TravelEsia Apakah Anda tertarik Untuk Menelisik Habitat Endemik Kupu-Kupu Pulau Sumba,Jika Anda Berkunjung ke provinsi Nusa Tenggara ,Jadikanlah Taman Nasional Laiwangi Wanggameti , Taman Nasional Manupeu Tanah Daru , Danau Weekuri ,Taman 17 Pulau Riung , Pulau Rote , Pulau Kanawa , Pulau Adonara , Sebagai Destinasi Wisata Anda.mari Kita Dukung Indonesia Untuk Menjadi destinasi Wisata Dunia.
,


Taman Nasional Manupeu Tanah Daru : Panorama Alam Dengan Deburan Ombak Yang Memutih

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru - Sumba Tengah - Taman Nasional Manupeu Tanah Daru Merupakan Pembahasan Sahabat TravelEsia Megazine Kali Ini.Taman Nasional Manupeu Tanah Daru Memiliki keunikan tersendiri di bandingkan dengan taman nasional yang ada di indonesia.Keunikannya terletak tidak hanya pada flora yang tumbuh di hutannya,melainkan keindahan pantai dan lautnya menambah keeksotisan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru

secara geografis terletak pada 9°35’ - 9°53’ LS, 119°29’ - 119°53’ BT berada pada ketinggian 0-918 m yang dibatasi oleh sebelah Utara Kecamatan Umbu Ratunggay Barat, Desa Maradesa (Kabupaten Sumba Tengah), sebelah Selatan Samudera Indonesia, sebelah Barat Kecamatan Wanokaka, Desa Katikuloku (Kabupaten Sumba barat), dan sebelah Timur Kecamatan Lewa (Kabupaten Sumba Timur).

Sedangkan secara administratif kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru berada pada tiga wilayah kabupaten yaitu Kabupaten sumba Barat, Kabupaten Sumba Tengah dan Kabupaten Sumba Timur. Taman Nasional Manupeu Tanah Daru berdasarkan SK Menhut Nomor SK.576/Kpts-II/98 memiliki luas 87.984,09 hektar. Kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru (TNMT) merupakan penggabungan beberapa kawasan hutan, yaitu Hutan Lindung Manupeu (9.500 hektar), Hutan Lindung Tanadaru-Praimamongutidas (43.750 hektar), Hutan Produksi Terbatas Praingpalindi-Tanadaru (10.534 hektar), dan Cagar Alam Langgaliru (24.750 hektar).

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru merupakan perwakilan hutan musim semi-peluruh dataran rendah yang tersisa di Sumba. Sebagian besar kawasan hutan di taman nasional tersebut berupa tebing-tebing terjal, yang muncul mulai dari permukaan laut sampai ketinggian 600 meter.

Mengapa Saya Harus Kesana ?

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru
Kawasan ini memiliki tipe-tipe vegetasi berupa hutan primer, hutan sekunder yang juga umumnya merupakan hutan musim, padang alang-alang dan semak, maupun padang rumput dan bekas lahan pertanian masyarakat yang telah ditinggalkan. Tipe habitat hutan juga cukup bervariasi, seperti hutan pantai dan mangrove di sebagian pesisir dan muara sungai. Namun sebagian besar merupakan hutan dataran rendah (0-950 meter di atas permukaan laut) dalam bentuk blok hutan utuh/besar ataupun.

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru memiliki keanekaragaman jenis bernilai tinggi yaitu sekitar 118 jenis tumbuhan diantaranya suren (Toona sureni), taduk (Sterculia foetida), kesambi (Schleichera oleosa), pulai (Alstonia scholaris), asam (Tamarindus indica), kemiri (Aleurites moluccana), jambu hutan (Syzygium sp.), cemara gunung (Casuarina sp.), dan lantana (Lantana camara).

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru
Satwa yang ada pada kawasan taman nasional ini sebanyak 87 jenis burung termasuk 7 jenis endemik pulau Sumba yaitu kakatua cempaka (Cacatua sulphurea citrinocristata), julang Sumba (Rhyticeros everetti), punai Sumba (Treron teysmannii), sikatan Sumba (Ficedula harterti), kepodang-sungu Sumba (Coracina dohertyi), dan madu Sumba (Nectarinia buettikoferi). Burung julang sumba dan kakatua cempaka merupakan burung yang paling langka dan terancam punah khususnya di Pulau Sumba.

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru memiliki 57 jenis kupu-kupu termasuk tujuh endemik Pulau Sumba yaitu Papilio neumoegenii, Ideopsis oberthurii, Delias fasciata, Junonia adulatrix, Athyma karita, Sumalia chilo, dan Elimnia amoena.

Potensi Wisata Alam

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru
Taman Nasional Manupeu Tanah Daru (TNMT) secara geografis terletak pada 9°35’ - 9°53’ LS, 119°29’ - 119°53’ BT berada pada ketinggian 0-918 m yang dibatasi oleh sebelah Utara Kecamatan Umbu Ratunggay Barat, Desa Maradesa (Kabupaten Sumba Tengah), sebelah Selatan Samudera Indonesia, sebelah Barat Kecamatan Wanokaka, Desa Katikuloku (Kabupaten Sumba barat), dan sebelah Timur Kecamatan Lewa (Kabupaten Sumba Timur). Sedangkan secara administratif kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru berada pada tiga wilayah kabupaten yaitu Kabupaten sumba Barat, Kabupaten Sumba Tengah dan Kabupaten Sumba Timur.

Kawasan ini memiliki tipe-tipe vegetasi berupa hutan primer, hutan sekunder yang juga umumnya merupakan hutan musim, padang alang-alang dan semak, maupun padang rumput dan bekas lahan pertanian masyarakat yang telah ditinggalkan. Tipe habitat hutan juga cukup bervariasi, seperti hutan pantai dan mangrove di sebagian pesisir dan muara sungai. Namun sebagian besar merupakan hutan dataran rendah (0-950 meter di atas permukaan laut) dalam bentuk blok hutan utuh/besar ataupun.

Kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru merupakan habitat terpenting bagi burung-burung di Sumba. Catatan Burung Indonesia menunjukkan, di dalam kawasan ini terdapat paling tidak 120 jenis burung yang meliputi 48 keluarga. Tutupan hutan di kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru merupakan salah satu dari sedikit daerah berhutan yang tersisa di Pulau Sumba. Beberapa blok hutan di dalam kawasan sudah terfragmentasi. Dalam kondisi dikelilingi oleh pemukiman dan lahan pertanian masyarakat, Manupeu Tanadaru menjadi salah satu pertahanan terakhir habitat alami burung-burung di Sumba. 

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru
Tidak Hanya Itu,Air terjun yang berada di kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru ini mempunyai keunggulan berupa keindahan dari lintasan air yang bertingkat-tingkat sehingga menebarkan butiran air ke berbagai arah. Debit air yang selalu stabil di sepanjang musim menyusun indahnya lumut dan tumbuhan yang menghijau di sekitar objek air terjun.

Hal yang dapat dilakukan adalah menikmati indahnya air terjun dengan berfoto, melakukan pijat air dan merasakan dinginnya air dengan mandi pada sekitar air terjun yang relatif aman bagi pengunjung.

Perjalanan menuju air terjun Laipopu ini memberikan tantangan tersendiri dimana setiap wisatawan yang akan mencapai objek ini dihadapkan pada jembatan gantung yang terbuat dari bambu, menyusuri lintasan berair dan melewati tegakan yang tersusun dari pohon-pohon berkayu. untuk mencapai Air Terjun Laipopu dapat ditempuh kurang lebih 45 menit dari pemukiman penduduk melalui trail yang variatif.

potensi lain yang dapat dinikmati wisatawan adalah habitat burung kakatua,bentang sawah dan hasil kerajinan masyarakat desaKatikuloku berupa kain tenun dan anyaman.

Air Terjun Laipopu:

Taman Nasional Manupeu Tanah DaruTaman Nasional Manupeu Tanah Daru ini mempunyai keunggulan berupa keindahan dari lintasan air yang bertingkat-tingkat sehingga menebarkan butiran air ke berbagai arah. Debit air yang selalu stabil di sepanjang musim menyusun indahnya lumut dan tumbuhan yang menghijau di sekitar objek air terjun.
Air terjun yang berada di kawasan

Hal yang dapat dilakukan adalah menikmati indahnya air terjun dengan berfoto, melakukan pijat air dan merasakan dinginnya air dengan mandi pada sekitar air terjun yang relatif aman bagi pengunjung.

Perjalanan menuju air terjun Laipopu ini memberikan tantangan tersendiri dimana setiap wisatawan yang akan mencapai objek ini dihadapkan pada jembatan gantung yang terbuat dari bambu, menyusuri lintasan berair dan melewati tegakan yang tersusun dari pohon-pohon berkayu. untuk mencapai Air Terjun Laipopu dapat ditempuh kurang lebih 45 menit dari pemukiman penduduk melalui trail yang variatif.

potensi lain yang dapat dinikmati wisatawan adalah habitat burung kakatua,bentang sawah dan hasil kerajinan masyarakat desaKatikuloku berupa kain tenun dan anyaman.

Akses menuju lokasi air terjun relatif mudah, dari Waikabubak dapat menuju Desa Katikuloku dengan angkutan umum selama kurang lebih 60 menit. Jalan yang dilalui berupa jalan aspal dan jalan perkerasan. Sedangkan wisatawan dari Kota Waingapu dapat melalui rute Waingapu-Waikabubak-Katikuloku dengan menggunakan jalan darat.

Air Terjun Matayangu:

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru
Terletak dekat dengan Desa manurara dan merupakan sebuah tempat bagi orang Marapu beribadah dan dikeramatkan. matayangu berarti "berhenti disini", tempat ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya arwah-arwah leluhur orang Marapu.Air terjun ini menyuguhkan keindahan air terjun setinggi 100 m dengan susunan bebatuan dibawahnya yang membentuk kolam-kolam kecil yang dapat digunakan untuk pemandian. selain itu, air terjun ini menyimpan history/cerita tentang makam lama yang tersembunyi pada sebuah gua kecil yang letaknya di balik air terjunnya. gua tersebut diyakini sebagai makam lama yang menyimpan benda-benda bersejarah.

Perjalanan menuju melewati padang savana dan hutan primer selama kurang lebih 1 jam 30 menit, dimana pengunjung dapat menyaksikan sarang aktif dari jenis-jenis burung paruh bengkok sepert Kakatua jambul-jingga dan Nuri bayan.

Pengunjung dapat melakukan aktivitas berendam, mandi atau sekedar duduk-duduk di atas bebatuan disekitar air terjun. Bebatuan disekitar air terjun berfungsi sebagai penahan air dan sekat-sekat. Kelembaban yang tinggi menyebabkan bebatuan banyak ditumbuhi oleh vegetasi lumut.
Akses menuju lokasi dapat ditempuh dengan jalan darat melalui rute Waikabubak-Waibakul (Kab. Sumba Tengah) - Desa Manurara berupa jalan aspal dan perkerasan. Sedangkan wisatawan dari Kota Waingapu dapat melalui rute Waingapu-Waibakul-Desa Manurara.

Pantai Di Wilayah Konda Maloba:

Taman Nasional Manupeu Tanah DaruBarisan pantai Konda Maloba terletak di Kecamatan Katikutana, Kabupaten Sumba Tengah merupakan obyek wisata dengan pesona yang berbeda, ombaknya begitu tenang sehingga membuat aktivitas disekitarnya menjadi nyaman. Laut yang tenang dengan air laut yang jernih, menjadi tempat bermain berbagai jenis ikan. Gargahing, kerapu merah dan putih serta berbagai jenis ikan lain terdapat di lautan itu.

Di pantai ini, juga menyimpan misteri sebuah batu kubur pada pulau kecil yang berada kurang lebih 2 mil dari pantai itu. Kubur yang disebut ‘Kubur Appu Ladu’ (nenek matahari), ini belum banyak orang yang tahu. Untuk menikmati indahnya panorama alam dengan deburan ombak yang memutih, kita bisa mengikuti jalur jalan Taman Mas, lokasi pemukiman masyarakat adat terpencil, juga melalui Pantai Wanokaka, di Kabupaten Sumba Barat.

Bentuk pantai ini landai dan memiliki garis pantai yang panjang. Di bagian luar pantai ini terdapat hutan mangrove yang merukapan habitat berkembang biaknya udang,kepiting dan burung-burung laut.

Beberapa barisan pantai di wilayah Konda Maloba yaitu : Pantai Maloba, Pantai Aili, Pantai Marabakul, Pantai Hipi dan Pantai Konda.

Akses menuju wilayah ini dapat ditempuh dengan jalan darat melalui Waikabubak-Waibakul-Taman Mas-Dusun Maloba atau Dusun Konda dan jalan darat merupakan kombinasi aspal dan perkerasan melintasi kawasan Taman Nasional.

Pantai Aili:

Pantai yang merupakan salah satu barisan pantai di kawasan Konda Maloba dengan pesona pasir putih yang menawan. Pengunjung dapat menikmati butiran pasir putih di sepanjang pantai, butirannya yang halus menampak kesan eksotis di pantai ini.Pengunjung dapat bermain pasir dan berjemur di pantai ini.

Potensi Gua

Gua di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru
berdasarkan kondisi geologi dan geomorfologi kawasan tnmt pada beberapa wilayah tersusun oleh satuan batuan gamping (limestine), beberapa kawasan berpotensi membentuk kawasan karst melalui proses karstifikasi selama jutaan tahun dalam satuan ruang dan waktu. Kartifikasi adalah proses utama pembentukan gua-gua yang menyebar di dalam kawasan. Gua-gua yang terdapat di kawasan merupakan laboraturium alam yang mempunyai arti penting dalam pengendalian kesimbangan alam,kepentingan ilmiah, sumberdaya air dan wisata dalam pengembangan sebuah kawasan untuk kepentingan konservasi dan pemberdayaan masyarakat.

Liang bakul merupakan salah satu gua yang berada di desa umbulangang. Entrance terbentuk dari runtuhan atap gua.lorong kering hanya merupakan koridor untuk menuju ke sistem lorong utama liang bakul yang masih aktif yang dialiri sungai bawah tanah parennial. Perkembangan lorong gua dan ornament sangat aktif pada gua inni. Terdapat ornament flowstone dan stalaktit. Ujung lorong ini berakhir dengan inlet sump membentuk terjunan pada ornament gua flowstone. Terdapat 2 terjunan air pada ornamet flowstone.

Gua Kanabuwulang

Gua kanabuwulang
Gua Kanabuwulang merupakan gua yang berda di Desa Kambatawundut. Kondisi bentang alam di sekitar gua sangat ideal. dilihat dari kondisinya yang berupa cekungan besar dan pada dinding karstnya terdapat mulut gua. Sehingga jika dilihat dari tengah-tengah cekungan tersebut akan nampak begitu megahnya pemandangan sekitar. 

Latar pemandangan seperti ini menarik untuk dijadikan kegiatan fotografi. Selain keindahan pemandangannya jika datang musim hujan air mengalir keluar dai mulut goa pada ketinggian sekitar 30 m. Hal ini akan menjadikan tontonan menarik bagi pengunjung yang datang.

FLORA

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru
Pada tahun 2006 hutan rapat yang tersisa di Pulau Sumba hanya sekitar 10% dari luas daratan Pulau sumba. Salah satu bagian hutan yang masih memiliki fungsi utamanya adalah kawasan hutan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dimana 63% berada di wilayah Kabupaten Sumba Tengah. Degradasi kawasan hutan terjadi karena adanya kegiatan pembakaran padang rumput dan perladangan berpindah. degradasi hutan secara lambat ataupun cepat akan menyebabkan perbedaan sumber pendukung kehidupan jenis burung dan satwa lain khususnya bagi kelangsungan hidup terutama ketersediaan pakan dan tempat bersarang.

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru memiliki tipe vegetasi yang merupakan Hutan Hujan Semi Awet Hijau, Hutan Primer, dan Hutan Musim Perbukitan. Di kawasan TNMT memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi serta mendukung jenis-jenis flora dan fauna endemik khususnya burung. Beberapa jenis flora yang ada antara lain : Marra (Trameles nudiflora R. Br.), Delo Metung (Palaquium sp.), Injuwatu (Pleiogynium timoriense DC. Leenh), Kaduru Bara (Palaquium obtusifolium Burck), Manera (Aglaia eusideroxylon K. et. V.), Nggoka Bara (Chinocheton sp)., Ulukataka (Agalia odoratissima BI), Kesambi (Schleicera oleosa), serta jenis rumput-rumputan seperti Alang-alang (Imperata cylindrica L. Beauv) dan Lantana (Lantana camara). Pada lokasi Praimahala juga ditemukan habitat tumbuh bunga bangkai (Amorphopallus sp.) yang berkembang dengan umbi dan masa tumbuh tanaman ini bisa mencapai 3-5 tahun.

Bagaimana Cara Saya Kesana ?

Akses ke Taman Nasional Manupeu Tanah Daru
Untuk mencapai Mutis perjalanan dimulai dari Kota Kupang menuju SoE, kota Kabupaten Timor Tengah Selatan dengan jarak 110 km dan waktu tempuh kurang lebih 2,5 jam. Dari SoE, perjalanan dilanjutkan dengan menumpang bus menuju Kapan, Kota Kecamatan Mollo Utara. Dari Kapan, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Fatumnasi, sebuah desa yang berada di lereng Gunung Mutis dan merupakan pintu masuk untuk memasuki kawasan wisata ini. Perjalanan sejauh 15 km dengan menggunakan bus tersebut akan mengantarkan pengunjung memasuki kawasan wisata Gunung Mutis yang sungguh mempesona itu.

Akses menuju wilayah ini dapat ditempuh dengan jalan darat melalui Waikabubak-Waibakul-Taman Mas-Dusun Maloba atau Dusun Konda dan jalan darat merupakan kombinasi aspal dan perkerasan melintasi kawasan Taman Nasional.

Akses menuju lokasi dapat ditempuh dengan jalan darat melalui rute Waikabubak-Waibakul (Kab. Sumba Tengah) - Desa Manurara berupa jalan aspal dan perkerasan. Sedangkan wisatawan dari Kota Waingapu dapat melalui rute Waingapu-Waibakul-Desa Manurara.

Perjalanan menuju melewati padang savana dan hutan primer selama kurang lebih 1 jam 30 menit, dimana pengunjung dapat menyaksikan sarang aktif dari jenis-jenis burung paruh bengkok sepert Kakatua jambul-jingga dan Nuri bayan.

Akses menuju Air Terjun Matayangu lokasi relatif mudah, dari Waikabubak dapat menuju Desa Katikuloku dengan angkutan umum selama kurang lebih 60 menit. Jalan yang dilalui berupa jalan aspal dan jalan perkerasan. Sedangkan wisatawan dari Kota Waingapu dapat melalui rute Waingapu-Waikabubak-Katikuloku dengan menggunakan jalan darat.

Bagaimana Dengan Akomodasinya..??

Taman Nasional Manupeu Tanah Daru Terletak di wilayah pedalaman sehingga fasilitas untuk pengunjung masih sangat terbatas. Akomodasi yang tersedia berupa homestay yang disediakan dan dikelola oleh masyarakat setempat.

Bila Ingin Menapatkan Informasi Lebih Lanjut Mengenai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dapat mengunjungi  Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru Jl. Jend. A. Yani Polu Bongga No.1. PO Box 153 Waikabubak, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

Kapan Sebaiknya Saya Kesana ?

Untuk Sahabat TravelEsia Yang Ingin Berkunjung ke Taman Nasional Manupeu Tanah Daru Musim kunjungan terbaik: bulan Maret s/d Juni dan Oktober s/d Desember setiap tahunnya.

Know Before You Go...!!!!

  • Tercatat sebanyak 43 jenis kupu-kupu termasuk tiga jenis endemik di Nusa Tenggara yaitu kupu-kupu halipron (Troides haliphron naias), Elimnias amoena, Sumalia chilo, Ideopsis oberthurii, dan Athyma karita.  
  • Di sini Anda dapat menikmati beragam jenis flora dan fauna liar, termasuk yang berstatus langka, dilindungi maupun yang keberadaannya masih melimpah. Habitat di taman nasional ini letak geomorfologinya dan keindahan alamnya masih dalam keadaan utuh terjaga. Oleh karena itulah,Taman Nasional Manupeu Tanah Daru  merupakan habitat bagi sejumlah hewan dan tumbuhan yang dilindungi.
  • Taman Nasional Manupeu Tanah Daru merupakan salah satu kawasan pelestarian alam dengan ekosistem asli dan merupakan habitat terakhir bagi burung jalak bali. Taman nasional ini memiliki keanekaragaman hayati laut seperti terumbu karang dan biota laut, memiliki vegetasi mangrove, hutan rawa payau, savana, serta hutan musim.
Jadi bagaimana Sahabat TravelEsia Apakah Anda tertarik Untuk Menjelajahi Panorama Alam Dengan Deburan Ombak Yang Memutih,Jika Anda Berkunjung ke provinsi Nusa Tenggara Timur,Jadikanlah Taman Nasional Manupeu Tanah Daru , Danau Weekuri ,Taman 17 Pulau Riung , Pulau Rote , Pulau Kanawa , Pulau Adonara , Sebagai Destinasi Wisata Anda.mari Kita Dukung Indonesia Untuk Menjadi destinasi Wisata Dunia.
,


Danau Weekuri : Menjelajahi Surga Tersembunyi Pulau Sumba

Danau Weekuri - Sumba Barat Daya - Danau Weekuri Memanglah danau yang tidak seluas dan termaksur seperti danau toba di sumatera utara,Namun keunikan dan keindahan danau ini dapat di sandingkan dengan danau-danau terkenal di indonesia.Danau Weekuri memiliki keunikan tersendiri,airnya yang asin namun bersih dan kebiruan,serta keanekaragaman hayati yang terkandung di Danau Weekuri membuat danau ini layak untuk Sahabat TravelEsia Kunjungi.
Danau Weekuri

Danau Weekuri

merupakan objek wisata di kawasan Kodi Utara dan berjarak ±60 km dari pusat ibu kota Kabupaten Sumba Barat Daya. Danau ini sangat cocok bagi para petualang karena untuk menuju Objek wisata ini pengunjung hanya dapat menggunakan kendaraan roda 2 atau berjalan kaki.Danau Weekuri ini merupakan salah satu objek wisata paling unik di Pulau Sumba karena air dari danau ini terasa asin, tidak seperti danau – danau lain yang airnya terasa tawar. Danau ini merupakan primadona objek wisata di Sumba Barat Daya karena jarang bisa menemukan danau dengan air asin serta dengan suasana alam yang begitu indah dan udara sejuk yang menenangkan hati.

Sahabat TravelEsia dapat dengan bebas berenang di danau ini, karena air yang tak berarus dan juga tidak dalam, sungguh sangat menyenangkan berada disana. Untuk menuju Danau Weekuri kita tidak akan menemukan papan penunjuk jalan apapun menuju kesana, satu satu nya cara adalah bertanya ke penduduk sekitar. Sepanjang perjalan menuju ke danau, kita akan disajikan rumah adat khas sumba yang sangat unik.

Mengapa Saya Harus Kesana ?

Danau Weekuri
Danau Weekuri merupakan danau air payau yang mungkin jarang sekali ditemukan di daerah lain di Indonesia. Air laut yang bersifat payau tertahan arusnya dan masuk melalui celah celah di tebing gamping yang seakan menjadi batas alami dengan laut, yang sering disebut sebagai morfologi lagoon. 

Selain air payau dari laut, di danau ini juga terdapat beberapa sumber mata air di beberapa tempat, sehingga  warna danau ini bervariasi, ada yang berwarna cerah, agak hijau, dan gelap, ada yang hangat, dan ada yang dingin. 

Itulah keunikan Danau Weekuri. Danau ini terletak sekitar 60 km dari ibu kota Kabupaten Sumba Barat Daya, Tambolaka. Tidak seperti danau-danau lainnya, air di Danau Weekuri terasa asin karena langsung datang dari laut. Air laut itu masuk ke sela gugus karang yang membentengi danau sehingga membentuk lingkaran besar menyerupai kolam raksasa dan ditumbuhi berbagai jenis tanaman tepi pantai.

Danau WeekuriTidak hanya itu, kesunyian yang justru menjadi suasana yang sering dicari-cari para pelancong. Pergi ke danau tersebut seperti menembus sebuah tempat yang penuh misteri.Di sini tidak ada warung makan. Rumah penduduk juga tidak terlihat sepanjang perjalanan setelah lepas dari jalan utama. Salah satu keuntungan keadaan seperti ini, pengunjung tidak akan menemukan sampah plastik atau sisa makanan di sekitar danau. Suasana terasa sangat asri dengan kesejukan alami. Padahal di Sumba, matahari terasa sangat dekat dengan ubun-ubun kepala, atau cuacanya cukup panas.

Di tebing-tebing karang tepi danau, pengunjung bisa menemukan semacam gua untuk berteduh. SH menemukan sisa-sisa api unggun yang dinyalakan pengunjung sebelumnya. Selain itu, pelancong bisa menikmati keindahan tebing-tebing karang di wilayah Weekuri ini. Kita hanya perlu berjalan kaki beberapa ratus meter ke barat, mengikuti arah bunyi debur ombak.Dinding karang yang menjorok ke lautan lepas tak bertepi dan debur ombak di bawahnya akan membuat kita merasa sedang berdiri di tepi batas Bumi.

Danau Weekuri
Akhirnya setelah puas menikmati Danau Weekuri dari dalamnya, Sahabat TravelEsia dapat mencoba naik ke atas bukit karang yang mengelilinginya. Mendaki perlahan menghindari batu karang yang lancip, mencoba menggapai puncak danau ini. 

Lautan luas di bawah anda menghantam tebing-tebing karang  dan mengikisnya perlahan. Padang rumput hijau yang begitu luas sangat kontras dengan birunya lautan didepan. Danau Weekuri tampak lebih biru dari atas bukit karang. titik-titik kecil di salah satu ujung danau seraya melambaikan tangan kepada sehabat TravelEssia sebagai isyarat  kepada anda untuk minta di diabadikan dari ketinggian.

Bagaimana Cara Saya Kesana ?

Danau Weekuri merupakan objek wisata di kawasan Kodi Utara dan berjarak ±60 km dari pusat ibu kota Kabupaten Sumba Barat Daya.Jalan raya yang tersedia ke arah Danau Weekuri sebagian telah beraspal. Namun, sebagian besar masih berupa pengerasan tanah. Di kiri-kanannya ada semak belukar menambah keeksotisan danau weekuri

Sepanjang perjalanan Sahabat TravelEsia akan di suguhkan keindahan alam yang membuat anda enggan untuk menutup mata dan di barengin decak kagum sebagai perwakilan expresi anda untuk keindahan alam Danau Weekuri.

Portal berwarna biru yang tak berfungsi menjadi pintu gerbang Danau Weekuri ,air berwarna biru kehijauan yang dikelilingi oleh karang-karang yang tinggi menjualang siap menyabut siapa saja yang datang untuk menjelajahi keindahan danau yang satu ini.

Bagaimana Dengan Akomodasinya ?

Danau Weekuri
Menjelang Danau Weekuri, di kiri jalan ada rumah panggung milik warga negara perancis yang mengelola salah satu pantai disini, yakni pantai Mandorak. 

Warga negara perancis yang kini berdomisili di Bali ini selain mengelola pantai mandorak juga turut menyejahterakan rakyat sekitar dengan membangun sekolah dan yayasan. Diharapkan pengelolaan ini bisa mengangkat derajat ekonomi dan pendidikan warga sekitar.

Kapan Sebaiknya Saya Kesana ?

Danau Weekuri
Danau Weekuri Dapat Dikunjungi Sepanjuang Tahun,Namun Mengingat Kondisi Cuaca Ada Baiknya Untuk Mengunjungi Pulau Yang Satu Ini Dilakukan Pada Bulan Januari hingga Agustus adalah bulan kunjungan terbaik dan Waktu yang tepat untuk datang ke sini adalah sore hari, sekitar pukul 16.00. Namun, jangan harap Sahabat TravelEsia bisa melihat matahari tenggelam di sini. 

Pemilihan waktu sekitar pukul 16.00 ini karena matahari sudah mulai condong ke barat dan langit menjadi lebih biru. Langit biru yang dipadukan dengan kejernihan danau inilah waktu yang tepat untuk dinikmati. 

Know Before You Go...!!!!

  • Sangat bijak bila Anda selalu menyediakan air untuk diminum dalam kemasan yang mudah dibawa.
  • Krim pelindung atau tabir surya hendaknya selalu dibawa dan dipakai sesuai kebutuhan karena di daerah ini udara sangat panas walau angin berhembus cukup menyegarkan.
  • Anda perlu juga membawa pelindung anti nyamuk.
  • Dinding karang yang menjorok ke lautan lepas tak bertepi dan debur ombak di bawahnya akan membuat kita merasa sedang berdiri di tepi batas Bumi.  
Jadi bagaimana Sahabat TravelEsia Apakah Anda tertarik Untuk Menjelajahi Surga Tersembunyi Pulau Sumba ini,Jika Anda Berkunjung ke Provinsi Nusa Tenggara Timur,khususnya Sumba Barat Daya.Jadikanlah Danau Weekuri , Pulau Rote , Taman Laut 17 Pulau Riung , Pulau Kanawa Sebagai Destinasi Wisata Anda.Mari Kita Dukung Indonesia Sebagai Destinasi Wisata Dunia
,


 

Manakah Destinasi Terbaik Di Indonesia

Support : Informasi lalu Lintas | | Traffic Information Center
Copyright © 2012 - 2017. Indonesia Tourism and Travel Information - Paket Wisata - Indonesia Tour Package - TravelEsia.Us - All Logos, Trademarks and Registered Trademarks Are The Property of TravelEsia Corporation.
Website Ini Dikelola Oleh : Devisi IT TravelEsia Published by TravelEsia Tour And Travel
Proudly powered by Flight And Hotel Search Engine